
Adira da Elfaro menyambut kedatangan teman-temannya dengan penuh suka cita, tanpa rasa malu dan ragu lagi, secaraterang-terangan Elfaro merangkul bahu Adira, sementara Adira melingkarkan tangannya di pinggang suaminya. "Ayo masuk!" Adira mempersilahkan teman-temannya masuk ke kediamannya.
Memasuki kediaman Adira dan Elfaro, mereka semua melihat sekeliling ruang tamu, nampak ada foto pernikahan Adira dan Elfaro berukuran besar terpajang di dinding. “Jadi loe beneran udah nikah sama El? Loe kenapa enggak ngundang kita? terus kalian kapan nikahnya?” tanya Aliya cerewet.
“Ceritain dong gimana kalian bisa nikah, padahal dulu kan kalian itu selalu berantem kalau ketemu,” ujar Aldi.
“Duduk dulu yuk biar enak ngobrolnya," ajak Adira, ia juga mempersilahkan teman-temannya menikmati makanan dan minuman yang sudah ia dan Elfaro siapkan.
“Jadi gini guys, gue sama Adira itu di jodohin oleh orangtua kita,” Elfaro mulai bercerita.
“HAH JODOHIN??,” jawab mereka kompak sekaligus terkejut.
“Iya jadi papah gue sama papahnya Elfaro itu temenan dari lama, terus mereka jodohin kita deh,” sambung Adira.
“Bener-bener di luar prediksi BMKG cuy,” ujar Brandon.
“Berarti kalian udaa.....” ucap Aliya dengan nada menyelidik.
“BELOMMM,” jawab Adira dan Elfaro kompak.
“Waduh kok belum sih? gimananya sih loe El?” ujar Brandon.
“Sibuk bro, kita fokus sama ujian dulu,” jawab Elfaro.
Mereka semua mengangguk setuju, bahwa ujian sekolah memang membutuhkan konsentrasi tinggi. “Terus kalian gimana kedepannya? Bakalan lanjut kuliah atau engga?” tanya Ica.
“Iya dong," jawab Elfaro, kemudian ia menjelaskan bahwa mereka akan tetap mengejar karir dan cita-cita mereka. "Bagi kami, pernikahan bukanlah penghalang untuk terus meraih cita-cita, justru dengan adanya hubungan ini kita lebih semangat lagi dan saling support satu sama lain."
"Wihh keren," komentar Aldi.
"Terus kalau nanti kalian punya anak bagaimana?" tanya Ica.
Adira dan Elfaro saling tatap, kemudian Adira menjawab. "Kami berencana menunda momongan 2-3tahun ke depan, sampai kita benar-benar ready."
"Lagian hamil di usia muda seperti ini, resikonya tinggi. Gue enggak mau ada apa-apa sama Dira, jadi kita nikmatin aja dulu pacaran halal kita, sambil memperbaiki diri dan menyiapkan semuanya dengan matang, karena jadi orangtua itu bukan sesuatu hal yang mudah," imbuh Elfaro.
"Wih keren, gue suka sama pemikiran loe, El." Aldi memberikan tepuk tangan atas pemikiran Elfaro yang begitundewasa dan matang.
Ica yang berada di sebelah Adira, meraih tangannya dan menggenggamnya erat. "Kami turut bahagia atas kebahagiaan kalian berdua. Pokoknya kalian enggak boleh berantem lagi yah, harus saling jaga satu sama lain,” ujar Ica.
“Itu udah pasti Ca, gue akan selalu jagai istri gue," sahut Elfaro.
Obrolan selanjutnya di lanjutkan dengan topik seputar ujian sekolah yang sudah mereka lalu, hingga tak terasa waktu pun sudah semakin sore, Aliya dan yang lain pun memutuskan untuk pulang.
“Ya udah kalau begitu kita permisi pulang dulu ya,” ujar Aliya.
“Ya elah nanti dulu lah, besok kan kita udah enggak ujian lagi,” ujar Elfaro.
“Iya sih kita udah bebas tapi kan kita belum ganti baju bambang, badan gue lengket nih,” ucap Aliya ngegas.
“Eh, eh... Gue punya ide bagus. Bagaimana kalau kita healing rame-rame?" secara mengejutkan Brandon memberikan gagasan yang cukup menarik bagi mereka semua.
“Wah boleh tuh, gas lah,” jawab Ica.
“Gass, gue juga mau healing nih biar kepala gue nggak meledak,” sahut Aliya.
“Wah boleh juga tuh, yuk kita healing. Boleh kan El?” tanya Adira penuh harap, sembari menatap mata suaminya.
