Little Bride

Little Bride
BAB 59



“Nih,” ucap seseorang itu sambil memberikan minum.


“Makasi Al.”


“Uda loe jangan nangis lagi, Adira pasti kuat kok, loe tau sendiri kan Adira sekuat apa,” ucap Alfino.


“Iya Al, gue berharap Adira bisa bertahan dengan alat-alat yang ada di tubuhnya sekarang.”


“Aamiin.”


“Yaudah kalau gitu gue pamit dulu ya Ra,” ucap Alfino meninggalkan Zahra.


“Iya hati-hati Al, sekali lagi makasi ya.”


“Iya sama-sama.”


Kini Elfaro merasakan tangan Adira yang bergerak perlahan, ketika berada di genggamannya. Cowok itu segera menghapus air mata nya dan menekan tombol darurat, untuk menginformasikan nya kepada dokter.


“Dir, Sayang, kamu pasti bisa. Ayo bangun, Sayang,” lirih Elfaro berharap Adira segera siuman. Dia mengecup tangan Adira berulang kali, sembari menatap gadis itu.


Dokter yang datang segera mengambil tindakan, dan kini mencoba untuk memeriksa pasien. Dokter tampak terkejut, lantas memandang Elfaro yang berada di sana seorang diri, menunggu pasien.


“Kondisi pasien mulai stabil. Doa Anda terkabulkan!,” ucap dokter, melihat pasiennya, yang mulai membaik.


“Kenapa Dokter membuka peralatan tersebut?,” tanya Elfaro mulai panik.


“Tenang, Tuan! Pasien sudah tidak membutuhkannya lagi. Saya hanya menyisakan alat pernafasan. Semoga pasien segera sadar.”


“Tapi, bagaimana dengan istri saya yang koma?,” Ucap Elfaro tidak mengerti.


“Pasien sudah melewati masa kritisnya. Kita hanya berharap pasien siuman secepatnys. Jadi, Tuan tidak perlu khawatir. Saya permisi.”


Setelah kepergian dokter dari Adira. Elfaro tersenyum bahagia dan memeluk tangan Adira dengan erat. “Makasih, Sayang, sudah bertahan.” Elfaro dapat bernapas lega, karena Adira sudah berhasil melewati masa sulitnya.


“Aku mencintaimu,” lirih Elfaro merasa sangat senang, dengan kabar hari ini, walaupun sempat dibuat takut dengan keadaan Adira yang memburuk.


Di kediaman Alfino, cowok itu menghela napas panjang, dan merasa bosan di rumahnya, karena sekarang tidak lagi menjadi ketua geng dan dia hanya menjadi pengangguran seperti sekarang ini. Walaupun dia baru pulang dari rumah sakit.


“Tumben, pulang cepat?,” ucap mama nya dan duduk di samping putranya, yang sedang duduk di depan televisi.


Alfino menatap mama nya dan kembali menghembus napas kasar. “Iya nih, Ma! Alfino dari rumah sakit langsung pulang nggak mampir ke markas dulu, kan Alfino juga uda keluar dari geng itu. Tapi, Alfino nggak nyesel sama sekali, keluar dari geng motor itu.”


“Iya udah, kamu yang sabar. Bagaimana keadaan Adira sekarang?,” Tanya sang mama, sebenarnya belum mengetahui semuanya karena Alfino tidak cerita sama sekali.


“Keadaan Adira nggak baik, ada suatu insiden yang membuatnya terbaring di rumah sakit sekarang.”


Wanita itu tampak terkejut, walaupun Adira tidak lagi dengan Alfino, tetap saja Adira yang dulu pernah berpacaran dengan putranya itu. “Kenapa baru kasih tahu mama sekarang, Al? Tapi, Adira nggak kenapa-kenapa, kan?”


“Kenapa-kenapa, Ma! Adira ditusuk sama seseorang yang mengincar aku ma. Saat dia ingin nusuk aku, pisau itu meleset terkena Adira. Dan sekarang lagi koma di rumah sakit. Semoga secepatnya sembuh.” Alfino tidak memberitakan semuanya, karena ia perlahan melupakan kejadian itu.


“Adira anak yang baik, pasti dia kuat dan secepatnya sembuh.” Doa dari wanita itu sangat tulus.


“Iya, Ma. Pasti, Adira akan sehat kembali.”


“Pokoknya, jangan overtingking. Harus pikirannya positif terhadap Adira,” ucap wanita itu menghela napas panjang.


“Iya, Ma. Siap.” Alfino menuruti perkataan mama nya dan mencoba untuk menghilangkan pikiran negatifnya.


...


Di rumah sakit, Elfaro tersenyum mengusap wajah istrinya yang kini terlihat sangat cantik, dan tidak terlalu pucat seperti kemarin, ketika Adira dinyatakan koma oleh dokter, dan entah kapan akan sadar. Walaupun, memang hingga saat ini, Elfaro masih menunggu kabar bahagia itu.


Elfaro menghembuskan napas panjang. “Kita akan lulus bersama, kuliah di universitas terbaik di Indonesia, dan pergi liburan bersama.” Elfaro tersenyum, karena sudah merencanakan itu sejak awal.


Perlahan mata Adira terbuka, dan kini memperhatikan sekitarnya. Hanya ruangan berwarna putih, dengan aroma obat yang menyengat di tempat itu.


Adira melihat Elfaro yang kini berada di bawahnya, memeluknya dengan erat. Jantung Elfaro berdetak sangat kencang. Dia segera bangkit dan menatap Adira, dan benar saja gadisnya sudah siuman dan kini menatapnya dengan wajah kebingungan.


