
Arini yang melihat Elfaro di sana tersenyum miring dan segera mendekati cowok itu. Dengan rok mini dan juga tangtop berwarna hitam dilapisi jaket kulit dari luar, membuat Arini terlihat sangat terbuka dan seksi.
“Maaf! Loe lama ya nungguin gue? Soalnya tadi macet di perjalanan,” ucap Arini dengan nada manjanya.
“Nggak apa-apa, ini buat loe,” ucap Elfaro dan memberikan segelas minuman mengandung alkohol untuk gadis tersebut.
Arini mengerenyitkan dahinya bingung, namun dia segera menganggukkan kepalanya dan meminumnya, tidak ingin Elfaro kecewa kepadanya.
“Semua anggota lo ekemana, El?,” tanya Arini memperhatikan markas luas itu yang sepi.
“Mereka gue suruh mengosongkan tempat ini, karena gue mau berduaan sama lo di sini.” Elfaro semakin bergeser untuk mendekati gadis tersebut.
Membuat Arini tampak senang dan meladeni Elfaro dengan sangat baik.
“Di sini, ada kamar, kan?,” Ucap Arini menyentuh dada bidang Elfaro, menggoda cowok itu.
Elfaro menyeringai dan menganggukkan kepalanya. “Karena gue ketua nya, pasti ada kamar untuk gue sendiri. Lo mau ke sana?,” tawar Elfaro langsung.
“Memangnya boleh?,” tanya Arini, dan sangat-sangat merasa senang, karena rencananya akan berjalan dengan lancar.
“Gue sih, suka kalau ceweknya banyak minum, sambil ngelakuinnya,” bisik Elfaro menggoda Arini.
“Oke, gue akan habisin.” Arini menghabiskan minuman yang telah di sediakan oleh Elfaro di hadapannya. Membuat gadis itu sekarang tampak pusing dan sudah mabuk.
“Ayo ke kamar, El,” ajak Arini memeluk lengan cowok itu, tanpa ketakutan sedikit pun.
Elfaro membawa gadis itu sekarang masuk ke dalam salah satu ruangan yang ada di markas tersebut. Dia segera mendudukkan Arini di sana, dan ketika gadis itu hendak memeluknya dengan mesra, Elfaro menarik rambutnya dengan cukup kasar, membuat Arini mendongakkan kepalanya menatap Elfaro aneh.
“Gue bahkan, nggak sudi deket sama penjahat seperti lo, Arini,” ucap Elfaro menatap tajam gadis itu yang tampak kelelahan.
“Sakit El, loe kenapa tiba-tiba giniin gue? Gue ada salah apa sama lo?,” ucap Arini dengan wajah tak berdaya karena memang sudah lemas.
“Memang cewek kayak loe ini nggak tau malu Arini, melakukan banyak hal dan berbagai cara untuk menyingkirkan seseorang yang menjadi penghalang dari hidup lo yang busuk itu.”
“Gue nggak paham! Lepasin gue!!” Arini memberontak hingga Elfaro melepaskan cambakan nya.
“Bagaimana? Udah puas loe nyakitin Adira, hah?!” Bentak Elfaro kepada gadis itu.
“Gue nggak nyakitin Adira, sialan. Gue itu . Maunya Alfino yang mati di tangan loe, karena gue mau liat lo menang lawan Alfino, lagian loe juga benci kan sama orang yang selalu ikut campur, dan selalu gangguin kebahagiaan loe sama Adira, gue tau kok El loe itu udah nikah kan sama Adira hahaha,” Arini terlihat pasrah karena memang dia dalam keadaan setengah sadar karena minuman itu.
“Tapi bagus deh kalau pisau itu kena ke Adira biar mati sekalian tuh orang, kalau gue nggak bisa dapetin loe orang lain juga nggak boleh dapetin lo hahaha,” ucap Arini dengan nyawa setengah sadar.
“Gue sakit hati, karena lo udah nikah sama Adira Gue nggak terima, karena lo harus jadi milik gue selamanya Tapi, lo itu kurang ajar memang, nggak pernah nerima gue di hidup lo, malah nerima Adira cewek jelek itu, padahal kan lo yang dari awal ngejar-ngejar gue, tapi malah sekarang lo yang acuhin gue,” ucap Arini sambil tersenyum setengah sadar.
“Loe dengerin gue baik-baik yah, emang awalnya gue suka sama lo, tapi setelah gue tau sifat loe kayak iblis gue suka sama loe, di tambah loe kan cuman mau harta gue, dasar cewek matre,” ucap Elfaro kesal.
Elfaro menghembus napas kasar, jadi Arini sudah mengetahui semuanya sejak awal. Dari Elfaro dan Adira yang sudah menikah dan tinggal serumah.
“Tapi sekarang gue bener-bener cinta sama loe El,” ucap Arini.
