
“Dir terima kasih banyak ya, loe udah mau maafin kesalahan gue, padahal selama ini gue udah keterlaluan sama loe,” ucap Zahra sambil memegang tangan Adira, dan mata yang mulai berkaca-kaca.
Adira pun membalas dengan senyuman, ia menghapus air mata Zahra kemudian memeluknya dengan tulus. “Udah ya Zah jangan nangis,” ucap Adira di pelukan Zahra.
Setelah Zahra mulai tenang Adira mengajaknya kembali ke kelas. “Udah yuk Zah, kita ke kelas sebentar lagi masuk. Hari ini kan kita ujian kelulusan,” ajak Adira sambil mengelus pundak Zahra.
“Yuk,” balas Zahra.
Mereka kembali ke kelas sambil bergandengan tangan layaknya dua sahabat sejati, sesampainya di dalam kelas Aliya dan Ica sangat terkejut melihat kedekatan Adira dan Zahra. Namun mereka tak berkomentar sebab bel sekolah sudah berbunyi dan disusul dengan masuknya seorang pengawas yang mengawasi ujian mereka.
Suasana ujian sekolah berlangsung dengan tertib dan tenang, tanpa terasa sudah hampir dua jam ujian berlalu. Begitu bel istirahat berbunyi mereka berhamburan keluar kelas, sebagian ada yang memilih ke kantin namun sebagian ada yang memilih belajar di perpustakaan atau taman sekolah.
Adira sendiri sebenarnya ingin belajar di perpustakaan, namun teman-temannya mengajaknya ke kantin. “Dir kita ke kantin yuk, ada yang mau gue omongin sama loe,” ajak Ica.
“Iya nih ada hal penting yang mau kita omongin sama loe,” sahut Aliya sambil menarik tangan Adira menuju kantin.
Begitu mereka bertiga berlalu meninggalkan ruang kelas, tidak lama kemudian Elfaro justru datang ke kelas Adira, ia berniat mengajak istrinya makan. Tetapi saat sampai di kelas Adira, Elfaro tidak mendapati sosok Adira sama sekali. 'Adira ngilang kemana lagi?' guamamnya dalam hati.
Begitu hendak melangkah meninggalkan kelas istrinya, ia berpapasan dengan Zahra. “Zah loe liat Adira enggak?” tanya Elfaro.
“Tadi ke kantin sama Aliya dan Ica,” jawab Zahra.
“Oh," Elfaro menganggukan kepalanya. "Oh iya tadi loe ngapain ngajak Adira ke belakang sekolah?” tanya Elfaro penasaran
“Oh gue cuma mau minta maaf ke Adira atas semua kesalahan yang udah gue perbuat," jawabnya. "Gue juga mau minta maaf ke loe. Maaf gue pernah maksa perasaan loe buat suka sama gue, gue udah terobsesi sama loe. Sekali lagi gue minta maaf El,” ucap Adira dengan tulus.
“Iya Zah, bagus-lah kalau sekarang loe udah sadar,” jawab Elfaro.
“Ya udah kalau begitu gue ke kantin duluan ya,” Zahra pun berlalu meninggalkan Elfaro.
...****************...
Sementara itu di kantin Ica dan Aliya tanpa berbasa-basi langsung mengintrogasi Adira. "Tadi loe sama Zahra ngapain pake gandengan tangan segala?" tanya Ica curiga.
“Ah kepo loe,” jawab Adira santai.
Aliya membulatkan matanya. “OHH GITUUUU.”
“Hahahaha santai santai," Adira menenangkan teman-temannya. "Tadi itu si Zahra minta maaf ke gue, jadi sekarang gue sama dia udah temenan,” ujar Adira.
“Minta maaf? Beneran minta maaf apa cuma pura-pura?” Aliya tK sepenuhnya percaya jika Zahra betul-betul tulus meminta maaf pada Adira.
“Dia tulus kok, gue bisa liat dari matanya. Udah ah enggak usah musuh-musuhan mulu,sebentar lagi kan kita lulus.”
“Iya gue juga mikir gitu sih, masa kita lulus mazih aja punya musuh di SMA,” sahut Ica. Alya pun mengangguk setuju. "Iya juga sih."
Ditengah obroalannya bersama teman-temannya, tiba-tiba saja Zahra datang ke kantin. Ica yang terlebih dahulu melihat kedatangan Ica langsung memberitahu teman-temannya. “Tuh Zahra dateng,” Ica menunjuk ke arah Zahra.
“Zahh,” panggil Adira sambil mengangkat tangannya.
Zahra menoleh ke arah Adira dan teman-temannya. “Iya ada apa?” ia menghampiri Adira dan teman-temannya.
“Duduk sini, bareng sama kita-kita,” ajanya Adira sembari menepuk bangku kosong di sebelahnya.
“Eh enggak usah, gue di situ aja,” Zahra menunjuk ke arah bangku kosong yang ada di sudut kantin.
“Uda enggak apa-apa, di sini saja” Adira menarik Zahra untuk duduk di seblahnya.
“Terima kasih ya,” Zahra menatap satu persatuAdira dan teman-temannya.
Kemudian mereka pun memesan makanan dan minuman yang ingin mereka makan, sambil menunggu makanan yang mereka pesan datang Zahra mengucapkan permintaan maafnya kepada Aliya dan Ica.“Oh iya gue juga mau minta maaf ke kalian, maafin gue kalau gue udah jahat sama kalian,” Zahra menatap ica dan Aliya secara bergantian.
