Little Bride

Little Bride
Little Bride 33



🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Jadi, aku akan menjadi Manda untuk Nirmala?" tanya Violet masih dengan derai air mata.


Manda adalah panggilan untuk anak mereka kelak bagi Violet jika program hamil wanita itu berhasil, tapi entahlah karna sampai detik ini tak ada tanda tandanya seorang calon buah hati ada di dalam rahimnya. Dokter pun tak berkata apa apa tentang Dropnya Violet saat ini.


Sedangkan Shaka tak langsung menjawab atau juga mengangguk kan kepala, ia takut semakin menambah rasa kecewa dalam diri istrinya yang berawal dari masalah yang di tutupi Shaka hingga kini semua merembet kemana-mana.


"Itu baru niatku, Vi. Tak apa jika kamu tak mau, Sayang," ujar Shaka yang semakin mengeratkan genggaman tangannya.


Ya, itu baru niat yang ada dalam hati Shaka karna perihal Adopsi anak secara sah dimata hukum tentu bukan perkara mudah. Hidup dengan bergelimang harta dan kekuasaan tak membuat mereka semena-mena dengan aturan Negara. Semua harus sesuai proses yang ada dan Syarat yang berlaku salah satunya adalah usia minimal calon orang-tua dan juga pernikahannya. Bagi yang sudah kita tahu, jika batas kisaran umur pasangan suami istri yang berniat mengadopsi adalah 25 sampai 55 tahun dengan rentan usia pernikahan minimal 5 tahun. Dan itu belum ada pada Shaka dan Violet mengingat mereka baru saja masuk usia di kepala dua dengan pernikahan yang baru seumur jagung meski soal penghasilan tentu tak perlu di ragukan lagi, jangankan satu anak karna untuk mengadopsi 10 anak pun Shaka tentu mampu melakukannya.


"Bisakah beri aku waktu? jangan sampai membuat kita nanti menyesal di kemudian hari, Kha. Kamu sudah selidiki keluarga besarnya?" tanya Violet yang jauh lebih hati-hati dalam urusan ini.


Sebagai anak angkat, ia tentu tahu rasanya saat sudah sayang dan nyaman tapi harus di hadapkan dengan keluarga di masalalu, bathinnya akan terguncang lagi saat sebuah pilihan harus di ambil sebab saat beranjak dewasa anak hasil adopsi bisa membuat keputusan tanpa paksaan dari pihak manapun.


Sedangkan untuk sekarang, belum ada yang bisa menebak bagaimana Nirmala yang sebenarnya.


"Tentu, Sayang. Kamu bisa pelan-pelan mengenal Nirmala, kita jalanin saja semuanya hingga lama kelamaan semua terasa terbiasa," ucap Shaka, ada perasaan lega karna yang ia tangkap tak ada ekspresi atau kata penolakan kecuali rasa khawatir.


Meski rasanya sulit, Violet akan menerima kehadiran Nirmala. Padahal yang jelas ayah kandungnya sendiri saja masih terasa asing baginya. Semua orang punya sifat dan karakternya sendiri, begitupun dengan Violet yang tak bisa kenal dan mudah nyaman dengan orang baru yang tiba-tiba ada di sekitarnya. Ia akan perlahan mendalami siapa orang tersebut hingga rasa nyaman saat berinteraksi ia dapatkan. Violet bukan orang yang mudah bergaul, ia hanya memusatkan dah lebih mengutamakan orang yang memberinya rasa aman.


Egoiskah orang seperti itu?


Apa hanya orang Humble dan bisa cepat beradaptasi yang paling baik?


.


.


.


Kabar sakitnya Violet tentu langsung sampai di telinga keluarga Hardinata dan juga Rahardian hingga orangtua dan mertuanya datang ke Apartemen dengan rasa khawatir.


"Mungkinkah Vio hamil?" tanya Mama Maya pada menantu laki-lakinya tersebut, ia tahu Sang putri sedang menjalani program hamil beberapa bulan ini dan ia sangat menunggu kabar baik tersebut.


"Belum di periksa, Mah. Shaka baru panggil dokter kesini, mungkin kalau keadaannya belum membaik juga baru akan di bawa ke rumah sakit," jawab Shaka.


"Kenapa harus nanti sih, Kha."


"Mama kan tahu, Vio paling susah dengan hal itu," sahutnya lagi, Shaka bukan sembarang suami bagi Violet ia tahu apa yang di suka dan tak suka istrinya.


Mama Maya mengangguk paham, ia yang mengurus Violet sejak di lahirkan dari ibu kandungnya tentu jauh lebih tahu tapi rasa khawatir mematahkan semua itu.


