Little Bride

Little Bride
BAB 58



“Bagaimana keadaan Adira?,” tanya Aliya kepada Elfaro, ketika cowok itu hendak masuk ke kantin.


“Apa perlu gue jawab? Loe yang bawa Adira ke sana, kan? Sengaja untuk melukai istri gue?” ucap Elfaro kini menyilang kedua tangannya di dada.


Aliya mengerenyitkan dahinya dalam mendengar tuduhan dari Elfaro. Bisa-bisanya, dia difitnah seperti itu, padahal niatnya baik buat bantu Elfaro agar tidak berantem dengan Alfino.


“Loe jangan asal bicara, EL! Gue melakukan semua itu, juga biar lo dan Alfino nggak bertengkar, dan dengan adanya Adira, itu hal yang bagus, untuk menghentikan kalian, gue sama Adira uda berteman dari lama, sebelum Adira kenal lo dia lebih dulu kenal gue, dan gue nggak mungkin dengan sengaja ngelukai istri lo, gue sayang sama Adira,” jawab Aliya.


Elfaro menarik napas panjang. “Loe nggak ada kaitannya sama Arini sedikitpun? Dan dari mana loe tahu gue dan Alfino ada di tempat itu?” tanya Elfaro.


“Gue dapet info dari Brandon, dia bilang ke gue kalau loe sama Alfino akan berantem. Makanya, langsung kasih tahu Adira. Gue juga sebenernya di minta Brandon nggak boleh kasih tau Adira, tapi gue kekeh buaf ngasih tau Adira. Pasti Adira akan kecewa sama loe El kalau tau lo berantem sama Alfino, sekarang jadiin pelajaran aja semua masalah yang uda terjadi saat ini.”


“Oke! Loe aman! Gue percaya sama lo, gue juga uda kenal lama sama lo dan gue yakin loe orang yang baik. Tapi inget sekali aja lo jahatin Adira lo akan berurusan sama gue.”


Aliya menganggukkan kepalanya. “Gue janji, gue nggak akan sakitin Adira, gue sayang sama dia El.”


“Oke kalau gitu gue pamit dulu.”


“El,” panggil seseorang, Elfaro pun langsung membalikkan badannya untuk mencari sumber suara.


“Oh, loe, kenapa?.”


“Gue mau nanya sama loe, loe pasti tau kan Adira kemana? Kenapa dia nggak masuk-masuk sekolah?.”


Mendengar itu Elfaro bingung bagaimana dia menceritakan semuanya kepada Zahra.


“Hemm Adira sakit Ra, dia saat ini sedang di rawat dan belum sadarkan diri.”


“APA? pulang sekolah bawa gue ke Adira El, gue mau ketemu Adira,” ucap Zahra memohon.


“Iya Zahra, gue mohon info ini jangan tersebar ke anak-anak sekolah yang lain yah, gue nggak mau sampai banyak orang yang tahu hal ini.”


“Tapi Adira gimana El sekarang? Apa dia baik-baik aja? Terus kenapa dia bisa nggak sadarkan diri? Kenapa semua ini terjadi kepada Adira El?.”


“Kita duduk di situ yu,” ajak Elfaro ke Zahra sambil menunjuk salah satu bangku yang ada di taman sekolah.


“Jadi gini Zah, waktu itu gue sama Alfino berantem di gudang tua yang deket sekolah itu, gue nggak bilang sama Adira kalai gue mau ke situ, saat gue berantem tiba-tiba Adira dateng untuk melerai gue sama Alfino, tapi ada seseorang yang datang dengan pakaian hitam dan membawa pisau, orang itu mengincar Alfino, dia ingin menusukkan pisau itu ke Alfino, saat dia ingin menusukkan pisau itu entah kenapa pisau itu meleset terkena Adira.”


“Astaghfirullah, kasihan Adira, terus gimana pelakunya? Motif dia mau nusuk Alfino juga apa?.”


“Pelakunya seorang pria dia suruhan dari Arini, dan motif Arini melakukan itu agar Alfino kalah saat berantem sama gue.”


“HAH ARINI?? TAPI KAN DIA SUDAH...”


“Iya pelakunya memang Arini, gue juga uda maafin kesalahan dia ko.”


“El lo sama Adira emang orang paling baik yang pernah gue temuin, lo sangat cocok sama Adira, semoga Adira cepet sadar ya, kan kalian berdua bisa bahagia lagi.”


“Iya makasih Zah.”


“Pulang sekolah anter gue temuin Adira ya,” ucap Zahra.


“Oke.”


Siang telah menjelang, Elfaro sedang menunggu Zahra di parkiran, karena dia ingin membawa Zahra bertemu dengan Adira. Setelah pulang sekolah, Elfaro dan Zahra langsung menuju ke rumah sakit. Tidak lupa Elfaro akan membeli bunga mawar putih untuk istri tercintanya.


