
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Semua anak di belahan dunia manapun akan senang jika menjadi Nirmala hari ini, tak hanya kebutuhan Sandang yang di cukupi oleh Shaka tapi ada beberapa mainan seperti boneka yang selama ini jarang sekali di miliki nya.
Dan itu terbukti dengan senyum yang terus merekah dibibir anak tersebut.
"Lala, mau apa lagi?" tanya Shaka, selama bersama Violet hanya berbicara sekedarnya saja.
"Udah, Om."
"Sekarang kita pulang ya," ajak pria itu yang di balas anggukan kepala namun sedetik kemudian ia menoleh kearah wanita yang juga menatapnya dengan sorot mata datar.
Ketiganya kini keluar dari Mall, puas rasanya berjam-jam berkeliling di bangunan mewah tersebut yang tak hanya memanjakan mata tapi juga perut, terbukti kini mereka tinggal pulang dan istirahat.
Shaka kini di apit oleh dua wanita beda umur, ia menggandeng Nirmala di tangan kanan sedang di kiri ada Violet yang bergelayut manja seperti biasa. Dan itu membuat Si anak cantik sesekali melirik malu namun sambil tersenyum simpul.
Sama seperti saat datang, Nirmala duduk di kursi belakang seorang diri. Kini, Violet sudah mau bicara banyak pada suaminya tanpa sedikit pun menyinggung tentang Nirmala.
Anak itu tentu diam saja, meski kadang pandangannya sesekali bertemu dengan Shaka lewat kaca spion mobil.
.
.
.
Sampai di Unit Apartemen, Shaka membawa Nirmala ke kamar barunya yang tepat di samping kamarnya dan Sang istri, Violet yang beralasan ingin segera mandi membiarkan suaminya mengurus dan membantu membereskan barang Nirmala seorang diri.
"Mudah mudahan Lala betah ya tinggal sama Om, jangan sedih sedih lagi," ujar Shaka yang kata Mommy nya tetap sesekali melamun yang mungkin rindu pada sosok ibunya.
"Iya, Om."
"Maafin Om Shaka ya, Om udah bikin kamu jadi anak yatim piatu di usia sekecil ini tapi Om janji akan perlakukan kamu sebaik mungkin dan berusaha menjadi orang tua angkat yang baik untukmu."
Nirmala yang hanya mengangguk langsung di peluk oleh Shaka, pria tersebut masih saja merasa sedih dan bersalah saat menatap kedua mata anak itu, hatinya mencelos sakit seandainya posisinya di tukar.
"Tapi nanti boleh gak kalau Lala mau main ke kuburan Ibu?"
"Tentu boleh anak cantik, nanti kita ke makan ibu ya," sahut Shaka sambio terkekeh kecil padahal dadanya kian semakin sesak.
"Kamu bisa istirahat atau main dengan bonekamu, matikan lampu jika mau tidur ya, kamu cukup nyalakan lampu ini saja," ujar Shaka sembari memeberi tahu Nirmala apa yang harus anak itu lalukan.
"Tapi kalau kamu takut gelap gak apa-apa, lampu nya tak perlu kamu matikan ya," sambung Shaka lagi.
"Iyaaaaaa, Om," sahut Nirmala yang malah tertawa, ia begitu senang dengan sikap baik pria itu yang kenyataan nya justru sudah merenggut nyawa Sang ibu.
"Om keluar dulu ya, kamar Om di sebelah kamu bisa ketuk pintunya jika ada sesuatu," pamitnya lagi seraya bangun dari duduknya di tepi ranjang yang tak terlalu besar itu.
Ceklek
Shaka masuk kedalam kamarnya dan langsung memeluk Violet dari belakang.
"Mandi dulu sana, Kha," titah Violet saat lehernya sedang di cumbu.
Suami mana pun tak akan tahan dan pasti tergoda saat melihat wanita halalnya hanya memakai Bathrobe, apalagi bau harum sabunnya menusuk indra penciuman hingga menantang jiwa kelelakian nya.
