Little Bride

Little Bride
BAB 55



“Gimana kita kuliah di Yogyakarta, di sana kan banyak universitas bergengsi, bahkan suasana di kota pelajar itu sangat indah, Dir. Kita jangan menetap lagi di Jakarta, besok kalau udah lulus berdua baru balik.”


Elfaro tidak bisa membayangkan dirinya, akan hidup tanpa kehadiran Adira di sisinya, cowok itu tidak sanggup dan kini langsung menggelengkan kepalanya, karena sangat-sangat takut, pikirannya yang sekarang membunuhnya.


“Katanya, kalau orang koma, berarti alam bawah sadarnya masih berfungsi, pasti kamu sedang memperhatikan aku kan sekarang, Dir?” Elfaro menentukan titik di mana Adira memang berdiri di hadapannya, walaupun kini tubuhnya yang tidak berdaya dan berbaring di atas tempat tidur.


“Kalau memang benar, kamu ada di sekitar sini, Dir. Dan seperti apa yang dibayangkan oleh semua orang, maka kembalilah, Dir ke tubuhmu. Bangunlah, demi kita semua orang yang menyayangi mu.”


“Aku janji, apapun yang akan kamu butuhkan untuk bertahan hidup, akan aku berikan, Dir. Untuk menebus kesalahanku dan juga menghukum suami tidak bertanggung jawab seperti aku.”


Elfaro kembali tersenyum dan kini memperhatikan bunga mawar putih di samping Adira. “Aku akan setiap hari membelikan mawar putih untuk kamu, Dir, karena bunga itu melambangkan kesucian cinta kita.”


Elfaro tiba-tiba tertawa pelan. “Kenapa takdir jahat banget ya sama kamu, Dir?.”


“Setelah ini, hanya kebahagiaan yang akan aku berikan. Bahkan, tidak akan ada lagi air mata kesedihan untuk tahun-tahun berikutnya.”


Suara pintu terbuka, kedua orang tua Elfaro kini masuk ke dalam ruangan tersebut. Melihat putranya yang sendirian dan berbicara dengan Adira yang memang sudah dinyatakan koma oleh dokter.


“Sudah dimakan makanan yang Mama belikan untuk kamu?” tanya mamah Elfaro kepada putranya itu.


“Sudah, Ma! Tapi, tidak habis. Elfaro sudah kenyang,” balas Elfaro menatap mama nya dan menganggukkan kepalanya.


“Baguslah kalau seperti itu, sekarang mending kamu istirahat karena kamu kan dari tadi jagain Adira terus, kamu juga harus butuh istirahat biar badan kamu selalu fit, pasti Adira juga nggak mau lihat kamu sakit,” ucap mamah Elfaro.


“Ma! Elfaro mau tetap jagain Adira, Elfaro akan selalu di samping Adira, Elfaro yakin, Elfaro bisa jaga diri Elfaro sendiri, Elfaro juga janji akan selalu ingat makan mah,” jawab Elfaro.


“Ya sudah kalau gitu, mamah pesan sama kamu jaga makan kamu, jangan lupa makan, itu yang utama, kamu harus tetap sehat agar bisa jaga istri kamu,” ujar mamah Elfaro.


“Iya mah,” jawab Elfaro singkat.


Tidak lama dari itu pintu ruangan Adira pun terbuka lagi, terlihat di sana Rasyid dan Wulan datang untuk menjenguk anaknya.


“Pah, Mah,” ucap Elfaro sambil bersalaman kepada Rasyid dan Wulan.


“El papah mau denger langsung dari mulut kamu, gimana kronologi kejadian kemarin?,” ucap Rasyid.


“Iya pah El akan ceritakan semuanya,” jawab Elfaro.


“Silahkan.”


“Jadi gini pah, kemarin El dapet chat dari Alfino, di dalam chat itu Alfino minta El dateng ke gudang kosong deket sekolah di jam 17.00, akhirnya El datang ke sana, memang El nggak bilang sama Adira soalnya Adira lagi tidur, ntah tau darimana tiba-tiba Adira datang ke gudang kosong itu, bodohnya El malah ngeladenin Alfino untuk berantem, saat El sana Alfino lagi berantem tiba-tiba ada orang yang mau nusuk perutnya Alfino tapi malah meleset mengenai perutnya Adira,” jelas Elfaro.


“Lalu bagaimana dengan orang yang menusuk itu apakah sudah tertangkap?,” tanya Rasyid.


“El kurang tau pah, waktu kejadian El langsung bawa Adira ke rumah sakit, sedangkan yang mengejar pelakunya itu Alfino dan teman-temannya,” jawab Elfaro.


