Little Bride

Little Bride
Little Bride 40



🍂🍂🍂🍂🍂


Violet yang tak mendengar gumaman Sang suami melanjutkan niatnya untuk mandi, tak enak rasanya jika Nirmala semakin lama menunggu mengingat anak itu terlihat begitu antusias sekali untuk pergi mendaftar sekolah hari ini, apalagi ia dan Shaka juga tak ada jadwal kuliah jadi bisa leluasa menghabiskan waktu bersama Nirmala sebelum akhirnya semua sibuk dengan aktivitas masing-masing.


Satu persatu baju tidur di tanggalkan dari tubuh Violet hingga polos tanpa apapun, masih ada sisa kemerahan di lehernya hasil mahakarya Sang suami yang nampak terlihat oleh Nirmala kemarin. Untung saja, Violet bisa mengatasi itu jika hendak keluar rumah jadi ia tak pernah keberatan saat Shaka membuatnya di leher sekalipun.


Pandangan mata dari leher kini turun ke area dada yang nyatanya masih bulat padat dan menantang. Padahal, bagian sensitif itu hampir setiap hari di mainkan suaminya tanpa bosan. Entah itu di RemAas, di sesap maupun di lukis dengan bibirnya.


Semua nampak sama termasuk perutnya yang masih saja rata.


"Kapan aku hamil?" gumam Violet yang jika begini ia akan frustasi sendiri.


Sudah hampir 3 bulan ia menjalani Program hamil tapi belum terasa tanda tanda ada malaikat kecil buah cintanya bersama dengan Sang suami. Semua masih nampak normal bahkan Violet justru terlihat lebih kurus akhir-akhir ini.


"Semoga Shaka tak meninggalkanku seandainya aku sulit hamil nantinya," ucap lirih Violet yang perasaan itu terus hinggap dalam hatinya.


Karna, Rubby saja bisa langsung hamil setelah menikah bahkan punya dua anak sekaligus dan ia pun berharap bisa merasakan hal yang sama. Melihat kehidupan Sang adik ipar yang penuh warna karna fokus pada Si kembar memang membuat Violet memutuskan untuk hamil di tengah kesibukan jadwal kuliahnya yang cukup padat. Padahal, awalnya ia dan Shaka sudah sepakat akan melakukan program hamil setelah lulus nanti. Tapi rasa gemasnya pada Azzura dan Akash nyatanya mematahkan semua itu.


Shaka yang memang mampu secara finansial tentu tak keberatan jika harus punya anak meski di usia muda karena ia punya penghasilan sendiri sejak masih duduk di bangku SMA dan itu terbukti Nirmala saja kini di urus nya dengan sangat baik dengan cara di penuhi semua kebutuhannya.


Lama berdiam diri memperhatikan tubuhnya sendiri dengan begitu banyak yang ia pikirkan, Violet pun bergegas untuk memulai mandi, dan hanya butuh waktu kurang lebih 30 menit, ia pun keluar dengan hanya memakai kimono handuk.


"Ya ampun Shaka!" Violet berjalan lebih cepat kearah suaminya yang masih terlelap terbuai mimpi di atas ranjang mereka.


"Kha, kamu belum bangun juga? bangun gak?!" teriak wanita yang latar keluarganya cukup rumit tersebut.


"Shakaaaaa!"


"Hah, iya, kenapa?" Shaka langsung bangun saat mendengar suara istrinya yang cukup lantang.


Jika saja kamar mereka tak kedap suara, Nirmala pasti mendengar dan masuk untuk memastikan apa yang terjadi dengan keluarga angkatnya tersebut.


"Dari tadi aku minta kamu untuk bangun, kita mau pergi dan Lala udah nunggu, Kha," oceh Violet, dan percaya atau tidak hanya Shaka lah orang satu-satunya yang tahu sisi lain wanita itu.


Violet akan tampak berbeda jika di luar, terutama di lingkungan baru atau yang menurutnya tak nyaman, tapi saat bersama dengan sandaran hatinya ia akan menjadi apa yang ia mau.


Shaka yang sudah selesai mandi langsung keluar dari kamar menuju ruang makan tempat dimana Violet dan Nirmala kini menunggunya. Sudah ada beberapa menu sarapan yang di pesan istrinya untuk mereka bertiga nikmati sebelum pergi nanti.


"Kha, mbak yang nanti nungguin Nirmala akan datang kan?" tanya Violet yang entah kenapa perasaannya tak enak.


"Datang sore ini, kenapa?"


"Apa itu yang dulu jagain Nirmala saat di rumah sakit?" tanya lagi Violet.