“Loe akan hancur, Arini! Loe nggak akan bisa macam-macam, lo uda sentuh istri gue sampai dia kritis di rumah sakit, gue nggak akan biarin lo bebas, siapapun yang uda buat istri gue sakit akan gue buat hancur, gue nggak mandang lo itu cewek ataupun cowok, bodo amat mau lo cewek gue nggak peduli,” ancam Elfaro menatap tajam gadis itu.
“Ayo Elfaro!!” Arini menarik tangan Elfaro agar mendekatinya, dan melakukannya dengan sang gadis.
“Lepas, cewek murahan!!,” bentak Elfaro dan mendorong Arini hingga tersungkur di atas kasur tersebut.
“Loe mau nasib seperti Adira, Elfaro? Oke! Loe boleh nolak gue, tapi lo juga akan menderita hahaha.....
Elfaro mendekatkan dirinya di hadapan cewek itu. “Bahkan, hidup lo sampai di di sini, Arini!!! Loe udah berakhir,” ucap cowok itu, membuat sekujur tubuh Arini merinding dan bergetar.
Lalu Elfaro keluar dari kamar itu dan mengunci kamar itu.
“Kalian jagain dia jangan sampai dia lepas,” perintah Elfaro ke Alfino dan teman-temannya.
“Loe mau kemana?,” tanya Alfino.
“Gue mau ke rumah sakit dulu,” jawab Elfaro.
“Gue temenin ya,” ucap Aldi.
“Iya,” jawab Elfaro singkat.
Lalu Elfaro, Aldi dan Brandon pun pergi ke rumah sakit, di markas tersisa Alfino dan teman-temannya yang bertugas menjaga Arini si cewek murahan itu.
...****************...
Di rumah sakit, Elfaro terlihat dengan telaten membersihkan Adira dengan kain basah yang telah dibilas oleh air hangat, agar gadis itu tetap bersih dan terjaga. Walaupun, sebenarnya Elfaro berharap, Adira secepatnya bangun dan kembali menemani nya setiap hari di rumah, hanya mereka berdua.
"Padahal, baru satu hari kamu berbaring di sini, Dir, rasanya setahun lamanya, bahkan lebih. Aku rindu kamu, Dir,” ucap Elfaro menatap Adira berkaca kaca.
Elfaro menghela napas panjang dan meletakan kain basah tersebut di atas meja, dan kini ia duduk di samping sang gadis, tidak dengan kesedihan, namun senyuman yang berarti.
"Aku ada bunga untuk kamu, tadi di jalan aku sengaja beli, soalnya jarang banget kan, aku kasih kamu bunga. Jadi, aku kasih sekarang, ya?” Elfaro meletakkan buket bunga mawar putih tersebut di samping Adira yang tertidur dengan lelap.
Elfaro tadi balik ke rumah untuk mengambil pakaian dan perlengkapan untuk dibawa ke rumah sakit. Ia tahu, bahwa Adira belum bisa diprediksi kapan gadis itu akan bangun, bahkan dokter sekalipun sudah pasrah, namun hanya alat-alat yang sekarang berada di tubuh Adira, yang menjadi penunjang sang gadis untuk hidup.
“Makasih udah bertahan hingga sejauh ini, Dir. Aku tahu, kamu merasakan sakit, kan? Dan, detak jantung ini, bahkan lemah, Dir. Tapi kamu berjuang, karena memang ingin hidup dan berkumpul kembali dengan aku, papa dan mama.”
Elfaro menganggam erat tangan Adira, yang kini terlihat lemas dan tak berdaya. “Andai, waktu itu aku nggak cemburuan, dan buat onar sama Alfino. Pasti, sekarang kita lagi berduaan di sekolah dan saling bertukar cerita serta makan di kantin.”
Memang Elfaro libur hari ini, karena ingin menemani Adira di rumah sakit. Dan kedua orang tuanya memakluminya, karena tidak tega melihat keadaan Elfaro yang dari kemarin jarang makan dan membersihkan dirinya.
Harusnya hari ini sudah masuk sekolah lagi, untuk perbaikan nilai hasil ujian sekolah kemarin, tetapi Elfaro meminta izin untuk tidak masuk karena ingin menemani Adira di rumah sakit.
Elfaro menarik napas panjang, merasakan sesak di dadanya, bahkan jantungnya terasa di tusuk oleh jarum yang banyak, karena sangat sakit melihat perempuan yang dicintainya, seperti ini gara-gara dia sendiri.
“Ak-aku nggak bisa hidup tanpa kamu, Dir! Nggak bisa Aku nggak sanggup, kamu harus janji kan akan sembuh, dan memulai kehidupan kita lebih baik lagi. Kalau bisa, kita kuliah nanti di luar kota agar terhindar dari orang-orang yang ingin berbuat jahat ke kamu,” ucap Elfaro sambil memegang tangan Adira.