“Kita mampir ke toko bunga sebentar ya Zah.”


“Oh iya boleh El.”


Setelah dari toko bunga Zahra dan Elfaro pun langsung menuju rumah sakit.


Saat ini mereka sudah ada di depan ruangan Adira. Elfaro menghela napas panjang dan hendak masuk ke dalam ruangan Adira.


Namun, terdengar suara keributan di dalam sana, membuat Elfaro tampak panik dan segera masuk, dan benar! Dokter sedang melakukan penyelamatan kepada Adira, yang kini sedang kritis.


“Jantung pasien melemah!!” Ucap dokter dengan tegas, sembari menggunakan alat kejut jantung, agar detak jantung pasien kembali normal.


Elfaro merasakan tubuhnya bergetar, dia menjatuhkan buket bunga mawar putih itu dan segera menatap Adira dengan ketakutan. Begitupun dengan Zahra, dia menangis melihat keadaan Adira saat ini.


“Pokoknya, kamu harus kuat, Dir!” Lirih Elfaro memaksa kepada Tuhan agar tidak mengambil Adira-nya saat ini.


“Dir lo harus kuat, gue mohon sama loe, gue tau loe orang yang kuat Dir, ayo bangkit lagi Dir,” ucap Zahra pelan sambil menangis.


Elfaro berharap Tuhan berbaik hati kepadanya, memberikan kesempatan agar bisa membahagiakan Adira-nya. Menjaga gadis itu dan juga membuatnya senang setiap hari nya.


Tidak lama kemudian, papa dan mamanya datang, dengan suara raungan tangisan, karena takut kehilangan gadis itu, yang dinyatakan kritis oleh dokter.


“Adira, pasti kuat, Ma,” ucap Elfaro kepada mama nya, yang menangis di hadapannya.


Mamah adira dan Elfaro mengusap wajah nya yang penuh dengan air mata. “Mama nggak mau kehilangan Adira secepat itu, Elfaro,” ucap mamah Adira.


Dokter terlihat menghela napas panjang. Dia berhenti untuk melakukan semua aktivitas tersebut, dan kini menatap keluarga dari pasien. “Hanya kemungkinan kecil, pasien akan selamat. Apakah Tuan dan Nyonya mengizinkan semua peralatan penopang hidup pasien dicabut?” Tanya dokter kepada mereka.


Elfaro langsung maju dan tidak terima mendengarnya. “Kenapa Anda mengatakan hal itu, heh?! Istri saya masih hidup, dan Anda seenaknya untuk mencabut semua alat-alat itu?!” Teriak Elfaro merasa emosi.


“Jadi, seperti ini Tuan, pasien hanya kemungkinan kecil akan selamat. Kami sudah melakukan pertolongan semaksimal mungkin. Pasien mencoba untuk bertahan, namun tubuhnya, tidak melemah.”


“Jangan pernah cabut alat-alat itu! Saya tidak mengizinkannya!!” Bentak Elfaro dengan tatapan tajam kepada dokter tersebut.


Dokter saling memandang dengan perawatnya, dan akhirnya menganggukkan kepalanya. “Kalau pasien kembali kejang-kejang, mohon segera memanggil kami.” Dokter pamit dari ruangan tersebut dan mengerti keadaan keluarga pasien yang tak ingin kehilangan.


Elfaro segera mendekati Adira yang memang terlihat lebih pucat tidak seperti biasanya. “Jangan tinggalin aku, Dir! Aku mohon, kasih aku kesempatan satu kali lagi untuk bahagiakan kamu di dunia ini.” Elfaro meneteskan air mata nya, karena diserang rasa takut yang berlebihan.


Sementara Zahra dia lari keluar menuju taman rumah sakit sambil nangis sesenggukan.


“Dir kenapa semua ini harus terjadi sama loe, gue mohon sama loe Dir jangan tinggalin gue, cuman loe Dir yang mau berteman sama gue, dan cuman lo yang bisa maafin semua kesalahan gue, gue belum pernah senang-senang bareng lo Dir, gue selalu menghabiskan waktu buat berantem sama loe, dan gue mau punya waktu berdua sama lo untuk kita senang-senang, pliss Dir bertahan,” ucap Zahra sambil menangis di taman rumah sakit.


Tiba-tiba ada seseorang yang duduk dan memberikan air minum kepada Zahra.


“Nih minum dulu, loe jangan nangis gitu, kalau Adira tau pasti dia sedih, gue yakin Adira bisa bertahan dia orang yang sangat kuat.”


Zahra pun menoleh ke orang tersebut.


“Loe?”