Little Bride

Little Bride
BAB 47



Keesokan paginya Elfaro bangun lebih awal dari Adira, ia menyiapkan sarapan dan juga merapihkan rumah. Bagi Elfaro pekerjaan rumah tangga itu di kerjakan bersama atau paling tidak bergantian, ia tak ingin membebani Adira untuk mengurus pekerjaan itu sendirian.


"Morning baby," sapa Elfaro saat melihat Adira mengucek-ngucek matanya sembari berjalan mendekat ke dapur.


"Morning," jawab Adira, ia nampak melihat sekeliling rumahnya yang terlihat lebih rapih dan bersih, ia juga melihat suaminya tengah sibuk di dapur. "Kamu yang ngerjain ini semua?" tanyanya seolah tak percaya.


Elfaro mengangguk. "Aku buatin sandwich special untukmu, ayo mandi. Habis itu kita sarapan sama-sama," perintah Elfaro.


"Nanti aja ah, masih setengah enam," tolak Adira. "Mending aku bantuin kamu buat sarapan," dari balik tubuh suaminya ia meraih satu lembar roti, namun dengan sigap Elfaro meraih tangan Adira. "Jangan, biar aku saja!" Tatapan mereka bertemu.


Elfaro menatap mata indah istrinya, kemudian pendangannya turun menelusuri hidung mancung Adira dan turun ke bibir merah merekah meski tanpa polesan lipstik. Elfaro menelan ludahnya untuk mengatasi rasa gugup yang menderanya, lantaran jantungnya berdegup dengan hebatnya.


Perlahan Elfaro mendekatkan wajahnya dan mendaratkan bibirnya di bibir Adira. Adira tak memberikan respon apa pun, hingga 10 detik barulah Elafaro menarik tubuhnya menjauh dari Adira. "Maaf..." Elfaro yang biasanya jahil namun kali ini malah terlihat salah tingkah.


"Kenapa minta maaf? Aku kan istrimu," ucap Adira tenang, meski dalam hatinya sangat gugup, dan jantungnya hampir copot mendapatkan ciuman pertamanya dari Elfaro.


Mata Elfaro berbinar, lalu ia kembali menarik pinggang Adira dan menciumnya lebih dalam lagi. Sesaat kemudian Adira memberanikan diri utnuk melakukan apa yang suaminya lakukan, ia menggerakan bibirnya. Adira merasakan ujung lidah Elfaro menyapu bibirnya satu kali, kemudian Elfaro melakukannya lagi, hingga akhirnya Adira juga menyapukan lidahnya dan lidah mereka bersentuhan.


Elfaro melepaskan ciumannya. "Apakah ini ciuman pertamamu?" tanyanya menatap Adira dalam-dalam.


Adira mengangguk malu-malu, membuat Elfaro semakin gemas di buatnya. "Kalau begitu kita sama," ia kembali mencium istrinya.


Pagi itu mereka membuat sarapan sembari tertawa dan berciuman. Bibir Adira bagai candu bagi Elfaro, ia selalu memiliki cara untuk bisa menikmati bibir mungil istrinya.


"Sandwichku sudah jadi, kamu mau coba?" ia memasukan sandwich buatannya ke mulut istrinya, tetesan saus yang tersisa di bibir Adira, Elfaro lap dengan bibir dan lidahnya.


"Elfaro..." Adira memukul lengan suaminya dengan manja, sebab ia hampir tak bisa makan karena Elfaro terus menciumnya.


Elfaro menatap Adira dalam-dalam, ia membelai lembut wajah Adira. “Dir, sekarang kamu sayang dan cinta enggak sama aku?” tanya Elfaro.


“Kenapa? Kok nanya gitu?”


“Kan dari awal kamu enggak cinta sama aku, kita selalu berantem kamu selalu kesel kalau liat aku, tapi kemudian kita di jodohkan sama orangtua kita, dan kamu mau enggak mau harus nerima perjodohan ini. Aku tahu waktu itu kamu enggak sayang dan cinta kan sama aku? kalau sekarang bagaimana perasaanmu?” tanya Elfaro kembali.


“Iya aku dulu emang sempat nolak perjodohan ini, aku juga enggak cinta dan sayang sama kamu. Tapi entah dari kapan rasa ini muncul El, aku sayang dan cinta sama kamu, El. Aku selalu merasa nyaman kalau di dekat kamu." Adira membalas tatapan dalam mata Elfaro.


“Kamu serius? sekarang kamu udah sayang dan cinta sama aku?” tanya Elfaro meyakinkan.


“Iya El, aku sayang banget sama kamu, aku ingin kita menua bersama,” Adira membelai wajah suaminya sambil tersenyum. “Kalu kamu sendiri bagaiman? Apa kamu juga sayang dan cinta sama aku?” tanya Adira.