Sedangkan Violet yang masih terlelap usai meminum obat akhirnya bangun, ia tersenyum saat melihat mamanya ternyata ada di sisinya.


"Iya, Sayang. Mana disini, Nak."


Shaka yang ikut lega karna Sang istri sudah bangun dengan keadaan baik memilih keluar dari kamar karna di ruang tengah ada Mommy dan Daddynya. Ia memberikan waktu pada dua wanita itu bersama karna selain dirinya, Violet juga punya tempat berbagi yaitu mamanya sendiri.


"Kamu kenapa? tak biasanya kamu sampai tak sadarkan diri seperti ini, Sayang."


"Enggak, Mah. Vio cuma kecapean," jawabnya manja sambil mengeratkan pelukan.


Ia yang terlanjur sayang dan nyaman pada keluarga Hardinata tak mudah berpaling pada orangtua kandungnya sendiri padahal Sang Ayah jauh lebih berharta tapi bukan itu yang di cari Violet. Ada sedikit rasa kecewa dalam hatinya yang belum dapat ia sembuhkan meskipun sudah bertahun-tahun berlalu. Lalu dimana Ibu Ajeng?


Ia masih dalam pengawasan keluarga Hardinata dan juga Adjie, wanita malang itu masih dalam proses penyembuhan karna sakit jiwa tentu tak sama seperti sakit fisik.


"Memang apa yang sudah kamu lakukan, Sayang?" tanya Mama Maya bingung sebab yang ia tahu anaknya hanya punya satu rutinitas pasti yaitu kuliah, selebihnya ia akan bersenang-senang bersama Shaka.


"Gak ada sih, cuma kayanya aku butuh istirahat aja," sahut Vio, rasa lelah tentu tak hanya tentang tubuh tapi ada hati dan juga pikiran, itulah yang di rasakan Menantu Rahardian saat ini.


"Apa karena anak itu, Vi? dia buat masalah denganmu, hem?" selidik Mama Maya yang tahu juga permasalahan menantunya kemarin hingga hadirnya Nirmala di dalam rumah tangga putrinya tersebut.


"Tidak, Mah. Mama tenang saja, anak itu baik, ia tak rewel dan juga penurut hanya saja aku yang sulit dekat dengannya," jawab Vio.


Jika menelisik tentang sifat Violet, mungkin saja itu menurun dari ibu kandungnya yang tak banyak bicara termasuk tentang kehamilannya dulu hingga menjadi bumerang baginya dan keluarga sampai Sang ibu menjadi korban atas kenyataan yang tengah di hadapkan secara mendadak, sakit jiwa yang di alami Ajeng pun tak lain dari rasa tertekannya karna ia tak bebas mengutarakan semua yang begitu menyesakkan dada.


"Katakan jika kamu tak sanggup, kamu punya hak, Sayang."


"Tak apa, aku harus menerima keputusan suamiku, Mah. Aku akan ikut menemaninya bertanggung jawab, jangan sampai karna aku, ia larut dalam rasa bersalahnya itu," ungkap Vio, perannya sama penting dalam masalah yang di hadapi oleh Shaka.


"Tapi mama tahu siapa kamu, Nak," ucap lirih Mama Maya yang kesal sendiri, ia tak bisa berbuat banyak dengan apa yang kini menimpa anak kesayangannya tersebut, jika Violet mangangkat Nirmala sebagai anak tentu posisi mereka jauh berbeda.


Mama Maya jatuh cinta pada Violet saat pertama kali melihat bayi malang tak berdosa itu karna memang ia butuh sosok anak.


Lain dengan Violet yang tak ada rasa kecuali kasihan sejak awal. Kini, ia harus berusaha menumbuhkan rasa sayang itu dengan berjalannya waktu setelah ia mampu menerima.


"Akan ku coba, Shaka mau memberiku waktu, Mah. Bukankah dia juga tahu siapa istrinya ini? ada sifat yang begitu dipahami oleh suamiku," sahut Violet meyakinkan mamanya jika semua akan baik baik saja.


Bagi yang tahu Violet mereka juga akan tahu jika wanita itu adalah seorang introvert, fokus terhadap pikiran dan perasaannya sendiri.


Meskipun begitu ia tetap bisa bergaul dengan orang baru walau harus memakan waktu yang cukup lama.


Sehingga, ketika bergaul, seorang introvert tetap berbicara sesuai dengan porsinya, sambil menganalisis orang tersebut.


Selain itu ia juga cenderung menggunakan bagian otak yang bernama lobus frontalis atau otak bagian depan.


Bagian otak ini bertugas merencanakan, memikirkan penyelesaian masalah, serta mengingat berbagai kejadian.