
Hari yang di nanti pun tiba, dengan penuh semangat Adira mengemasi barang-barang dirinya dan juga suaminya. "Kita kan cuma dua hari, kenapa bawaannya sebanyak itu?" tanya Elfaro heran.
Elfaro tak mengetahui jika Adira membawa perlengkapan perangnya untuk melaksanakan misi malam pertama mereka berdua. "Ini perlengkapan wanita, kamu tidak perlu tahu," Adira langsung menutup kopernya dan menguncinya.
"Ya sudah, sini aku bawain kopernya. Sebentar lagi anak-anak datang, aku belum manasin mobil." Elfaro menarik koper dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menggandeng tangan Adira menuju garasi.
Benar saja yang di katakan oleh Elfaro, baru saja ia memanaskan mobil teman-temannya sudah datang ke kediamannya. Elfaro langsung mengeluarkan mobilnya ke halaman depan rumah, dan meminta teman-temannya memasukan kendaraannya di garasi kediamannya.
Setelah persiapan selesai, barulah mereka meluncur menuju puncak-Bogor. Adira duduk di depan bersama suaminya yang mengemudikan mobil, kemudian di bangku tengah ada Aliya dan Brandon sedangkan di bangku belakang terdapat Ica dan Aldi.
“Yey akhirnya kita jadi juga ke puncak,” ujar Aliya senang.
“Tapi inget gais, habis ini kita semua harus kembali belajar lebih keras untuk ujian masuk universitas yah,” ujar Aldi.
“Iya siap bos,” ucap mereka semua kompak.
Butuh waktu dua jam perjalanan, untuk tiba di villa yang sudah di booking oleh Elfaro sejak jauh-jauh hari. Vila yang memiliki tiga kamar itu menyuguhkan pemandangan yang indah, sepanjang mata memandang hamparan kebun teh, yang di kelilingi pegunungan.
"Adem banget ya di sini," Brandon menarik napas dalam, menghirup udara segar kota Bogor, ketika ia turun dari mobil Elfaro.
"Di Jakarta kita sulit mendapatkan udara sesegar ini, di mana-mana polusi," sahut Aliya.
Tak hanya Aliya dan Brandon yang mengagumi keindahan pemandangan di sekitar villa, Adira pun ikut takjub di buatnya. "Villanya keren banget El," ucap Adira, sembari menutup pintu mobil yang barunsaja di bukakan oleh suaminya.
"Cocok untuk memulai pertempuran kita nanti malam," goda Elfaro, Adira tersenyum malu-malu mendengar ucapan suaminya. Elfaro berlalu meninggalkkan Adira, ia berjalan menuju bagasi mobilnya untuk mengambil barang-barangnya.
"Eh kayanya ada yang kurang deh?" tanya Brandon, ia membantu elfaro menurunkan barang-barang sambil melihat sekeliling.
"Tuh," Elfaro menujuk pada bangku belakang mobilnya, dimana Ica dan Aldi masih ada di dalam.
"Eh buset, masih tidur itu anak," ucap Brandon. Dengan keisengannya, Brandon menggedor-gedor pintu mobil sembari berteriak. "KEBAKARAN WOI KEBAKARAN....!!"
Sontak saja hal itu membuat Aldi terperanjat kaget, ia melihat sekeliling kemudian keluar dari mobil, hal ini membuat Ica yang semula bersandar pada bahu Aldi jadi terbentur pintu mobil Elfaro. "Haduuhh Aldi, sakit tahu," protes Ica.
"Maaf Ca, gue enggak sengaja. Itu tadi Brandon ngisengin kita." Aldi kembali masuk ke mobil dan mengelus kepala Ica yang benjol.
Adira dan Aliya terkekeh melihat tingkah Aldi dan Ica. "Lagian loe tidur mulu," Brandon pun ikut terkekeh,
"Sudah-sudah," Elfaro mencoba menengahi teman-temannya. "Ambil barang kalian masing-masing, ayo kita masuk!" Ajak Elfaro, ia menarik koper dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya merangkul istrinya.
