Little Bride

Little Bride
BAB 46



Besok malamnya, Adira dan Elfaro pergi ke rumah orang tua Adira untuk makan malam bersama, dalam kesempatan itu Adira berniat membahas soal pernikahannya dengan Elfaro.


“Cepet El, nanti mamah sama papah nunggu kita kelamaan,” Adira tak sabar menunggu suaminya mengenakan pakaiannya.


“Iya sebentar sayang,” jawab Elfaro, ia bergegas menyisir rambutnya, lalu kemudian mengenakan minyak wangi.


"Aku wangi tidak?" tanyanya sembari merangkul istrinya, dan berjalan keluar kamar.


"Enggak," jawab Adira singkat, sejujurnya ia tak begitu menyukai aroma minyak wangi suaminya, ia lebih suka pada aroma asli dari tubuh suaminya yang begitu menenangkan baginya.


Elfaro mengangkat kedua tangannya, ia mengendus-endus ketiaknya yang kanan dan kiri secara bergantian. "Wangi kok," ucapnya cemberut.


"Udah ih, kenapa jadi ngurusin ketek sih?" Adira menarik tangan suaminya agar ia berjalan lebih cepat menuju garasi.


"Iya, iya," Efaro membuka kunci mobil dan membukakan pintu untuk istrinya, setelah itu barulah ia masuk dan duduk di belakang stir kemudi.


“Mamah sama papah kamu dateng enggak?” tanya Adira ketika mereka sudah dalam perjalanan menuju kediaman orangtuanya.


Elfaro mengangguk. “Katanya si dateng, tapi enggak tau juga belum ngabarin lagi” Elfaro menraih tangan Adira dan menggenggamnya.


Hampir satu jam berkendara, akhirnya Elfaro menepikan kendaraannya di kediaman orangtua istrinya. Tanpa menunggu suaminya membukakan pintu mobil, Adira berhambur keluar daei mobil dan langsung masuk ke kediaman orang tuanya. “Assalamualaikum mah, pah Adira datang,” teriak Adira dari pintu depan.


“Waalaikumsalam sayang, anak-anak Mama sudah datang ayo masuk,” Wulan menyambut kedatangan anak dan menantunya dengan penuh suka cita.


“Mamah sama papah belum dateng?” Elfaro kepada ibu mertuanya.


“Lagi di jalan, sebentar lagi juga sampai,” jawab Wulan.


Dan benar saja, baru saja Wulan menutup mulutnya kedua orangtua Elfaro pun datang dan langsung masuk ke kediamannya.


“Sudah lengkap semuanya, ayo kita makan,” ajak Wulan.


Saat mereka semua berjalan ke arah ruang makan, ayahanda Adira barunkrluar dari ruang kerjanya, ia langsung bergabung dan menyambut semua yang datang ke kediamannya.


"Ayo silahkan di makan," ucap ayahanda Adira.


Adira yang sudah rindu dengan masakan ibundanya langsung mengambil dengan prosi banyak, namun bukan ingin ia makan sendiri melainkan berdua dengan suaminya, ia menyuapi suaminya dengan telaten sembari mengobrol hangat dengan keluarganya.


“Papah liat-liat kalian makin mesra saja,” ujar Rasyid.


“Ih papah apaan si,” ucap Adira malu.


“Enggak usah malu-malu gitu sayang, kami senang loh melihat rumah tangga kalian rukun dan romantis.” ucap mamah Elfaro. Adira tersenyum kemudian kembali menyuapi suaminya.


Selesai makan malam, Adira memulai obrolan seriusnya dengan kedua orangtua dan mertuanya. “Mah pah,” panggil Adira.


“Iya sayang ada apa?” tanya mamah papah.


“Aku bingung, aku mau lanjut kuliah seperti teman-temanku yang lain. Tapi jika aku lanjut kuliah nanti bagaimana dengan pernikahanku dengan Elfaro? Aku belum siap untuk punya anak."


"Itu benar Dira," sahut ibunda Elfaro. "Kalian bisa memakai alat kontrs*psi jika kalian belum siap untuk punya anak."


