
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Dua hari berlalu, dari kejadian ini tentu yang paling terpukul adalah Shaka sebab ia adalah orang yang membuat korban kecelakaannya sampai meninggal dunia dalam kurang lebih satu minggu dirawat di rumah sakit. Semua sudah di urus pihak keluarga dan kini yang jadi bahan pertanyaan adalah, akan kemana anak korban tersebut?
"Mana Nirmala?" tanya Shaka saat baru benar-benar sadar dari obat penenang yang terpaksa dokter berikan padanya.
"Ada sama Mommy, mau minum?" tawar Violet, meski ia juga ikut terluka terutama sangat kecewa tapi perannya tak usah di ragukan, ia tetap menjadi istri sebagaimana mestinya.
"Di rumah?" tanyanya lagi yang hanya di jawab anggukan Kepala.
Setelah kejadian malam itu, baru kali ini mereka bicara berdua karna Shaka sibuk di tenangkan oleh kedua orangtuanya, sedangkan Violet yang sama kaget dan shock tak bisa berbuat apa-apa.
"Maaf, Vi--, aku benar-benar minta maaf ya," ucap Shaka lirih.
"Sudahlah, aku sudah tahu semua dari Daddy," jawab Violet menunduk.
"Kamu tak tahu dariku, dan kamu pasti kecewa kan, Vi?" tak ingin membohongi diri sendiri dan juga Shaka, wanita itu pun mengangguk. Ia memang benar-benar kecewa dengan sikap suaminya.
"Kamu menutupi hal sebesar ini, Kha? kenapa!"
"Ku kira semua baik-baik saja, aku tak ingin kamu panik dan Stress dengan masalahku, maaf."
Program hamil yang baru di jalani hampir dua bulan ini memang sebisa mungkin menjauhkan Violet dari tekanan atau beban pikiran. Tapi semua tak sesuai rencana Shaka, ia kelepasan dalam bersikap saking lelah dan takut kejadian buruk menimpa padanya.
Niat hati ingin menyembunyikan tapi akhirnya ketauan juga bahkan ia kini seperti orang bodoh karna semua keluarga pun tahu dari awal hingga kabar meninggalnya korban kecelakaan putra sulung Barata Rahardian tersebut.
Semua memang masih diam memantau sesuai keinginan Daddy Skala, Pria paruh baya itu tahu sifat anaknya yang kadang tak ingin terlalu ada yang ikut campur dengan masalahnya, termasuk saat Violet bukan keturunan Hardinata. Tapi, jika sudah serumit ini hingga Si korban meninggal keluarga pun harus turun tangan apalagi keadaan Shaka yang langsung tak sadarkan diri.
Entah bagaimana jadinya, jika ia benar-benar sendiri datang kerumah sakit saat itu.
.
.
.
Kondisi yang sudah jauh lebih baik membuat Dokter mengizinkan Shaka untuk pulang di sore hari dengan catatan ia harus tetap meminum obatnya hingga habis, dan layaknya seperti bocah ia pun menyanggupi asal bisa keluar dari bangunan yang membuat ia sedikit trauma tersebut.
"Pulang ke kerumah ya, Kha," ujar Mommy Qia.
Shaka dan Violet saling pandang, untuk hal ini keduanya memang belum merencanakan apapun.
"Ke apartemen aja, Mom. Aku gak apa-apa," jawab Shaka menolak halus ajak Mommynya.
"Yakin?" tanya Daddy Skala.
"Iya, aku bisa urus Shaka, kalian tak perlu khawatir, " jawab Violet meyakinkan kedua mertuanya. Meski berat akhirnya pasangan paruh baya itu mengizinkan anak dan mantunya pulang ke Apartemen.
"Mom--," panggil Shaka pelan karna ia merasa tak enak hati untuk bicara.
"Ada apa?"
"Hem, Shaka titip Nirmala," punya Si sulung.
"Iya, dia aman bersama Mommy, ada Rubby juga, kamu tak perlu khawatir."
Shaka mengangguk sambil tersenyum, ia yakin anak itu memang ada di tempat yang tepat. Kedua orang tuanya tak akan menyiakan seorang anak yang kini menjadi seorang yatim piatu tersebut.
Shaka dan Violet di antar pulang oleh supir ke Apartemen mereka, dan saat sampai keduanya langsung beristirahat. Meski tak melakukan apapun rasanya tubuh begitu lelah hingga serasa ingin ambruk di atas ranjang.
"Ini yang terakhir, Vi. Setelahnya aku akan selalu memintamu untuk selalu bersamaku," bisik Shaka yang kemudian mencium kening istrinya.
.
.
.
Pagi menjelang siang, Violet yang baru bangun kaget saat suaminya tak ada di kamar, ia seolah masih takut pria itu akan meninggalkannya tanpa alasan lagi. Jadi, meski kesadaran belum terkumpul Violet langsung keluar kamar untuk mencari Shaka.
"Sayang-- , kamu sudah bangun?"
"Huft, aku kira kamu tak ada, Kha."
Shaka tersenyum simpul, ia tak menyangka sikapnya kemarin-kemarin ternyata masih menimbulkan rasa takut dalam diri istrinya. Kini pasangan itu punya rasa traumanya sendiri sendiri yang harus mereka kendalikan dengan cara saling menguatkan satu sama lain.
"Aku gak kemana-mana, aku disini, Sayang," ucap Shaka sambil meraih tubuh Violet untuk ia peluk.
"Jangan pergi tanpa ku lagi, Kha," mohon Violet dalam dekapan suaminya yang mengangguk.
"Aku sedang menunggu makanan datang, kamu mau langsung makan?"
"Aku mau mandi dulu, tunggu aku ya," sahut Violet yang kemudian kembali kedalam kamar untuk membersihkan diri.
Shaka melepas pelukan wanita halalnya, ia menatap lekat punggunh Violet yang perlahan menjauh dan hilang di balik pintu kamar mereka.
Ia yang memang berada di ruang tengah kembali duduk di sofa sambil menunggu pesanan makanannya datang.
Dan belum juga Shaka menyusul ke kamar, Bell pintu Unit Apartemennya malah berbunyi dan bisa di pastikan itu jika itu pasti makanannya yang datang.
"Terima kasih," ucap Shaka sambil menerima pesannya.
"Sama-sama, Tuan."
Shaka yang baru menutup pintu di kagetkan dengan kehadiran istrinya yang tiba-tiba ada di belakang punggungnya tersebut.
"Sudah datang?" tanya Violet.
"Sudah, Sayang. Ayo makan," ajak Shaka sembari meraih tangan Violet, hal yang selama ini selalu di lakukan pria itu, tak perduli jaraknya ia memang selalu menggenggam tangan bidadari dunianya itu.
Violet yang melihat tangannya langsung tersenyum, kemarin memang benar-benar mimpi buruk baginya, rumah tangganya bakal neraka karna perubahan sikap Shaka yang tak biasa.
"Sayang, habis makan kerumah Mommy ya," ajaknya sambil menikmati makanannya sendiri.
"Ada apa? bukannya Mommy bilang mereka yang akan menjengukmu kesini?" tanya Violet.
"Iya, tapi kedatangan kita untuk--," ucap Shaka yang memandang serius kearah istrinya.
"Untuk apa, Kha?"
.
.
.
Menjemput Nirmala untuk tinggal bersama kita, boleh kan??