
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Nyamuk? mana ada nyamuk gigit leherku?" tanya Violet bingung sendiri namun dia menoleh kearah suaminya yang nampak malu dengan apa yang mereka dengar dari Nirmala barusan.
Dan Violet baru sadar saat Shaka memberi kode padanya hingga ia langsung meraBA lehernya sendiri.
"Ya Tuhan!" pekik Violet yang baru sadar dan ingat dengan kelakuan Shaka barusan di kamar sebelum mereka keluar.
Violet yang masuk kembali langsung menuju meja rias untuk mengecek leher jenjangnya yang putih mulus tanpa cacat namun kini justru telah terukir 3 buah maha karya buatan Shaka yang jelas berwarna merah.
"Shaka!!!!!"
Glek
Shaka menelan salivanya kuat kuat karena ia takut menjadi sasaran Sang istri, ia lupa jika kini ada Nirmala di Apartemen mereka yang seharusnya tak lagi melakukan hal sesukanya.
"Kamu tuh, kan aku udah bilang kalau--," ucap Violet yang kesal namun ia tetap melirik kearah Nirmala.
"Aku pikir kan besok libur, Vi. Jadi--," jawab Shaka yang menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Jadi bisa melukis semaumu? begitu?" tanya Violet yang malah di jawab dengan anggukan kepala dan itu berhasil membuat kepala wanita tersebut mengeluarkan tanduk kecil.
Perdebatan terhenti saat pasangan suami istri tersebut mendengar suara perut Nirmala yang kelaparan.
"Ayo makan dulu, nanti makanannya dingin," ajak Shaka yang menuntun tangan Nirmala dan merangkul bahu istrinya ia harap sikapnya sekarang bisa membuat adil bagi dua wanita yang kini mengisi hidupnya tersebut.
"Wah, makannya enak enak ya," kata Nirmala saat Violet menyajikan makan malam mereka.
"Lala suka?" tanya Violet.
"Suka, ManDa," jawab Nirmala, setelahnya ia memejamkan mata dan itu sontak membuat YanDa dan ManDanya saling pandang tak paham dengan apa yang di lakukan Nirmala.
"Lala sedang apa?" tanya Shaka sambil mengusap kepala Si anak yatim piatu itu.
"Lagi cerita sama Ibu, lagi nawarin Ibu makan juga," jawab Nirmala.
Dua orang itu terenyuh hatinya, bahkan sakit luar biasa sebab karna sebuah kelalalain kini ada seorang anak yang harus tumbuh menjadi yatim piatu bahkan sebatang kara.
"Kha--," panggil pelan Violet saat raut wajah Shaka berubah.
"Aku gak apa-apa, Sayang. Kita makan ya," jawab Shaka yang masih mencoba menetralkan perasaannya.
Ketiganya pun makan tapi hanya Nirmala yang lahap menikmati. Sajian yang kata anak itu nikmat tersebut justru terasa berat dan sakit di tenggorokan Shaka.
"Lala--, besok bangun pagi ya," pinta Violet.
"Iya ManDa--, Lala beresin piringnya dulu ya."
"Gak usah, La. Biar ManDa aja yang cuci nanti," tolak Violet.
Tapi anak itu malah tertawa kecil, dan Shaka meminta Sang istri untuk tidak melarang agar Nirmala merasa nyaman tinggal bersama mereka sebab buka satu dua tahun mereka akan tinggal satu atap seperti ini.
Nirmala melakukan apa yang di mau yaitu membereskan apa yang berserak diatas meja, mulai dari piring hingga gelas kotor sehabis mereka makan barusan.
Sedangkan Shaka dan Violet hanya memperhatikan di tempat yang sama.
"Semua karnaku, Vi," ucap lirih Shaka dengan suara berat menahan sesak dan tangis sebab sudah banyak cairan bening di pelupuk matanya.
"Kha, jangan menghakimi dirimu terus menerus ya, kamu sudah berusaha untuk menebus salahmu dengan mengurus Nirmala kan?"
"Tapi aku memang salah, Vi. Aku ini penjahat!" tutuk Shaka sembari memukul kepalanya sendiri.
.
.
.
Jangan pernah menyesali apa yang sudah terjadi dalam hidupmu karna itu tak dapat di ubah. Cukup kamu ambil pelajarannya sambil terus berusaha melanjutkan harimu...