Elfaro sengaja berbohong kepada orang tuanya, karena ia ingin mengurus semuanya sendirian tanpa melibatkan kedua orang tuanya, sudah cukup Elfaro membuat susah kedua orang tuanya, kali ini Elfaro akan mengurus semuanya sendirian tanpa melibatkan kedua orang tuanya.


“Maafin El yah mah pah karna uda boong sama kalian,” ucap Elfaro dalam hati.


“Kalau gitu papah akan cari tahu siapa orang yang sudah jahat ke putri papah,” ucap Rasyid marah.


“Kamu yakin El?,” tanya Wulan kepada Elfaro.


“Iya emang kamu bisa sendiri?,” tanya mamah Elfaro. karena dia tidak mau putranya kenapa-napa.


“Papah tanya sama kamu, kenapa kamu ngeladenin Alfino sih? Apa untungnya sama kamu? Mau jadi sok jagoan kamu hah? Semua kejadian ini, jadikan pembelajaran berharga untuk kamu, Elfaro! Dan papa tidak mau mendengar apapun alasannya besok, sehingga kamu mengulanginya kembali. Sekarang kamu pala maafkan, tapi kamu juga harus berusaha untuk membuat Adira sembuh total kembali seperti dulu,” ucap Agus marah.


“Kemungkinan besar, kalau Adira besok bangun, tubuhnya belum pulih sepenuhnya. Dan akan menghabiskan berminggu-minggu untuk sembuh dan menggunakan kursi roda. Kamu siap untuk mengurus istrimu dengan sabar?,” tanya mamah Elfaro.


“Apapun akan Elfaro lakukan, Ma! Elfaro akan menerima Adira walaupun dia dalam kondisi apapun, karena Adira pasti akan melakukan hal yang sama kalau aku yang berada di posisi itu.”


“Kalau kamu tidak mau sekalipun dan tidak sanggup, Mama sendiri yang akan mengambil Adira dari kamu selamanya,” ucap mamah Elfaro lagi.


...****************...


“Bebaskan Arini, biarkan dia pulang ke rumahnya, tapi kalian bilang kelakuan Arini kepada orang tuanya,” pesan yang terdapat di dalam handphone Alfino.


Lalu Alfino pun memberitahu lepada teman-temannya untuk membebaskan Arini dan mengantarkan dia pulang.


“Kami bebaskan loe,” ucap salah satu teman Alfino.


“Lepasin gue, gue mau pulang,” teriak Arini.


Arini pun di masukkan ke dalam mobil dan di antarkan pulang. Sesampainya si rumah Arini Alfino menceritakan semuanya kepada papah Arini dan betapa kagetnya papah Arini saat mengetahui sifat anaknya sejahat itu.


“Sebelumnya apakah mamahnya Arini ada pak? Biar beliau tau sifat anaknya seperti ini,” ujar Alfino.


“Mamahnya tidak ada,” jawab papah Arini singkat.


“Kalau begitu Terimakasih nak atas infonya, saya selaku papanya Arini sangat meminta maaf atas kelakuan anak saya, dan saya akan membuat pelajaran kepada Arini agar tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi,” ucap papa Arini.


“Ada satu lagi yang bapak harus tau,” ucap Alfino.


“Apa?” tanya papa Arini.


Alfino pun langsung menunjukkan salah satu foto di layar handphone nya yang dia dapatkan dari Elfaro. Dan Alfino pun langsung mengirim foto itu ke handphone papanya Arini. Betapa kaget dan malunya papa Arini saat melihat foto itu, sampai papahnya Arini menundukan kepalanya karena tidak menyangka anaknya seperti itu, mau di taro dimana muka papanya Arini saat ini.


“Kalau gitu kami pamit dulu ya pak, dan saya mohon untuk di didik lagi anaknya agar menjadi seorang yang lebih baik lagi,” ucap Alfino dan teman-temannya.


Lalu Alfino pun pergi dari rumah Arini sambil tersenyum kemenangan.


“ARINI SINI KAMU,” teriak papah Arini.


Arini pun menghampiri papanya.


Plak!!!


Arini tersungkur ke bawah, ketika sang papa kini menatapnya tajam, dan menamparnya dengan sangat kasar, membuat gadis itu menyentuh pipinya yang terasa sangat sakit, bahkan sudut bibirnya sekarang mengeluarkan darah.


“Anak sialan!! Apa yang kamu lakukan, semuanya merugikan saya!! Lihat! Apa maksud dari semua ini, Arini?! Kamu berubah menjadi perempuan murahan?!.”