
🍂🍂🍂🍂🍂
"Semua terserah Vio, kalau mau kaya Rubby sih gak masalah," Kata Shaka tapi Sky justru menggelengkan kepala.
Pria itu tahu jika Violet tentu jauh berbeda dengan Rubby, alasan pernikahan mereka pun jelas tak sama jadi bila selama ini melihat Rubby manut saja tentu sangat di wajarkan sebab ia tak punya keluarga yang seperti Hardinata dan Permana. Ia besar tanpa kasih sayang meski punya keluarga yang utuh.
Dan melihat jawaban dari adiknya, Shaka malah tertawa, ia ingat bagaimana reaksi Daddy saat ketahuan Rubby ternyata sedang mengandung, akankah kejadian serupa akan terulang lagi??
.
.
.
Meski kata orang pasangan calon halal itu tak boleh bertemu, tapi nyatanya mereka sedang makan malam bersama. Jangan harap Shaka akan mau menahan rindu satu minggu karna dua hari saja sudah membuat uring uringan tak jelas.
"Habis ini jangan capek capek ya, kamu bisa istirahat dirumah sambil nunggu aku ucap Ijab Qabul, Ok," ujar Shaka pada calon istrinya.
"Hem, maunya sih gitu, tapi ada aja yang suka di pikirin, Kha" jawab Si anak gadis yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya itu dan menjadi Nona Muda Rahardian secara resmi.
"Bukannya semua sudah beres, kan ada WO. Ku mohon jangan membebankan pikiranmu terus menerus, kamu tinggal mau apa dan seperti apa, biar mereka yang usahakan. Jangan sampai sakit ya, Sayang." Shaka memohon sambil meraih tangan calon istrinya.
"Ini sekali seumur hidupku, aku ingin semua yang terbaik."
"Aku paham, tapi ada satu hal yang belum kita bicarakan," ujar Shaka yang terlihat sangat serius hingga Violet langsung mengernyitkan dahi.
"Tak ada, hanya saja sepertinya kita belum membicarakan satu hal, Vi."
Tatapan serius dari Shaka membuat jantung Violet berdetak hebat tapi detakan ini jelas berbeda dari biasanya, senyum pria itu bukan senyum menggoda dengan kata cinta. Entah apa yang sedang ingin di bahas oleh Shaka yang jelas Violet terus berdoa semoga ini tak ada sangkut pautnya dengan masa lalu orangtuanya.
"Kamu kenapa, Vi?" tanya Shaka yang pastinya merasa ada yang aneh dari raut wajah cantik wanita di depannya kini.
"Aku cuma takut dengan apa yang sedang ingin kamu bicara kan padaku, Kha. Aku--, " ujar Violet yang tak mampu meneruskan ucapannya, malah ia mendadak sakit di bagian kerongkongannya padahal sudah tak ada apa pun yang gadis itu makan.
"Kenapa harus takut? Memang kamu tahu apa yang sedih ingin aku diskusikan denganmu?" Kekeh Shaka yang tak menyanhka Violet akan se takut itu.
Masa lalu orangtuanya mau tak mau sering membuat anak yang tak berdosa itu merasakan panik yang berlebihan. Ia begitu takut di tinggal Shaka karna mungkin hanya pria tampan itu yang mau menerimanua secara utuh.
"Tidak, Kha. Kalau begitu cepat katakan, jangan sampai membuatku sangat penasaran begini."
"Apa kita akan langsung punya anak setelah menikah? atau kamu ingin menundanya lebih dulu. Aku tak akan masalah dengan semua itu, ku serahkan semua keputusannya padamu," ujar Shaka yang akhirnya bisa mengatakan apa yang mengganjal dalam hatinya.
.
.
.
"Hem, jika aku ingin langsung punya anak, apa aku harus melihatmu BOTAK?"