
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Pulang? pulang kemana maksudmu?" tanya Violet kaget dan bingung.
"Pulang ke Apartemen, aku ada urusan mendadak," jawab Shaka yang terlihat panik.
"Urusan apa? kamu gak bisa main pulangin aku gitu aja, Kha!" protes Violet dengan nada cukup lumayan tinggi.
Tak ingin menjadi pusat perhatian, Shaka pun akhirnya menarik tangan Sang istri keluar dari pusat perbelanjaan tersebut menuju parkiran mobil. Cengkraman tangan yang cukup keras terasa menyakitkan bagi Violet yang sudah menitikan air mata.
Sakit tangannya tak lebih sakit dari luka hatinya yang kecewa, entah urusan apa yang di maksud Shaka hingga tak mengikut sertakan dirinya. Shaka memilih mengantar Violet pulang dan itu di luar kebiasaannya.
"Maaf, ku mohon jangan menangis," ucap Shaka yang bingung harus apa.
"Kamu mau kemana? kenapa aku gak boleh ikut?" tanya Violet di sela isak tangisnya.
"Jangan sekarang, biar nanti ku ceritakan padamu. Aku antar kamu pulang, Ok."
Violet menatap tajam penuh amarah kearah suaminya, Shaka tentu peka tentang yang di rasakan Sang istri karena keduanya sudah belasan tahun bersama.
"Kamu pikir aku mau, hem?"
"Harus mau! aku akan tetap mengantarmu pulang," tegas Shaka yang membuat Violet terlonjak kaget dengan keputusan pria tersebut.
Mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi itu benar benar menuju ke arah bangunan bertingkat bak pencakar langit tempat tinggal mereka selama menikah. Tak ada obrolan apapun di antara keduanya bahkan Shaka tak mencoba merayu istrinya yang kini sedang menangis.
Sampai di parkiran mobil, Shaka langsung membuka pintu bagian kiri tapi Violet tak kunjung keluar dari kendaraan mewah tersebut.
"Ayo, Vi, aku buru buru banget."
"Kalau emang kamu buru buru harusnya gak perlu anter aku pulang dulu. Kita bisa langsung ke tempat tujuanmu itu, iya kan?!"
"Ini gak seperti yang kamu pikir. Aku akan pastikan kamu sampai di unit Apartemen lebih dulu," jawab Shaka masih dengan keputusannya.
"Apa ada yang salah dariku? apa selama ini aku merepotkanmu sampai kamu tak ingin melibatkanku lagi dalam urusanmu?" tanya Violet di sela isak tangisnya.
Namun, semua itu tak di jawab oleh Shaka ia memilih masuk kembali dalam mobil lalu melanjutkan perjalanan ke tujuan utamanya.
Tak tahu akan di bawa kemana, Violet pun tak berniat untuk bertanya. Ia diam saja meski rasanya saat ini sedang di bawa melayang karena Shaka melakukan mobil dengan kecepatan lumayan tinggi.
Rumah sakit? siapa yang sakit!!
Violet turun bersama Shaka, tapi pria itu berjalan sangat tergesa sampai Violet harus mengejarnya dengan sedikit berlari.
Tak ingat lagi rasanya jika biasanya tangan itu selalu saling menggenggam dimana pun mereka berada tapi tidak dengan hari ini.
"Dokter, bagaimana?" tanya Shaka panik melebihi rasa panik setelah mengangkat telepon di Mall.
"Mohon maaf, kami sudah melakukan yang terbaik tapi nyawa pasien tak bisa tertolong," jawab Dokter yang membuat Shaka lemas, ia bagai tak menapak dan mengendalikan tubuhnya sendiri dan mungkin akan tersungkur ke lantai jika saja tubuhnya tak di raih oleh seseorang.
"Daddy-- , aku," ucapnya lirih yang tak menyangka jika keluarganya justru sudah lebih dulu datang.
"Sabar, semua baik baik saja," jawab Daddy Skala yang sudah tahu masalah yang menimpa putranya.
"Tapi dia--,"
.
.
.
Ya Tuhan... aku seorang PemBUNuh...