“Iya pasti, aku sayang dan cinta sama kamu dari dulu, kamu inget nggak waktu kamu hilang saat camping, dari situ aku nggak tau kenapa tiba-tiba aku takut banget kehilangan kamu, aku enggak mau kamu kenapa-napa, aku berusaha sekuat tenaga aku buat cari kamu, walaupun aku tau saat itu kamu masih sama Alfino, tapi aku nggak peduli, yang aku pikirkan saat itu cuman bagaimana caranya aku bisa nemuin kamu,” ujar Elfaro.


“Trima kasih ya El, aku enggak tau kalau waktu itu nggak ada kamu, aku pasti udah di makan sama hewan buas yang ada di hutan,” jawab Adira.


“Aku janji akan selalu menjagamu."


"Sama-sama sayangku," Elfaro mengelus punggung Adira dengan lembut, namun kemudian mata Elfaro tertuju pada jam dinding yang berada di sudut dapur kediaman mereka.


"Ya ampun sayang, udah jam setengah tujuh, ayo kita mandi!!" Efaro melepaskan pelukannya dan menarik tangan Adira menuju kamar.


Adira terlihat panik dan bingung. "Siapa duluan El yang mandi?"


"Udahlah kita mandi sama-sama saja biar cepet," Elfaro menarik tangan istrinya masuk ke kamar mandi.


Dengan rasa gugup bercampur malu, Adira membuka seluruh pakaiannya. Ia tak punya pilihan lain sebab jika tak mandi bersama suaminya maka ia akan terlambat ke sekolah.


Keduanya saling memandang tubuh satu sama lain, Elfaro begitu takjub dan terpesona pada tubuh istrinya yang begitu sexy dan mempesona. Begitu pula dengan Adira, namun sayangnya mereka tidak punya cukup waktu untuk menikmati keindahan yang ada di depan mata mereka.


Mereka mandi dengan terburu-buru kemudian, bergegas mengenakan pakaian. Adira membawa semua perlengkapan skincarenya, ia berniat mengenakannya di mobil. "Ayo El cepet, nanti kita terlambat!" Adira menarik tangan suaminya, namun suaminya menahannya.


"Tunggu dulu, Dir." tahan Elfaro. "Kita pake ini dulu," Elfaro mengulurkan kotak perhiasan yang berisi cincin pernikahan mereka. Mereka sengaja tak mengenakan itu sebab mereka ingin menyembunyikan pernikahan mereka dari teman-teman sekolah mereka, namun kini Elfaro tidak ingin menyembunyikannya lagi.


"Kamu yakin mau pakai itu El? Bagaimana kalau teman-teman kita tahu kita sudah menikah?"


"Ya, enggak apa-apa dong. Kita tidak melanggar hukum agama, dan aku menikahimu bukan karena kamu hamil. Jadi seharusnya kita bangga, berpacaran versi halal." Elfaro menyematkan cincin pernikahannya di jari manis Adira, kemudian di jari manis dirinya.


"Udah yuk berangkat." Elfaro menggandeng tangan Adira menuju garasi.


...****************...


Dan benar saja, cincin utu memancing kehebohan saat mereka menikmati waktu istirahat mereka dikantin. Ica yang menyadari jika Elfaro dan Adira mengenakan cincin kawin sontak saja langsung meminta klarifikasi dari keduanya.


Elfaro dan Adira kompak menganggukan kepala, membenarkan jika mereka berdua telah resmi menjadi sepasang suami istri.


"OH MY GOD, ADIRAAAA!!!" teriak Aliya dan Ica terkejut, keduanya hampir saja jatuh pingsan, bentung ada Aldi dan Brandon yang dengan sigap menangkap tubuh mereka berdua.


"Untuk lebih meyakinkan lagi, bagaimana jika siang ini kalian main ke rumah kami?" ajak Elfaro.


“Kalian punya rumah? Kalian sudah tinggal bareng?” tanya Brandon seolahntak percaya.


"Ya ia dong, kan sudah sah." Adira memamerkan cincin nikahnya.


"Pokoknya kalian semua harus dateng, kita berdua mau ceritain semuanya ke kalian," lanjut Elfaro.


Di tengah kehebohan yang terjadi, rupanya Arini mendengar percakapan mereka. Arini sangat kaget saat mengetahui bahwa Adira dan Elfaro selama ini sudah menikah dan tinggal seatap. Arini begitu marah, jika dirinya enggak bisa bahagia bersama Elfaro maka tidak ada satu orang pun yang boleh bahagia bersama Elfaro.


“Pantas saja akhir-akhir ini mereka sering pulang dan berangkat sekolah bareng,” gumam Arini.


“Ini semua enggak bisa di biarin, gue enggak terima kalau mereka bahagia, apapun akan gue lakuin buat hancurin loe, Dir,” Arini pun pergi menuju kelasnya dengan rasa emosi yang membakar hatinya.