
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Ini bau minyak dan bedak bayi," gumam Violet sambil meremat kuat kaos milik suaminya.
Bukan parfum wanita, ini jelas-jelas bau khas balita yang sering di cium Violet saat bersama kedua keponakannya Azurra dan Akash.
Pikiran wanita itupun semakin melayang kemana mana tentang anak siapa yang di gendong oleh Shaka, karna jika cuma sentuhan biasa harumnya tak akan melekat seperti ini.
Tok.. tok.. tok..
"Sayang, sudah belum?" tanya Shaka dari balik pintu dan itu membuat Violet kaget, ia taruh lagi apa yang di pegangnya ke dalam keranjang.
"Iya, Kha, tunggu," jawab Violet sedikir berteriak.
Niat hati ingin buang air kecil pun di urungkan oleh Violet, ia kembali keluar untuk menemui Shaka yang sudah menunggunya di meja makan.
"Maaf ya, kamu sampai tak sarapan," ucap Shaka penuh sesal.
"Tak apa, aku memang tak lapar tadi pagi," jawab Violet yang pastinya berbohong, padahal ternyata itu justru sebaliknya.
Keduanya pun sarapan dengan makanan yang di pesan oleh Shaka, perut yang lapar membuat pasangan suami istri itu menikmati makan makan pagi menjelang siang itu cukup lahap.
"Kamu beneran gak kuliah, Kha?" tanya Violet memastikan keputusan Sang suami.
"Iya, kamu kan gak enak badan, aku temenin kamu disini aja ya."
Violet hanya menangguk, inilah Shaka nya, pria baik yang selalu mementingkan keadaannya. Lalu bagaimana dengan kemarin, semalam hingga pagi tadi?
Entahlah, Violet belum mendapatkan jawaban hingga sekarang.
Usai sarapan, Violet kembali ke kamar tapi tidak dengan Shaka yang memilih di ruang tengah karna ia sedang membahas tentang Resto dengan orang kepercayaannya lewat sambungan telepon.
Dan ini adalah waktu yang tepat untuk wanita itu menghubungi adik iparnya.
Beberapa kali nada tunggu di dengar oleh Violet, ia masih sabar hingga akhirnya Rubby menyapa dengan suara lembutnya.
"Assalamu'alaikum, Vi."
"Waalaikumsalam, By, apa aku ganggu?" tanya Violet karna cukup lama Rubby mengangkat teleponnya.
"Maaf, aku lagi di kamar mandi," jawab wanita berhijab itu sembari terkekeh.
Violet menarik napas panjang, karna tiba tiba ia malah memikirkan hal yang tidak tidak. Sebagai yang sama sama wanita dewasa bersuami pastilah cerita ranjangan pun sering mereka obrolkan meski tak begitu detail.
"Ku kira sedang menidurkan Si kembar," jawab Violet yang cemas jika saja Shaka tiba-tiba masuk.
"Enggak, Si kembar lagi sama Mommy dan Daddy, ada apa?" tanya Rubby yang mulai serius karna kakak iparnya cukup terdengar lain.
"Hem, apa Shaka kesana tadi?"
"Shaka? hem, kayanya gak ada datang kemari, tapi aku gak tau juga, soalnya aku di kamar, nanti aku tanya Mommy ya," jawab Rubby ragu.
"Ah, gak usah. Gak apa-apa, By. Aku cuma tanya aja, kamu gak perlu tanya Mommy."
"Kan biar lebih pasti, Vi."
"Gak perlu, bukan masalah serius ko, sudah dulu ya, Assalamu'alaikum," ucap Violet yang lansung mengakhiri panggilan teleponnya itu.
Rasa sesak dirasakan oleh Violet yang awalnya berusaha untuk berpikir positif yang menyangka Sang suami pulang namun ternyata entah kemana.
"Vi, kamu masih gak enak badan?" tanya Shaka yang masuk tiba-tiba dan untungnya Violet sudah selesai mengobrol dengan Rubby.
"Mendingan, sudah tak terlalu pusing, kenapa?"
"Aku cuma khawatir, istirahat lah," titahnya yang tak dijawab sama sekali oleh Violet.
.
.
.
Satu hari di lewati pasangan itu di Apartemen dengan sangat membosankan, alih alih katanya ingin menemani Sang istri yang sedang tak enak badan dan hati, nyatanya Shaka mslah sibuk dengan urusan Resto, dan itu memang sering di lakukan olehnya jika sedang tak kuliah, Violet tak bisa melayangkan protes sebab itu adalah cara Shaka memberi nafkah untuknya dan semua kebutuhan rumah tangga mereka selama satu tahun ini.
"Kha, belum selesai?" tanya Violet yang berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Sedikit lagi, Sayang. Kenapa?" tanya balik Shaka, ia mengalihkan fokusnya dari layar laptop ke istrinya.
"Aku mau jajan, Kha."
"15 menit lagi ya, kamu siap siap aja sekalian ambil kunci mobilku," sahut Shaka yang di iyakan oleh Violet.
Wanita itupun kembali masuk kedalam kamar, 15 menit yang di minta Shaka ia gunakan untuk mengganti baju dan merapihkan rambutnya dengan cara di ikat asal sebab suaminya tak suka jika leher putih jenjangnya di lihat orang lain terutama Pria di luaran sana.
"Vi--," panggil Shaka dari ruang tengah.
"Iya, tunggu!" Violet buru-buru meraih kunci mobil mewah Sang suami yang berada di dalam laci nakas samping ranjang.
Ia yang keluar dari dalam kamar langsung memberikan senyum terbaiknya saat Shaka sudah berdiri dan siap untuk pergi, Violet berharap lagi semua yang sudah di lakukan Shaka tak lebih dari prasangka buruknya saja. Ia percaya jika pria yang sedang merangkulnya tersebut adalah suami yang jujur dan pastinya setia.
"Mau jajan kemana?" tanya Shaka.
"Hem, jagung manis kayanya enak, Kha," jawab Violet yang hanya di jawab angguk kan kepala dan senyum kecil, tak lupa ciuman pun mendarat di kening Violet dan itu sudah biasa di lakukan oleh Shaka.
Salah satu Mall terdekat di pilih oleh pasangan itu, Violet yang hanya ingin menikmati jagung manis tak perlu jauh jauh ke tempat lain.
"Ada di lantai berapa ya? aku lupa," kata Violet sambil mengingat ingat.
"Hem, aku juga lupa, kita jarang kesini," jawab Shaka, ia yang punya Mall paling mewah dan komplit tentu lebih sering ke sana dibanding ke pusat perbelanjaan lainnya.
"Kita naik ke lantai tiga, biasanya Foodcourt ada di paling atas."
Kedunya pun terus melangkah kearah eskalator tapi Shaka berhenti saat ia merasa ponsel disaki celananya bergetar.
"Iya, Hallo," jawab Shaka pelan dan sedikit menghindar.
Dan sikap aneh itu membuat Violet kembali curiga padahal ia sudah berusaha untuk menganggap semua yang terjadi tak pernah ada di hari hari dalam pernikahan mereka berdua.
"Ada apa, Kha?" tanya Violet ikut panik saat raut wajah suaminya terlihat ketakutan.
.
.
.
Aku anter pulang kamu ya, Vi....