Little Bride

Little Bride
BAB 52



Sementara itu di sisi lain, di luar gedung tempat Elfaro dan Alfino bertarung. Aliya dan Ica menunggu kedatangan Adira. Sebelumnya Brandon sudah menghubungi dan menshare lokasi gedung tersebut kepada Aliya, dan Alia kemudian menginformasikannya ke Adira dan Ica .


Dari kejauhan Aliya dan Ica melihat Adira baru turun dari ojek online, mereka berdua pun segera berlari menghampiri Adira. “Maaf, Ca, Al! Gue baru sampai," nyawa Adira sendiri belum sepenuhnya terkumpul, dari bangun tidur siangnya, namun wajah Adira terlihat sangat panik "Terus mereka sekarang ada di mana?” tanya Adira dengan napas yang tertahan karena lelah dan resah.


Bagaimana Adira tidak panik, ia terbangun dari tidurnya karena chat yang di kirim Aliya mengatakan Elfaro dan Alfino sedang berantem di gudang dekat sekolah. Saat mendapat chat itu Adira langsung mencari Elfaro di sudut setiap rumah, memang tidak ada Elfaro di rumah, Adira pun langsung bersiap-siap dan memesan ojek online untuk pergi ke gudang ke sekolah itu.


“Ikut gue!,” Perintah Aliya dan Adira ikut berlari mengejar Aliya begitu pun dengan Ica, di gudang tua tidak terpakai tersebut, namun walaupun seperti itu, ukuran bangunannya sangat luas.


Setelah menemukan pintu untuk masuk, Aliya kini berhenti dan menatap Adira serius. “Loe langsung masuk aja, mereka ada di dalam.”


“Kalian nggak ikut masuk?,” Tanya Adira menghalangi Aliya dan Ica untuk pergi.


“Gue bantu lo sampai sini, gue nggak mau terlibat urusan yang nggak seharusnya gue tahu, Brandon minta ke gue buat nggak kasih tau loe, tapi gue nggak mau terjadi apa-apa sama Elfaro yang akan membuat loe sedih nantinya,” ucap Aliya.


Adira menghela napas panjang, dia menatap Aliya dan Ica takut sebenarnya, karena akan sendirian ke dalam sana, dan terdengar memang keributan yang hilang pergi karena angin yang berembus kencang.


Aliya menatap Adira serius, dan kini menyentuh bahu gadis itu. “Loe sebaiknya secepatnya nyelametin antara Elfaro dan Alfino, karena akan terjadi sesuatu kalau mereka nggak segera mengakhiri semua ini.”


Adira semakin bingung. Namun, mungkin maksud dari Aliya, karena mereka berantem. “Iya, Al, Ca! Gue sangat berterima kasih sama kalian.”


Ica segera membuka pintu untuk Adira, dan mendorong gadis itu masuk ke dalamnya, dan dia segera cabut dari sana, menghilang entah kemana, menyisakan Adira yang kini mulai berlari menuju ke asal sumber suara.


Semakin ia mendekat, suara orang berkelahi terdengar dengan jelas. Sampai di mana, Adira melihat dengan mata kepalanya Elfaro dan Alfino keduanya sama-sama mengadu kekuatan mereka, dan kini tidak ada yang mengalah.


Ketika Adira hendak menghentikannya. Namun tiba-tiba entah dari mana, seseorang dengan menggunakan pakaian hitam mendekati keduanya, membuat Adira berlari dengan sekuat tenaga untuk menghentikan aksi tersebut.


“Dirrr!!!,” Teriak Elfaro, ketika Adira menjadi tameng pelaku pembacokan yang akan terjadi kepada Alfino. Pelaku itu mengincar Alfino, namun Adira yang kena dan kini menyentuh perutnya, akibat pisau yang tertancap di sana.


“Tangkap!!!,” Perintah Elfaro menggelegar, ketika pelaku tersebut berlari sekuat tenaga untuk kabur dari tempat tersebut.


Elfaro merasakan tubuhnya bergetar, melihat darah Adira yang banyak di tangannya. Begitu pun dengan Alfino dia mematung melihat kejadian yang barusan terjadi.


Siapa orang itu? Kenapa dia mengincar Alfino? Ada maksud apa?.


Gadis itu tersenyum dan menatapnya dalam. “Aku nggak papa kok El,” lirih Adira dengan suara yang pelan, menahan sakit. Gadis itu tersenyum dan memejamkan matanya perlahan, membuat Elfaro panik dan langsung menggendongnya.


“Bangun Dir, kamu kenapa ada disini, kenapa harus ke kamu,” ucap Elfaro marah.


