Little Bride

Little Bride
BAB 53



“Udah mending sekarang loe tenangin diri loe dulu, berdandan hanya terbawa emosi, jadi tolong wajarin aja sikap Brandon tadi,” ucap Ica sambil memegang pundak Aldi.


“Iya Ca,” jawab Aldi.


Sementara itu, di dalam ruang rawat inap, rasa bersalah berkecamuk di hati Elfaro.


“Elfaro,” panggil mamah.


“Mah, Adira mah,” ucap Elfaro sambil menangis di pelukan mamahnya.


“Kenapa semua ini terjadi? Bagaimana bisa Adira sampai seperti ini,” ucap Wulan menangis.


“Mah aku gagal buat jagain Adira, aku bodoh mah, aku nggak becus buat jagain Adira, aku bodoh,” ucap Elfaro masih menangis di pelukan mamahnya.


“Ini semua sudah takdir nak, nggak ada yang bisa menghindar dati takdir,” ucap papah Adira.


“Pah maafin aku, aku sudah gagal buat jagain Adira, aku minta maaf pah,” ucap Elfaro memeluk Rasyid.


“Sudah nak, ini bukan salah kamu, ini semua sudah takdir,” jawab Rasyid menenangkan sambil menahan tangis.


“Aku bodoh, aku gagal buat jagain Adira, harusnya aku selalu sigap buat lindungi Adira,” ucap Elfaro sambil melepaskan pelukannya.


Elfaro memperhatikan wajah Adira yang kini pucat dan terlihat tidak berdaya. Semuanya karena dirinya.


Elfaro menunduk di samping gadis itu. Tiba-tiba air matanya mengalir semakin deras, selama hidupnya, baru pertama kalinya Elfaro menangis sederas ini, karena takut kehilangan Adira, sang istri yang dinyatakan koma, karena ulah dirinya.


“Kenapa kamu tiba-tiba ada disana Dir? Kenapa harus ke kamu kenanya? Kenapa pisau itu nggak kena ke aku aja kenapa harus ke kamu?, ujar Elfaro dalam hati.


“Aku memang nggak becus jadi suami, Dir. Kenapa aku nggak bisa jagain kamu, aku terlalu bodoh buat kamu Dir.”


Elfaro mencium pucuk kepala Adira dengan lembut. “Maafin aku, Dir! Maaf, Sayang Elfaro mengusap wajahnya karena air mata nya yang tak hentinya mengalir.


...****************...


“Kamu harusnya jangan ngomong gitu ke Aldi, niat Aldi baik kok, dia mau Elfaro sama Alfino nggak berantem lagi, dan Aldi juga nggak mihak ke siapa-siapa,” ujar Aliya ke Brandon.


“Aku nggak terima, asal kamu tahu ya harusnya pisau itu kena ke perut Alfino bukan ke perut Adira, entah kenapa tiba-tiba pisau itu meleset ke arah perut Adira yang berdiri di samping Alfino, coba aja kalau pisau itu kena ke Alfino, Elfaro nggak bakalan sedih kayak sekarang ini dan Adira pun nggak akan berbaring kritis di dalam sana,” ucap Brandon.


“Ini semua sudah takdir Brandon, nggak ada yang bisa menghindari takdir, memang orang itu ingin menusuk perut Alfino, tapi Tuhan berkehendak lain malah pisau itu mendarat di perutnya Adira, Alfino juga pasti nggak mau hal itu terjadi kepada Adira,” ujar Aliya.


Brandon hanya diam menunduk kan kepalanya.


“Udah ya aku mohon sama kamu, kamu jangan marah-marah lagi harusnya kamu bisa nenangin diri kamu agar kamu juga bisa nenangin Elfaro, saat ini Elfaro lagi butuh kamu sama Aldi,” ujar Aliya.


“Iya Al, makasi ya kamu uda selalu ingetin aku,” ucap Brandon sambil memegang tangan Aliya.


“Iya sama-sama,” ucap Aliya sambil memegang tangan Brandon dan tersenyum ke arah Brandon.


“Aldi, Brandon gue harus pergi, gue nggak akan beri ampun sama orang yang udah berani nyakitin Adira,” ujar Alfino.


“Loe mau habisin orang itum,” tanya Brandon.


“Iya,” jawab Aldi sambil menganggukan kepalanya.


“Gue ikut,” pinta Brandon.


“Nggak usah, saat ini Elfaro lagi butuh kalian berdua lebih baik kalian berdua di sini aja, biar pelaku penusukan jadi urusan gue dan temen-temen gue,” jawab Alfino.


