
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Hari pertama kedua dan ketiga semua berjalan lancar sesuai rencana. Nirmala yang ternyata pintar cukup menikmati sekolahnya meski begitu banyak hal yang membingungkan terutama bahasa yang tak di pahami oleh anak itu dan itulah yang kini jadi bahan pembicaraan Shaka juga Violet.
"Aku takut Lala minder, Kha."
"Kita coba dulu, semua juga kan awalnya gak bisa, Vi. Nirmala hanya butuh waktu," jawab Shaka yang sebenarnya sama-sama takut tapi ia masih berusaha untuk tidak terlihat oleh istrinya.
"Aku hanya tak ingin Lala tertekan, berada di lingkungan yang berbeda itu tak nyaman," ujarnya lagi dengan perasaan kesal pada suaminya.
Meski Nirmala dan Violet sama-sama di angkat anak tentu mereka lagi lagi tak sama. Violet memang keturunan orang terpandang, bahkan orang tua kandungnya lebih kaya raya dibanding Hardinata.
Jadi, untuk urusan darah keturunan memang wanita itu memiliki background yang cukup bisa di sejajarkan dengan Rahardian dan Barata, hanya saja cara kedua orang tuanya yang salah hingga menghasilkan Violet di luar ikatan suci pernikahan.
"Nanti kita tanya terus bagian di sekolahnya. Kalau masih begitu juga ya mau tak mau kita pindahkan ke tempat biasa."
"Hem, aku setuju hal ini, aku rasa kita yang terlalu egois memilih sekolah untuk Lala meski niatnya bagus yaitu yang terbaik. Tapi, jika ia di bedakan tentu akupun tak setuju," ujar Violet.
Shaka tersenyum simpul, ia senang karna wanita halalnya sudah semakin bisa menerima kehadiran Nirmala bahkan mau memikirkan tentang perasaan anak kecil itu.
Semua perhatian yang di berikan Violet sudah cukup bagi Shaka untuk memantapkan hatinya mengadopsi Nirmala.
.
.
.
"ManDa mau anterin Lala sampai kelas?" tanya Nirmala masih tak percaya.
"Iya, Lala mau kan?" tanya balik Violet yang takut Nirmala tak nyaman
"Mau banget, ManDaa. Nanti ManDa liat kelas Lala lagi dan liat Lala duduk dimana ya," ucapnya antusias. Masih ada rasa canggung yang dirasakan Nirmala pada Violet yang awalnya tak memberi kesan baik, tapi bukan berarti Nirmala benci hanya saja ia takut pada Violet.
"Lala duduk dimana?" tanyanya saat masuk kedalam kelas yang bagi ada beberapa orang saja.
"Disini aja, tapi nanti kalau Miss datang semua sama-sama," jelasnya masih riang.
Sama seperti sekolah lain, bermain dan belajar bersama adalah poin pertama tanpa ada yang di beda bedakan. Semua mendapat urutan masing masing dan juga perhatian yang melimpah.
Hanya saja, memang bahasa yang di ajarkan disini jauh berbeda. Hampir semua Miss yang mengajari Nirmala menggunakan bahasa luar yang tak di mengerti olehhya sama sekali.
"Baguslah, bermain sama-sama ya," pesan Vio s sebelum ia keluar dari kelas.
"Ehem, permisi," kata seseorang yang langsung membuat Vioelet menikah.
"Ini--, mamanya Nirmala?" tanya nya dengan nada ketus.
"Iya, selamat pagi, Bu."
"Hem, anak kandung? bukan dong pastinya. Hanya anak angkat yang kamu pungut," kekeh Si wanita tadi.
"Tak ada kata pungut, Bu. Semua di urus dengan baik. Lagi pula anak ini anak manusia, bukan makanan sisa!" tegas Violet yang bicara tepat didepan wajah seseorang yang sudah dengan sengaja mengusiknya tersebut.