"Tapi habis itu main ya," jawab Shaka berbisik sembari menciumi telinga Violet.
Alasan lelah awalnya di terima oleh Violet tapi saat tahu masalah yang dihadapi suaminya saat itu malah justru menimbulkan rasa kecewa yang tak kecil.
"Hem, bersihkan saja dulu, ingat kata dokter kan?"
"Iya, Sayang. Aku mandi ya, kamu tunggu, Ok," sahut Shaka sambil memutar tubuh isterinya agar mereka bisa saling berhadapan. Ciuman lembut penuh damba pun di lakukan Shaka meski hanya sekilas.
Sedangkan Violet langsung membuang pandangan ketika Shaka melepaskan pelukan untuk bergegas ke kamar mandi.
Bukan menunggu di ranjang, Violet malah masuk ke ruang ganti untuk memakai baju tidur piyama, tak ada gairah sama sekali dalam dirinya untuk melayani Sang suami malam ini, apalagi saat ia ingat ada orang lain di Apartemennya selain mereka berdua.
Sudah lebih dari 30 menit, Shaka pun keluar dengan hanya memakai handuk sebatas pinggang. Dahinya mengernyit saat melihat kearah ranjang dimana Violet sedang duduk bersandar dengan selimut tebal sebatas pinggang.
"Kamu ingin membuang waktuku, Sayang?" kata Shaka yang mendekat lalu naik keatas kasur.
"Apa?" tanya Violet pura pura tak paham.
Tebakan Shaka awalnya akan mengira Sang istri masih memakai Bathrobe atau Lingerie tapi ia salah besar saat tahu kenyataannya wanita itu malah memakai pakaian tidur stelan atas bawah.
Tapi, itu tak mengurangi NapSuu Shaka, ia malah berpikir Violet sedang menantangnya sekarang dengan cara ia harus sabar melucuti satu persatu pakaian istrinya.
"Nirmala sudah tidur?" tanya Violet saat tangan Sandarak hatinya itu sudah menjamah apa yang ia inginkan.
"Entah, mungkin iya dan mungkin juga belum," sahut Shaka masih dengan bibir yang menciumi pipi mulus Violet.
"Kamu yakin dia berani tidur sendiri? ini tempat baru baginya, Kha."
"Ia harus biasa, karna mau tak mau ia harus tetap tidur sendiri, Sayang." Shaka tentu ingat dan berusaha menepatinl janjinya yang akan mengurus dan memperhatikan Nirmala sesuai porsinya sebab Violet tetap prioritas utama dalam hidupnya.
"Hem, baguslah, kamu sudah membereskan barang-barangnya?" tanya Violet lagi, ia akan mengalihkan fokus Shaka dengan menjawab apa yang akan ia tanyakan.
"Sudah, Vi. Semua sudah beres dan aman. Semoga dia betah tinggal disini."
Dan ternyata tak cukup sampai disitu, Violet terus melayangkan aksinya hingga begitu banyak yang mereka obrolkan sampai tak terasa rasa kantuk pun menyerang keduanya.
Tak ada hal yang menyenangkan yang mereka lakukan, yang ada pasangan halal tersebut kini sudah terlelap dengan posisi saling memeluk.
.
.
.
"Kamu sedang apa?" tanya Violet pada Nirmala di dapur, ia kaget saat anak itu sudah bangun lebih awal darinya.
"Maaf, Onty. Lala tadi habis minum air putih lalu mencuci gelasnya," jawab Nirmala sambil menundukkan kepala.
"Oh, aku kira kamu sedang apa," sahut Violet yang merasa lega karena bagaimana pun ia tetap khwatir saat anak sekecil itu berada di dapur seorang diri. Ia hanya takut dan khawatir Nirmala memainkan kompor yang berbahaya tak hanya untuknya saja.
.
.
.
Cepat mandi sana, lalu kita sarapan bersama dan habis itu pergi mencari sekolah untukmu...