"Iya, dia mau kok' kalau orang baru takut Lala gak nyaman, kemarin mereka sudah cukup dekat dan juga gak ada keluhan dari Lala, iya kan?" jawab Shaka yang langsung menoleh kearah Nirmala untuk memastikan.


"Iya, Mbak baik," sahut Si anak manis, meski hidupnya terasa hampa tanpa sosok orang tua kandung.


"Hem, baiklah. Tapi, kalau aku gak cocok gimana? aku belum ketemu langsung deh kayanya," ujar Violet yang baru di ingat oleh Shaka.


Lagi dan lagi, pria itu mengabaikan perasaan istrinya. Ia lupa jika Vio tak tahu apa-apa yang berkaitan dengan rumah sakit, korban, Nirmala dan juga Si perawat.


"Ketemuan dulu ya, Sayang. Nanti kita obrolin lagi kalau ada apa-apa," ujarnya sambil mengusap punggung tangan Sang istri.


Violet pun mengangguk, ia harus kenal dan beradaptasi lagi dengan orang baru yang menurutnya itu sangat tak penting karna hal tersebut selalu di hindari olehnya. Tapi apa boleh buat, ia juga tak bisa mengandalkan mama atau mommy untuk hal ini karna keduanya punya kesibukan masing-masing termasuk Rubby juga.


Jika untuk sesekali mungkin tak masalah, tapi ini setiap hari dan entah sampai kapan.


Selesai sarapan, ketiganya langsung menuju Lobby Apartemen mewah yang mereka tinggali sejak awal Shaka dan Violet menikah, lalu masuk kedalam mobil yang akan mengantat mereka ke salah satu sekolah yang sudah di pilih sebelumnya.


Perjalanan kurang lebih 60 menit pun akhirnya sampai, senyum merekah menambah kecantikan di wajah Nirmala saat ia masuk kedalam gedung berlantai tiga tersebut. Taman kanak-kanak bertaraf internasional itu tak pernah terbersit di benak Nirmala yang sebelumnya hanya bersekolah di PAUD biasa dengan biaya harian.


Karna Nirmala belum resmi di Adopsi, jadi semua data masih memakai nama orangtua anak tersebut, Shaka harus sabar menunggu 5 tahun mendatang untuk menyelipkan nama Rahardian di belakang nama Nirmala As-Syifa.


"Sudah selesai?" tanya Violet saat ia, Shaka dan Pihak sekolah merasa tak ada lagi yang harus di bicarakan atau di tanyakan.


"Sudah, Sayang. Kita pulang sekarang," jawab Shaka yang lalu mereka semua berdiri.


Keduanya pun berpamitan pada kepala yayasan yang begitu senang bisa bertemu langsung dengan Keturunan Baratha Rahardian.


"Terimakasih banyak, Pak."


"Sama-sama, Tuan dan Nona. Kami tunggu kehadiran Nak Nirmala lusa nanti," balas Pria baya berkacamata tersebut.


Shaka dan Violet hanya mengangguk seraya tersenyum simpul lalu benar-benar pergi dari ruangan kepala Yayasan.


"Kita mau makan siang dimana?" tanya Shaka saat ia dan Violet berjalan di belakang Nirmala yang malah sudah lebih dulu.


"Hem, mungkin sekalian ke Mall, kita beli juga keperluan sekolah Lala," jawab Violet.


"Terimakasih ya, Sayang. Ternyata perlahan kamu sudah bisa menerima Nirmala. Aku mencintaimu," ucap Shaka yang tiba-tiba terharu.


"Aku juga, aku sepertinya jauh lebih mencintaimu Shaka. Tak pernah terbersit dalam benakku untuk menggantimu meski itu mudah karna aku ingin menikmati indahnya bertahan untuk setia dalam segala hal," tutur Violet sebelum akhirnya mereka masuk kedalam mobil, karna memang daftar aktifitas mereka masih panjang untuk hari ini.


Jodoh adalah gambaran diri, meski rasanya tak semua merasakan hal tersebut tapi sepertinya kalimat itu cocok untuk mereka berdua, dimana pasangan yang sudah bersama sejak taman kanak-kanak itu bisa saling menerima, memberi dan membalas setiap kebaikan yang di lakukan oleh pasangan.


Tapi, bukan hidup namanya jika tak ada ujian entah itu dalam lingkungan ataupun dalam membina rumah tangga.


Sesuai permintaan Violet, kini mereka sudah sampai di Mall yang pastinya milik Rahardian Gruop, di bangun mewah tersebut sudah pasti akan dapat semua yang di inginkan saking komplitnya jadi tak harus keluar masuk Mall lagi.