Alfino dan yang lainnya sibuk mengejar pelaku agar segera menangkapnya. Sedangkan Aldi kini membantu Elfaro untuk menangani Adira yang bisa saja kehabisan darah, karena rumah sakit yang jauh dari daerah ini.


“Nggak usah dicabut! Darahnya bisa keluar lebih banyak,” ucap Aldi ketika mereka sudah masuk ke dalam mobil dan dia yang menjadi supirnya.


“Lo tenang, El! Jangan panik. Coba tepuk wajah istri lo, biar tetap sadar. Pastikan jantungnya berdetak normal,” ujar Aldi.


Elfaro memeluk Adira dengan erat yang sudah tidak berdaya. “Gu-gue nggak tahu harus gimana lagi, Aldi. Gue takut kehilangan istri gue. Elfaro tutup matanya.”


“Adira pasti selamat. Dia gadis yang kuat. Lo tenang aja, kita akan segera sampai ke rumah sakit,” tegas Aldi kepada Elfaro.


Elfaro mondar-mandir di depan UGD, dia bersama dengan Aldi di sana, terlihat khawatir dengan keadaan Adira di dalam sana.


Mereka menghabiskan lima menit menuju ke rumah sakit, membuat Elfaro ketakutan karena sudah banyak bercak darah Adira di pakaiannya.


“Lo lebih baik diam dulu, El! Nggak akan terjadi apa-apa sama istri lo,” ucap Aldi kepada Elfaro untuk menenangkannya.


Elfaro menatap Aldi dan menganggukkan kepalanya. Namun, bayangan Adira yang tadi menahan sakit di hadapannya, membuat Elfaro bergetar dan mengusap wajahnya dengan kasar. Kini Elfaro mencoba menghubungi orang tuanya dan orang tua Adira untuk segera ke rumah sakit.


Tiba-tiba, Alfino datang bersama dengan teman-temannya di depan Elfaro dan Aldi yang terlihat sangat terpukul dengan kejadian tersebut.


“Adira bagaimana keadaannya?,” ucap Alfino kepada Elfaro. Namun Elfaro tidak bereaksi apapun, dan memilih diam, karena semua ini kesalahannya sejak awal, mengapa dia meladeni Alfino dan memulai peperangan dengan Alfino.


“Adira masih ditangani di dalam, belum ada informasi dari dokter,” Aldi menjawab pertanyaan dari Alfino.


Alfino menarik napas panjang. “Nanti gue informasikan, pelaku dari pembacokan tersebut.”


Elfaro terlihat terkejut dan kini kembali menatap Alfino dengan serius. “Lo udah berhasil nangkap pelakunya?,” tanya Aldi. Bahkan Elfaro kini mendekati Alfino dan berdiri di hadapannya.


“Siapa pelakunya?!,” Bentak Elfaro kepada Alfino. “Jawab!!” Lanjutnya.


“Pelakunya adalah ....,” Alfino menggantung ucapannya, ketika ruangan UGD telah dibuka dan menampilkan wajah kelelahan dokter yang menangani Adira di dalam sana. Membuat Alfino memilih untuk diam untuk saat ini.


“Istri?,” ucap Alfino dalam hati. Dia sangat bingung bagaimana bisa Elfaro menyebut Adira sebagai istrinya. Apa mereka sudah menikah??? Tapi kapan mereka menikah? Ini tidak mungkin.


Dokter tersebut memperhatikan Elfaro dan teman-temannya. “Keadaan pasien kritis, dan kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membuat pasien bertahan. Pasien dinyatakan koma. Dan saat ini, kami belum memastikan kapan pasien akan sadar. Untuk keluarga, perbanyak berdoa.”


“Bersyukurlah, pasien bisa bertahan hingga sejauh ini, karena banyak darah yang dikeluarkan. Jadi, mohon untuk bersabar. Saya pamit!” Setelah memberikan informasi tersebut, sang dokter langsung pergi dari sana.


Elfaro merasakan tubuhnya lemas seketika, dia segera masuk ke dalam sana, untuk melihat keadaan Adira di dalam ruangan.


“Lo kenapa nggak masuk?,” Tanya Aldi kepada Alfino yang hanya berdiri termenung di depan pintu.


Alfino menggelengkan kepalanya. “Gue nggak sanggup, biar bagaimanapun, semua ini karena kesalahan gue juga, yang sudah mengajak Elfaro untuk berantem. Gue memang bodoh dan membahayakan orang disekitar gue,” Alfino menyalahkan dirinya sendiri.