Elfaro mengelus kepala Adira dengan lembut. "Boleh sayang," jawabnya, kemudian beralih ke teman-temannya. "Kapan dan kemana nih rencananya?” tanya Elfaro.
“Gimana kalau minggu depan, kita ke puncak,” usul Aldi.
“BOLEHH 50,” jawab mereka bersamaan.
“Ya udah kita pamit dulu ya, sekali lagi selamat buat kalian, happy happy terus ya kalian, jangan berantem lagi,” ucap Aliya, memberikan ucapan selamat di susul dengan teman-temannya yang lainnya yang mengucapkan selamat dan berpamitan.
Mereka pulang secara berpasang-pasangan. Aliya dengan Brandon, Ica dengan Aldi.
...****************...
“Gue benar-benar enggak nyangka kalau Adira sama Elfaro udah nikah,” ucap Brandon ketika ia mengantar Aliya pulang.
“Iya sama gue juga enggak nyangka banget, padahal dulu mereka sering berantem dan saling benci satu sama lain, eh tau-tau sekarang mereka udah nikah aja,” jawab Aliya.
“Kalau loe mau enggak nikah sama gue?” tanya Brandon.
“Hah?” jawab Aliya pura-pura tidak dengar karena pakai helm.
“LOE MAU NGGAK NIKAH SAMA GUE,” teriak Brandon sampai pengendara motor yang lainnya pun menengok ke arah mereka.
Aliya menepuk bahu Brandon dengan kesal. “Loe kalau ngomong bisa pelan-pelan nggak? di liatin banyak orang tuh, malu tau semua orang pada nengok ke arah kita."
“Lagian tadi loe enggak denger sih gue ngomong apa,” jawab Brandon. “Jadi lu mau nikah sama gue?” ulang Brandon.
“Duh gue belum kepikiran buat nikah,” jawab Aliya jujur, yang ada di otaknya kini adalah melanjutkan kuliah dan meraih cita-citanya.
“Ya udah kalau begitu gimana kalau pacaran aja?” tanya Brandon.
“Emang loe mau pacaran sama gue?” tanya Aliya balik.
“Iya mau lah, udah lama gue suka sama loe, tapi guenya aja yang belum ada mental buat nembak loe,” ujar Brandon apa adanya.
“Yaelah kenapa enggak dari dulu sih? gue kan juga suka sama loe,” jawab Aliya.
"Serius Al?” tanya Brandon meyakinkan.
“Ya serius lah,” jawab Aliya.
“Yaudah berarti sekarang kita resmi berpacaran nih?” tanya Brandon penuh harap
“Ah nggak asik loe, masa nembak cewek di jalan," ujar Aliya tak puas, ia menginginkan sesuatu yang lebih. Misalnya Brandon menatap matanya dengan serius atau membawanya ke tempat yang romantisa seperti pantai.
“Hehehehe, nanti gue akan buat acara resmi hari jadian kita di puncak," ucap Brandon.
"Benarkah?"
“Iya, tapi sekarang pegangan dulu dong!” pinta Brandon.
Aliya pun dengan langsung memeluk pinggang Brandon dari belakang, hingga mereka tiba di depan kediaman Aliya.
“Nyaman yah sampe enggak mau di lepas?” goda Brandon.
“Eh sorry, udah sampe ternyata hehehe,” wajah Aliya memerah karena malu, ia pun bergegas turun dari motor Brandon. "Ya udah gue masuk dulu ya."
“Iya, dadahh sayang, nanti vc ya hehe,” ucap Brandon.
“Iya, hati-hati ya kalau uda sampe rumah kabarin,” ujar Aliya sambil memasuki rumahnya, dan Brandon pun pergi dari pekarangan rumah Aliya.
...****************...
(Ica dan Aldi)
“Ngobrol kek Ca,” ujar Aldi sembari melajukan kendaraannya menuju kediaman Ica.
“Ngobrol apaan?” tanya Ica, cuek.
“Apa ya? loe enggak ada topik apa gitu, dari pada kita diem-diem aja kaya loe lagi naik taxi online tau!!” Aldi, memindahkan gigi mobil untuk menambah kecepatannya.
“Enggak ada topik gue, jadi mending diem aja.”
“Yaelah cewek-cewek emang enggak mau nyari topik.”
“Ya udah loe nyetirnya di temenin aja sama si Topik jangan sama gue!” ujar Ica sewot.
“Ya udah iya iyaa,” Aldi pasrah dan tak tahu harus menjawab apa.