Melihat Nirmala yang begitu senang, membuat kedua calon orangtua angkatnya pun merasakan hal yang sama..


Ia tak ingin di tuntun dan malah berjalan lebih dulu dengan bebas mengedarkan pandangan.


"Untungnya aja kesini bukan pas akhir pekan ya, Vi."


"Hem, iya. Bisa rame banget kalau kesani sabtu atau minggu," sahut Violet.


"Kita mau beli apa aja?" tanya Shaka.


"Cuma beberapa keperluan sekolah Nirmala kok, gak banyak karna hampir semua sudah dari pihak sekolah." Violet yang bergelayut manja serasa masih memiliki Shaka secara utuh meski nyatanya perhatian pria itu kini terbagi dua, untuknya dan juga Nirmala.


"Ya udah, kita biarkan Lala pilih sendiri nanti."


Layaknya anak-anak usia 5-6 tahun, Nirmala begitu senang saat begitu banyak benda yang lucu-lucu di depan matanya. Alat tulis yang serba berwarna merah muda itupun di pilihnya meski malu-malu.


"Gak apa-apa, kalau suka ambil aja tapi janji pada ManDa dan YanDa untuk di pakai ya, jangan di rusak," pesan Shaka saat Nirmala merasa segan.


Apa yang Mommy dan Daddynya ajarkan semasa ia kecil dulu kini di terapkan lagi pada Nirmala.


"Iya, Lala ambil ini lagi boleh? kepala kucingnya itu penghapus," pintanya sambil tersenyum kecil.


"Boleh, ambil satu ya, nanti pilih yang lain lagi."


Shaka dan Violet hanya mengikuti dari belakang, mereka yang memutuskan iya atau tidak karna sebelum Nirmala mengambil apa yang di mau ia pasti minta izin lebih dulu.


"Cukup, YanDa."


"Yakin?" tanya Shaka memastikan.


"Iya, ini aja, udah banyak banget nanti gak di pake semua," ucapnya sembari mengucapkan Terima kasih.


Shaka pun langsung menuju meja kasir untuk melakukan transaksi pembayaran. Meski Violet di beri uang bulanan dengan nominal yang Fantastis tapi jangan harap Shaka membiarkan istrinya mengeluarkan uang sepeserpun saat pergi dengannya.


Semua akan ditanggung oleh Shaka sama seperti para pria di keluarga besarnya yang lain.


Sedangkan Violet hanya menungggu bersama dengan Nirmala.


"Kok belanjaannya gak ada?" tanya anak itu kebingungan saat ia melihat kedua tangan YanDanya kosong tak memegang apapun.


"Nanti langsung di kirim kerumah," jawab Shaka.


"Rumah tinggi?" tanya Nirmala lagi yang kini memastikan karna katanya ia pun akan selang seling di kediaman Rahardian.


"Iya, ke Apartemen, Nak."


Mereka tentu tak akan susah payah membawa barang belanjaan seperti kebanyakan orang lain yang sedang Shoping ke Mall kecuali jika satu atau dua barang itupun yang berukuran kecil.


"Ya udah, ayo makan. Aku lapar," ajak Violet yang mulai berpikir kemana mereka akan memanjakan perut yang mulai terasa Keroncongan karna ini sudah lewat 45 menit dari waktunya.


Mereka yang selalu di siplin dalam segala hal tentu punya waktunya sendiri sendiri.


"Kenapa gak di habisin?"


" Ini banyak banget, ini apa? Lala gak tahu," jawabnya yang belum semua bisa di Terima oleh lidahnya.


Niat hati tak ingin membedakan namun nyatanya semua justru mubazir dan itu membuat Violet merasa bersalah.


"Maaf ya, lain kali kita gak makan di tempat seperti ini lagi," ujar wanita itu yang berusaha memanggilnya pelayan namun di cegah suaminya.


"Tak perlu, Sayang. Nanti Lala pasti beli cemilan di luar," kata Shaka.


"Baiklah, nanti kita cari makanan lain saja," balas Violet pasrah dengan keputusan pria itu.


Selesai makan siang yang hanya di nikmati oleh Shaka dan Violet, kini saatnya memanjakan Nirmala lagi. Ia yang hanya makan sedikit akhirnya memilih resto siap saji untuk mengganti makan siangnya yang hanya di sentuh sedikit.


"Dasar anak-anak ya, gak jauh dari ayam," ujar Vioelet yang terkekeh.


"Hem, iya. Tapi emang enak sih. Aku juga doyan."


"Masa??" ledek Violet yang belum paham kemana arah pembicaraan suaminya.


Iyalaah.. apalagi dada sama paha..