"Lo nggak salah, Alfino. Lo udah kejar pelakunya, dan pasti Elfaro dan Adira akan berterima kasih sama lo," ucap Aldi kepada Alfino yang tampak putus asa.


"Tetap saja, semua ini ada kaitannya juga sama geng gue yang memang pembuat onar dan jahat."


“Iya bener, lo kenapa jadi belain Alfino sih Di? Dia kan emang salah,” ujar Brandon.


“Gue nggak belain siapapun, gue disini cuman menenangkan,” balas Aldi.


Tidak lama kemudian orang tua Adira dan Elfaro pun datang sambil menangis.


“Bagaimana keadaan Adira?,” tanya wulan kepada Aldi.


“Tante tenang dulu ya, sekarang Adira masih kritis tan, Adira belum sadarkan diri, di dalem juga sudah ada Elfaro,” jelas Aldi.


Lalu orang tua Adira dan Elfaro pun segera masuk ke dalam ruangan.


“Sebenernya sebelum semua ini kejadian, Nara nelpon gue, biar nggak usah berantem sama Raja, tapi gue nggak dengerin dia. Dan terjadi kan sekarang? Karena gue yang keras kepala."


“Jadi, sebelum kejadian, Adira nelpon lo?” Tanya Aldi dan diangguki oleh Alfino.


“Iya, dia nyalahin gue karena mau berantem sama Elfaro, mungkin udah firasat kejadian seperti ini.”


Aldi menghela napas panjang. “Nggak ada yang salah, pokoknya lo harus hukum pelakunya seberat-beratnya. Dan jadikan ini sebagai pelajaran berharga.”


“Gue akan pergi jauh setelah ini,” ucap Alfino pada akhirnya. “Semuanya kacau karena gue.”


“Semuanya udah kejadian dan takdir dari sang kuasa, lebih baik lo jangan mikir aneh-aneh dulu,” tegas Aldi merasa kasihan dengan Alfino, walaupun ia sahabat dari Elfaro.


Brandon pun menarik Aldi menjauh dari Alfino.


“Lo apa apaan sih, kenapa lo jadi belain Alfino, kan dari awal juga semuanya karena dia, coba aja kalau dia nggak ngajak Elfaro buat berantem apa semua ini akan kejadian? Gue nggak abis pikir sama lo kenapa tiba-tiba Lo belain si Alfino? Ada apa sama diri lo Di,” ujar Brandon marah.


“Denger ya, gue nggak belain siapa-siapa, gue nggak belain Alfino. Gue cuman kasihan sama dia, gue udah muak sama semuanya, gue nggak mau melihat ada pertengkaran lagi antara Elfaro sama Alfino, gue mau semuanya damai nggak ada musuh-musuhan lagi, nggak ada berantem-beranteman lagi, nggak ada pukul-pukulan lagi, dan nggak ada dendam-dendaman lagi antara Elfaro dan Alfino, gue mau kita damai udah itu aja,” jawab Aldi.


“Serah lo deh, gue nggak ngerti sama jalan pikiran lo,” ujar Brandon.


“Dengerin gue dulu,” ujar Aldi yang menahan Brandon yang ingin pergi.


“Apa lagi,” jawab Brandon


“Gue tanya sekarang sama lo, apa lo mau selamanya kita berantem kayak gini, kita dendam-dendaman kayak gini selamanya, kita sebagai temannya Elfaro harus membantu Elfaro untuk menjadi orang baik, untuk menjadi orang yang tidak punya dendam sama siapapun, gue nggak mau nantinya Elfaro bakalan dendam terus sama Alfino begitupun sebaliknya,” ujar Aldi.


“Tapi apa lo nggak mikir, yang buat semua ini terjadi siapa? Alfino kan? Dia yang udah buat Adira sampai kritis kayak gini, dia juga ya sejak awal udah mainin Adira, dan dia juga yang sejak awal udah mencari gara-gara sama kita,” ucap Brandon semakin marah.


Tiba-tiba di tengah percakapan mereka, Aliya dan Ica pun datang untuk melerai percakapan Aldi dan Brandon.


“Udah stop, kenapa jadi kalian yang berantem,” ucap Aliya sambil menangis.


“Kalian kenapa berantem saat suasananya kayak gini, harusnya kalian saling menguatkan satu sama lain bukan malah berantem kayak gini,” ujar Ica.


Brandon dan Aldi pun hanya terdiam mendengar kam ucapan yang keluar dari mulut Aliya dan Ica.


“Udah ayok,” Aliya menarik tangan Brandon agar menjauh dari Aldi. Dan Ica pun menenangkan Aldi.