"Itu dia mah, kami tidak tahu alat kontrs*psi yang aman untuk Adira, aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan Adira di kemudian hari."


"Jadi sampai sekarang kalian belum melakukan apa-apa?" tanya Wulan.


Adira dan Elfaro kompak menggelengkan kepala mereka. Kedua orangtua Elfaro dan Adira menghembuskan napas beratnya, mereka merasa bersalah karena tidak mebekali anak-anaknya dengan s*x edukasi yang benar, sehingga membuat mereka bingung dalam menjalani rumahtangga mereka.


Ibunda Elfaro ikut menjelaskan beberapa pilihan alat kontrs*psi yang ada. "Kalau menurut mama, yang paling aman dan tidak menimbulkan efek di kemudian hari kalian bisa menggunakan c*nd*m."


"Tapi jangan sape kelupaan, kalau kalian benar-benar belum siap memiliki anak," sahut Wulan.


"Iya mah," jawab Adira, ia merasa lega mendapatkan solusi atas masalah yang selama beberapa hari ini mengganggu pikirannya.


"Lalu apa rencana kalian kedepannya? Dimana kalian ingin kuliah?" tanya ayahanda Adira.


"Kami berniat kuliah di Univesitas Jakarta jurusan manajement, tapi aku akan mengambil kelas karyawan sebab aku akan ikut bekerja di tempat papa. Sementara Adira tetap mengambil kelas reguler," terang Elfaro.


"Kami akan selalu mendukung apa pun keputusan kalian, selama itu baik untuk kalian berdua," ucap ayahanda Elfaro. Obrolan di lanjutkan dengan membahas urusan bisnis, agar Elfaro mulai mengetahui dasar-dasar berbisnis, sebelum nanti dia terjun langsung di perusahaan papanya.


"Ingat ya El, kamu tidak mendapatkan privilage apa pun dari papa, meski itu perusahaan papa. Kamu akan sama sengan karyawan lainnya memulai dari bawah sesuai dengan pendidikan terakhirmu," ucap ayahandanya dengan tegas.


Adira menggenggam erat tangan suaminya sebagai bentuk dukungannya kepada Elfaro.


"Baik pah, aku mengerti," ucap Elfaro.


Pukul 21.00 mereka semua kembali ke kediaman mereka masing-masing. Sesampainya di rumah Elfaro membahas obrolan mereka saat di rumah orangtua Adira.


"Dir, enggak apa-apa ya kalau nanti pendapatan yang aku peroleh hanya sebatas gaji UMR?" tanya Elfaro ragu, ia takut Adira merasa berkecil hati karena gaji yang di perolehnya hanya sedikit, sebab setelah lulus nanti mereka sepakat untuk tidak lagi menerima atau meminta uang jajan pada orangtua mereka.


Adira menggelengkan kepalanya. "Seberapa pun yang kamu dapatkan, insyaallah aku akan bersyukur dan mengelolanya dengan baik."


"Terima kasih ya sayang."


Adira mengangguk. "Lalu kapan kamu mau memulainya? Tadi sebelum pulang mama memberikan ini," ia menunjukan sekotak pengaman yang di berikan oleh mamanya.


Elfaro tersenyum mengambil pengaman tersebut, kemudian ia menaruhnya di laci meja belajarnya, "Nanti saja setelah kita lulus, lebih baik sekarang kita fokus pada ujian kita." ia mengambil buku pelajarannya dan mengajak istrinya belajar bersama.


Adira menurut, ia ikut belajar bersama suaminya. Belajar bersama Elfaro terasa sangat menyenangkan karena Adira bisa menanyakan banyak hal yang belum ia mengerti, dan Elfaro selalu menerangkannya dengan sabar.


"Nanti kalau kuliah, kamu masih mau kan ngajarin aku," tanya Adira.


"Tentu, tapi aku melarangmu untuk mencontek!!"


"Siap, boss," ucap Adira dengan gerakan hormat, hingga membuat Elfaro tertawa. "Kita istirahat yuk sudah malam," tanpa aba-aba Elfaro membopong tubuh Adira ke tempat tidur dan mendekapnya dengan hangat.