Begitu masuk ke villa, Elfaro langsung membagikan kunci kamar. Ica satu kamar dengan Aliya, Aldi satu kamar dengan Brandon, sementara dirinya tentunya bersama istrinya. "Nanti malam, setelah masuk kamar, tidak boleh ada yang keluar kamar. Mengerti?!!" ucap Elfaro dengan tegas. Peraturan tersebut sengaja Elfaro buat demi kebaikan bersama.
Malam harinya, mereka membuat api unggun dan barbeque untuk makan malam mereka. "El, loe enggak lupa kan?" bisik Brandon ketika mereka tengah menikmati makan malam mereka.
"Nanti aja lah habis makan," ujar Elfaro.
Sebelumnya Brandon sudah bercerita kepada Elfaro dan Aldi tentang niatannya untuk menembak Aliya di puncak, ia meminta Elfaro dan Aldi untuk memainkan gitar untuk menambah kesan romantis, mereka berdua pun menyanggupinya.
Setelah makan malam, mereka semua bernyanyi di iringi oleh permainan gitar Elfaro dan Aldi. Awalnya mereka menyanyikan lagu-lagu ceria, namun tiba-tiba saja ketika Brandon memberi aba-aba pada Elfaro dan Aldi, lagu berubah menjadi lagu romantis dan Brandon berlutut di hadapan Aliya sembari mengulurkan sebuket bunga.
“Brandon kamu ngapain?” ujar Aliya salting.
“Aku bener-bener serius sama kamu Al, kemarin kan aku cuman nembak kamu di motor, sekarang aku mau nembak kamu secara resmi biar kayak di film-film gitu hehehe,” ujar Brandon.
“Ya ampun Brandon, kamu nggak perlu ngelakuin ini semua, aku udah seneng kok waktu kamu tembak aku di motor,” jawab Aliya, sembari menerima bunga pemberian Brandon.
“Jadi mulai hari ini kita resmi berpacaran?” tanya Brandon seakan tak percaya.
Alya menganggukan kepalanya. "Terima kasih ya sayang," Brandon membawa Aliya ke dalam pelukannya.
Ica merasa terharu melihat cara Brandon menembak Aliya. “Ahh kalain sweet banget,” ujarny.
“Tuh Di kode tuh,” ujar Brandon ke Aldi sambil melepaskan pelukannya dengan Aliya.
“Dih apaan sih loe,” jawab Ica sewot.
“Ica mau di tembak sama aku?” tanya Aldi pede.
“Dih kok malah di tanya gitu sih, enggak ada inisiatifnya banget, dasar enggak peka.” jawab Ica ketus, ia kemudian kembali ke kamarnya.
Adira, Elfaro, Brandon dan Aliya pun menertawakan Aldi. "Iya loe enggak peka banget jadi orang, pergi kan itu orangnya," ujar Brandon.
Karena malam sudah semakin larut, Elfaro mengajak istri dan teman-temannya kembali ke kamar masing-masing. Begitu masuk ke kamar, Adira langsung menyeret kopernya ke kamar mandi, tak lupa ia mengunci pintu kamar mandi.
"Dir, kok pintunya di kunci sih?" teriak Elfaro. "Kan kita udah janji enggak boleh ada yang di tutup-tupi lagi."
Sejak mandi bersama beberapa waktu lalu, mereka berjanji tidak lagi mengunci kamar mandi selagi berada di dalam dan boleh saling melihat tubuh satu sama lain.
"Sebentar sayang," teriak Adira. Ia bergegas membersihkan tubuhnya, ia mencukur habis semua bulu yang ada di tubuhnya. Adira tak pernah merasa sebersih dan sewangi ini dalam hidupnya, ia bahkan menghabiskan waktu hampir satu jam berada di kamar mandi. Setelah dirasa penampulannya cukup menggoda, ia meraih satu kotak pengaman yang di berikan oleh ibundanya, kemudian ia keluar dari kamar mandi.
Alangkah kecewanya Adira ketika melihat Elfaro tertidur di atas tempat tidur, ia merasa telah menghabiskan satu jam yang sia-sia dalam hidupnya.