“Iya Zah, gue uda maafin loe kok,” ucap Aliya.
“Iya loe tenang aja uda kita maafin kok,” lanjut Ica sambil memegang pundak Zahra.
“Terima kasih ya kalian uda baik sama gue,” ucap Zahra menatap Adira, Ica dan Aliya.
“Iya sama-sama,” ucap mereka kompak.
Tidak lama dari itupun makanan yang mereka pesan sudah datang, saat mereka tengah menyantap makanan mereka, Elfaro dan teman-temannya datang menghampiri Adira dan teman-temannya.
“Kalian makan apa nih?” tanya Brandon basa-basi.
"Mie ayam,” jawab Aliya singakt.
“Unchh minta dong,” ucap Brandon sambil membuka mulutnya sangat lebar.
Brandon langsung membuangnya. “Ih apaan si loe,” ucapnya kesal.
“Lagian mulut loe gede banget kaya buaya,” ledek Aldi sambil tertawa di ikuti oleh teman-teman yang lainnya.
“Uda ih kalian ini berantem mulu,” Adira melerai mereka berdua.
“Tau ih, lagian kalian mau ngapain si di sini?” tanya Ica.
“Mau makan lah,” jawab Aldi.
“Itu di sana aja kan masi ada bangku kosong,” tunjuk Ica pada meja kosong di sudut kantin.
“Emang kenapa si Ca kalau kita di sini, nanti kalau gue jauh-jauh dari loe nanti loenya kangen lagi sama gue,” goda Aldi.
“Dih apaan sih,” Ica mendundukan wajahnya karena salting.
“cie cie cieee,” ujar mereka semua.
“Kita duduk di sini ya,” pinta Elfaro.
Adira menganggukan kepalanya, membolehkan Elfaro dan teman-temannya duduk bersama genknya, sebab ia tak mungkin mengusir suaminya pergi.
Baru saja mereka duduk Brandon menyadari jika ada Zahra dintengah-tengah mereka “Eh ada Zahra,” ucap Brandon terkejut. "Loe enggak lagi mau buat masalah kan Zah?" tanyanya curiga.
“Ya enggak dong, kita kan udah temenan,” jawab Aliya.
“Allhamdulilah udah enggk ada musuh-musuhan lagi,” jawab Brandon. “Eh ngomong-ngomong kalian bakal lanjut kemana nih?” tanya Brandon memulai obrolan mereka
“Kalau gue sih rencanannya mau lanjut ke UGM, eyang gue di Jogja soalnya jadi sekalian pulang kampung.” jawab Aliya.
“Kalau gue ke UI aja yang deket,” jawab Ica.
“Kalau gue ke Undip, kakak gue di sana jadi bisa kost bareng kata nyokap biar hemat,” jawab Zahra.
“Gue ke Itera,” jawab Aldi.
“Jauh banget loe, nyebrang pulau,” ucap Brandon terkejut, ia pikir Aldi masih akan kuliah di pulau jawa.
“Ya biarin, kenapa loe kangen ya sama gue,” jawab Aldi.
“Dih nggak lah,” jawab Brandon.
“Loe sendiri kemana?” tanya Zahra ke Brandon.
“Gue mau ke Unpad si, doain gue ya semoga gue bisa masuk Unpad,” ucap Brandon.
“Aamiin,” ucap mereka barengan.
“Lo kemana El, Dir kok diem-diem aja,” Aldi menatap Adira dan Elfaro secara bergantian.
Adira dan Elfaro pun hanya tatap tatapan, mereka bingung mau jawab apa karena mereka berdua belum ada rencana mau melanjutkan kuliah atau tidak.
“Gue belum tau mau kemana,” jawab Adira singkat.
“Gue juga sama,” jawab Elfaro.
Saat mereka sedang mengobrol, dari kejauhan ada seseorang yang ternyata sesang memperhatikan mereka dengan tatapan tajam dan penuh rasa marah, dia tidak suka melihat ke akraban Adira dan Elfaro.
“Gue enggak bisa liat loe bahagia, kalau gue enggak bisa dapetin Elfaro loe juga enggak boleh dapetin Elfaro,” gumam Arini. Iya orang yang memperhatikan Adira dan teman-temannya adalah Arini. “Liat aja apa yang akan gue lakukan ke loe,” Arini pun pergi menuju kelasnya.
...****************...
Malam harinya, saat mereka hendak istirahat. Adira mulai membuka topik seputar masa depan mereka. “El kamu mau lanjut kuliah?” tanya Adira.
“Aku sih rencananya mau kuliah sambil kerja karena bagaimana pun sekarang gue adalah kepala keluarga, gue enggak mau membebankan orangtua kita.” jawab Elfaro.
“Aku juga mau lanjut kuliah El, tapi gimana tentang pernikahan kita? Kita enggak mungkin selamanya begini kan? Kamu pasti mau itu... Tapi aku enggak mau hamil, aku enggak siap El."
'Ya enggak lah, kamu pikir enggak capek apa nahan mulu,' batin Elfaro.
"Aku tahu ada beberapa alat kontras*psi, tapi aku masih ragu yang mana yang aman. Bagaimana kalau kita nanti tanya mama saja?"
Adira menganggul setuju. "Ya, nanti kita tanyakan ke mama."