
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Nirmala," jawab anak perempuan manis itu.
Shaka tersenyum simpul sebab baginya nama itu sangat cantik dan langsung mengingatkan pada dongeng masa kecilnya.
"Nama om Shaka, masih ingat kan?" tanya Shaka yang memang sejak awal sudah memperkenalkan dirinya tapi baru kali ini mereka berdua berinteraksi.
Nirmala yang mengangguk membuat Shaka mengembangkan senyumnya lagi. Kini, keduannya sudah ada di toko kue yang mereka tuju. Tapi, tak hanya donat coklat saja yang di beli Shaka tapi ada beberapa juga untuk Mbak perawat di rumah sakit.
"Banyak banget?"
"Iya, Nirmala suka kan?" tanya Shaka lagi.
"Lala, ibu panggilnya Lala," balas Si anak kecil berponi tersebut.
Selesai membeli Donat dan berbagai kue yang lain, kini Shaka membawa Nirmala kembali ke rumah sakit. Bocah perempuan itu tak pernah mau bicara duluan jika tak di tanya, jadi Shaka harus pintar pintar mencairkan suasana untuk mereka berdua.
Sampai di gedung bertingkat tiga tersebut, Shaka langsung menyerahkan Nirmala pada Mbak suster. Ia pun pamit dan berjanji akan datang lagi esok siang.
"Cepat beritahu saya jika Nirmala ingin sesuatu," pesan Shaka, cukup ibunya saja jangan sampai hal buruk terjadi pula pada anak kecil itu.
"Baik, Tuan."
Shaka yang sudah menyerahkan beberapa yang dan meletakkan CCTV di ruang tersebut terus memantau keadaan Nirmala dan Ibunya serta melihat langsung bagaimana cara kerja Si mbak perawat.
.
.
.
Shaka pulang dengan perasaan tak karuan, ada rasa takut terselip dalam hati pria tampan tersebut. Masalah yang sedang ia hadapi benar-benar menguras otak untuk mencari alasan serta menguras tenaga karna ia harus bolak balik rumah sakit di tengah kesibukannya menjadi mahasiswa dan suami.
Yang awalnya ia pikir akan langsung ke kampus nyatanya masih ada kurang lebih satu jam, dan itu di gunakan Shaka untuk pulang ke Apartemen.
Dan setibanya ia di bangunan tinggi bak pencakar langit, Shaka langsung mencari keberadaan Sang istri yang ternyata ada di kamar.
"Vi, kamu kenapa?" tanya Shaka ketikan wanita halalnya sedang meringkuk diatas ranjang.
"Kamu sudah pulang? apa urusan mu sudah selesai juga?" tanya balik Violet.
"Iya, Sayang, jauh lebih cepat dari yang ku pikirkan," jawab Shaka dengan tangan mengelus lembut kepala Violet.
Bukan, bukan jawaban itu yang di harapkan oleh Violet. Ia butuh tahu dari mana suaminya pergi barusan sampai ia meninggalkan sarapan yang sudah di buatkan oleh Violet, rasa curiga dan ketersinggungan nya semalam di hantam lagi oleh sakitnya di tinggal begitu saja. Jangan tanya bagaimana kecewanya wanita itul sekarang.
Tak ada lagi obrolan lagi di antara mereka hingga Shaka berniat mengganti bajunya untuk bergegas ke kampus, sedangkan Violet masih dengan posisinya.
Shaka, aku kangen kamu. Aku kangen di rayu dan di bercandain kamu. kamu kenapa sih?
Cek lek
"Vi, kok belum siap siap? kamu mau kuliah gak?" tanya Shaka saat ia sudah keluar lagi dari ruang ganti.
"Kamu aja, aku gak enak badan," jawab Violet yang menyembunyikan tubuhnya hingga kepala di dalam selimut tebal.
"Enggak, cuma gak enak badan aja. Kamu kalau mau kuliah berangkat aja duluan," titah Sang istri yang tak seperti biasanya.
Shaka yang khawatir tentu langsung mendekat, ia duduk lagi di tepi ranjang lalu menyibak kain tebal dari wajah cantik istrinya.
"Kenapa?"
"Gak apa apa, Kha. Kamu duluan aja ya," jawab Violet yang di balas gelengan kepala.
Shaka yang memegang kening istrinya hanya bisa membuang napas kasar, ia merasakan ada yang lain dari tubuh wanita itu.
"Kamu demam, Sayang. Aku ambilkan obat dan air dulu," ucap Shaka sambil bangun dari duduk.
Kini, pria tinggi dan tampan tersebut sudah keluar dari kamar, ia berjalan kearah dapur tapi langkahnya berhenti di dekat meja makan.
"Apa Violet belum sarapan?" gumam Shaka saat ia melihat keadaan diatas meja makan masih sama dengan saat ia tinggalkan pagi. Nasi goreng dan dua gelas teh masih pada tempatnya masing-masing tak tersentuh sama sekali.
Shaka yang merasa bersalah langsung kembali ke kamarnya setelah ia mengambil air putih dan obat tapi ia ragu memberikannya sebab Sang istri belum sarapan sama sepertinya.
Cek lek
Shaka masuk kedalam kamar, pandangan dua manusia tersebut kini saling bertabrakan tapi hanya Shaka yang memberikan senyum.
"Sayang, kamu belum makan?" tanya Shaka.
"Belum."
"Kenapa? makan ya aku suapi," tawar Shaka yang benar-benar merasa bersalah.
"Pergilah ke kampus, nanti kamu terlambat," titah Violet yang masih menekan rasa kesalnya.
"Kamu pikir aku akan meninggalkan istriku dalam keadaan seperti ini, hem?" goda Shaka yang langsung mencium kening Violet yang terasa hangat.
"Kamu mau makan apa? biar aku pesan saja ya, atau mau nasi goreng yang tadi pagi?" tawarnya lagi.
Violet pun langsung menggeleng, masakannya pasti sudah tak enak untuk di makan karna dingin dan sedikit keras.
"Aku pesan Sop saja ya."
"Iya, aku ke kamar mandi dulu," jawab Vio sambil bangun dari baringnya. Ia beranjak untuk buang air kecil tapi langkahnya berhenti di keranjang baju cucian kotor.
"Ini kan baju Shaka yang tadi, tapi kok baunya---," gumam Violet sambil terus mengendus kaos berwarna Navy tersebut.
.
.
.
.
Ini harum minyak dan bedak bayi....