“Oke kalau gitu, loe juga hati-hati yah, kabarin kita kalau ada apa-apa,” jawab Aldi.


Lalu Alfino pun pergi dari rumah sakit untuk mengurusi pelaku penusukan tersebut.


Bugh!!


Bugh!!


Wajah cowok itu sekarang sudah babak belur, bahkan tidak bertenaga lagi, untuk melawan Alfino yang tampak marah kepadanya.


"Brengsek loe sialan!!,” murka Alfino dengan wajah yang memerah.


Tidak ada yang berani untuk mendekat, karena Alfino sudah memberikan perintah sejak awal, untuk tidak ikut campur.


Cowok itu meminta ampun kepada Alfino, dia memohon agar Alfino tidak memukulinya lagi.


“Saya mohon jangan pukulin saya lagi, saya hanya di suruh sama orang,” ucap pelaku penusukan itu.


“Siapa yang sudah menyuruh loe,” ucap seseorang yang tiba-tiba datang. Lalu Alfino pun langsung membalikkan badannya untuk melihat orang itu.


“Elfaro,” ucap Alfino kaget.


“Loe kenapa disini, Adira disana sama siapa? Kenapa lo tinggalin dia,” ucap Alfino lagi.


“Adira aman, ada mamah sama papah yang jagain,” jawab Elfaro.


“Jawab gue, SIAPA YANG UDAH NYURUH LOE,” ucap Elfaro marah.


“Sa-saya di perintahkan sama mba Arini untuk menusuk Alfino, agar dia kalah saat berantem dengan Elfaro, karena mba Arini ingin Elfaro menang, tapi saya malah salah sasaran, pisau itu malah mendarat di perut perempuan cantik tadi,” ucap pelaku penusukan itu.


“ANJING LOE,” marah Elfaro sambil memukul-mukul pria itu.


“Saya mohon ampuni saya,” ucap pria itu.


“APA NGGAK SALAH DENGER GUE? LOE MINTA AMPUN? GUE NGGAK AKAN PERNAH AMPUNIN LOE,” jawab Elfaro semakin marah.


“El! Sebaiknya, loe pancing tuh cewek untuk ke sini, bukannya, dia suka banget sama lo, kan?,” Ucap Brandon.


Elfaro menarik napas panjang dan akhirnya menyetujuinya. “Bawa dia ke salah satu ruangan, dan jangan biarkan kabur!,” Perintah Elfaro, membuat anggota Alfino menyeret pelaku tersebut tanpa mengobatinya sedikitpun.


“Gue akan telpon tuh cewek.” Elfaro segera merogoh ponselnya dan mencari nomor Arini. Cowok itu, memang sudah mengakuinya, bahwa dia bekerja sama dengan Arini, dengan imbalan uang yang besar dan juga bisa menikmati tubuh gadis itu.


Setelah sambungan telepon tersambung. Elfaro menarik panjang nafasnya agar tidak membentak gadis sialan itu, dalang dari semua ini.


“Gue Elfaro, loe harus mau ketemuan sama gue di markas. Pasti loe udah tahu letak markas di mana.”


“Kirain siapa, loe ternyata Elfaro. Soalnya, pakai nomor yang nggak dikenal. Oke, gue ke markas, tapi loe mau bahas apa?.”


“Tentang hubungan kita,” balas Elfaro. Membuat Arini yang berada di balik telepon tampak senang.


“Gue siap-siap dulu.” Sambungan telepon terputus, membuat Elfaro menghembuskan napas panjang.


“El! Loe mau kasih hukuman apa sama tuh cewek kurang ajar?,” ucap Brandon.


“Hukuman, yang bahkan lebih berat dari penjara. Gue akan membuat hidup dia benar-benar hancur,” balas Elfaro tersenyum miring.


“Kasihan juga si Adira, dia padahal cewek yang baik,” Semua orang sudah mengetahui bahwa keduanya telah menikah muda, dan sekarang berstatus menjadi suami istri yang sah.


“Tapi, apa motif si Arini ngincer Elfaro, padahal kan dia udah di tolak mentah mentah sama El dia juga tau kan kalau El sekarang punya Adira,” ucap salah satu teman Alfino.


“Gila banget tuh cewek, belum lulus SMA aja udah punya pikiran kriminal, apalagi besok semakin dewasa.”


“Lo semua sebaiknya bersembunyi, gadis sialan itu sudah datang,” ucap Elfaro dan semuanya langsung membubarkan dirinya.


Selang beberapa menit, terlihat Arini yang memasuki markas, dan terdapat Elfaro yang sedang duduk di sofa sambil mematikan rokoknya.