“Sayang, akhirnya kamu sadar, Dir!” Elfaro mengecup pucuk kepala Adira karena sangat bahagia.


“Haus!” Lirih Adira, membuat Elfaro gelagapan dan langsung mengambil gelas, dan memberikannya kepada Adira. Gadis itu meminumnya hingga habis tidak tersisa karena haus.


Elfaro meneteskan air matanya, ia seperti merasa mimpi saat ini, karena melihat Adira yang sudah sadar dan berada di hadapannya.


Adira yang melihat Elfaro menangis, membuatnya semakin kebingungan. “Kamu nangis, El?,” Tanya Adira.


Elfaro mengusap air mata nya dan tersenyum. “Nggak, Sayang! Ini air mata bahagia.”


“Tapi, aku baru lihat kamu menangis,” ucap Adira meraih Elfaro dan mengusap air matanya. “Jangan nangis lagi, aku udah ada di sini.”


Elfaro menganggukkan kepalanya. “Aku merindukan kamu, Dir. Kemarin waktu kamu belum sadar, dokter hampir saja mencabut semua peralatan medis yang ditempel di tubuh kamu, karena kemungkinan kamu hidup sangat tipis, dan ternyata sekarang kamu bisa lihat aku lagi.”


“Aku mencintaimu kamu dengan tulus, Dir. Nggak ada alasan apapun yang sanggup untuk diutarakan, karena cinta nggak harus memiliki alasan yang tepat, kan?,” itu menurut Elfaro, mungkin kalau orang lain, menganalisis cinta dengan cara yang berbeda, tergantung pemikiran masing-masing orang.


Adira menatap Elfaro dalam, tidak ada tatapan bercanda, dan hanya keseriusan yang dirinya lihat di sana. “Aku juga mencintai kamu, El!,”


Elfaro menganggukkan kepalanya dan tersenyum. “Terima kasih, sudah kembali, Dir. Dan ketemu sama aku lagi di dunia ini.”


“Sama-sama, El! Karena memang, cinta kita belum waktunya untuk dipisahkan,” ucap Adira tersenyum manis.


...


Keesokan paginya, sekolah dihebohkan dengan berita bahwa Elfaro dan Adira sudah menikah, karena postingan seseorang yang langsung menandai akun sosial media resmi sekolah.


“Jadi, mereka udah nikah sejak lama, pinter banget nutupin nya. Seperti nggak terjadi apapun.”


“Bener banget, gue nggak nyangka kok Elfaro seperti itu, ya?,” lirih mereka menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.


“Tapi, siapa kira-kira yang nyebarin ini semua? Berarti, dia berani banget sama Elfaro.”


“Nggak tahu sih, pasti salah satu siswi di sini yang benci sama Elfaro.”


“Bukannya, Alfino pernah suka ya sama Adira? Kayaknya, dia pelakunya, deh. Kan, musuhan sama Elfaro.”


Sedangkan Alfino yang mendengar dirinya disebut, langsung menatap cewek-cewek yang gosib tentang dirinya.


“Eh, Alfino! Loe kan yang nyeberin berita soal pernikahan Elfaro dan Adira?,” tanya mereka mengeroyok Alfino dan menghadang nya.


“Memangnya, loe semua udah tahu?” ucap Alfino menatap mereka datar dan tidak peduli.


Mereka saling memandang satu sama lain, karena bingung dengan ucapan Alfino. “Ternyata, loe udah tahu sejak awal, Al?,”


“Terus urusannya sama loe semuanya apa?,” Alfino segera pergi dari sana, meninggalkan mereka yang melongo melihatnya.


Sedangkan Farhan dari kejauhan tersenyum miring melihat semua itu. Akhirnya, yang ditunggu-tunggu olehnya berhasil juga. Pasti, Elfaro akan dikeluarkan dari sekolah. Dan pasti dia akan menuduh Alfino yang menyebarkan berita ini.


Farhan melihat ponselnya. Di sana ada dua orang yang menjadi target utamanya di sekolah ini. Dia menghela napas panjang, dan kini melihat foto mereka telah di coret dengan tulisan merah di sana, menandakan, semua rencana berhasil. Target utama adalah Alfino yang sekarang dia sudah berhasil membuat Alfino keluar dari gengnya dan akhirnya Farhan bisa merebut posisi Alfino menjadi ketua geng. Dan target kedua adalah Elfaro, sekarang dia tinggal menunggu Elfaro di keluarkan dari sekolah dan Farhan akan mengambil posisi Elfaro sebagai siswa terpintar di sekolah.


Sebenarnya dalam kasus penusukan ini Farhan juga terlibat, untung saja dia tidak ketahuan, yang ketahuan cuman Arini saja, Farhan merencanakan semuanya dengan matang dan halus, tidak gegabah agar semuanya berjalan dengan lancar. Memang sudah lama Farhan ingin menyingkirkan Alfino dan Elfaro tapi, baru kali ini rencananya berhasil.


Farhan adalah anak baru di sekolah, dia di tuntut oleh kedua orang tuanya untuk menjadi nomer satu di sekolah, tetapi saat pindah sekolah kepintaran Farhan terkalahkan oleh Elfaro. Akhirnya Farhan menyusun rencana untuk menyingkirkan Elfaro. Dia mulai mendekati Alfino agar bisa masuk ke dalam gengnya dan merebut kedudukan Alfino sebagai ketua geng. Karena di sekolah yang lamanya dia adalah ketua geng.