
L memejamkan matanya, mencoba menghalau cairan kristal bening yang menggenang di pelupuk matanya. Pemuda itu menarik Jessica dan membawanya kedalam pelukannya.
Luhan masih berdiri di sana tanpa berniat untuk beranjak dari tempat itu. Tubuhnya bersandar pada tembok dengan sebuah putung rokok beraroma mint di tangan kanannya. Wajahnya tetap saja datar tanpa ekspresi. Pemuda itu menutup matanya sejenak, Luhan menghela nafas panjang. Perlahan ia beranjak dari tempat itu saat melihat derap langkah seseorang yang semakin mendekat.
Luhan menghampiri Dio yang sedang duduk di sofa ruang tengah sambil memainkan game di dalam ponselnya dan meletakkan ponsel itu saat merasakan kehadiran seseorang. Dio menoleh dan mendapati seorang pemuda dalam balutan jeans belel, singlet putih dan vest abu-abu berleher tinggi menghampirinya.
Dio mengerutkan dahinya melihat wajah Luhan berkali-kali menghela nafas. "Hyung, kau baik-baik saja?" sontak saja Luhan menoleh dan memandang pemuda itu dengan mata memicing.
"Apa aku terlihat tidak baik-baik saja?" tanyanya memastikan. Dio mengangguk membenarkan.
Luhan bisa menyembunyikan perasaannya pada semua orang namun ia tidak bisa menyembunyikan hal itu pada Dio dan L karna hanya mereka berdua lah yang paling memahami dirinya "Dimana, L?" tanya Luhan mencoba mengalihkan pembicaraan, sebenarnya Luhan tau di mana L berada
"Oh, L Hyung berada di kamar Sica nunna. Dia sangat khawatir melihat Sica nunna yang tidak baik-baik saja." ujarnya.
"Oh."
Tak lama berselang L menuruni tangga dan menghampiri Luhan serta Dio yang sedang duduk di sofa ruang tengah. L mengambil tempat di samping Luhan, tubuhnya sedikit condong ke depan untuk menuang wine kedalam gelas yang masih kosong.
Awalnya Luhan menemui mereka untuk membahas misi mereka namun hal itu ia urungkan, Luhan kehilangan moodnya setelah mendengar percakapan L dan Jessica.
"Hyung, bagaimana keadaan Sica nunna?? Dia baik-baik saja kan?" tanya Dio pada L.
"Dia baru saja meminum obat penenangnya dan sekarang sedang beristirahat." Jawabnya.
Dio mengangguk kemudian bangkit dari duduknya. "Hyung, aku ngantuk. Aku masuk dulu ya." pamit pemuda itu pada kedua seniornya dan pergi meninggalkan mereka berdua.
Di dalam ruangan itu hanya menyisakan L dan Luhan saja. L meraih gelas kosong yang ada di meja lalu menuang wine kedalam gelas kosong itu "Sebenarnya bagaimana perasaanmu pada Jessica? Aku tau kau tidak pernah membenci gadis itu," ucap L tanpa menatap lawan bicaranya.
Luhan menoleh, menatap L sekilas sebelum kembali memfokuskan pandangannya pada gelas wine di tangannya. "Aku tidak tau." jawabnya acuh tak acuh.
L mendesah panjang, rasanya ia ingin sekali membakar Luhan hidup-hidup, sikap dinginnya itu yang membuat L merasa gemas sendiri.
"Ada urusan." sahutnya tanpa menghentikan langkahnya.
.......
.......
Dari jarak 5 meter, Luhan melihat J.B berdiri di pinggir sungai Han. Luhan turun dari motor besarnya dan menghampiri pemuda itu.
"Untuk apa kau mengajakku bertemu di sini?" tanya Luhan tanpa menatap lawan bicaranya.
J.B menoleh, menatap pemuda dalam balutan pakaian tanpa lengan yang berdiri di sampingnya. Namun J.B tidak langsung menjawab dan hanya menatap lurus ke depan. Luhan menghela nafas
"Jadi kau memanggilku kemari hanya untuk melihatmu berdiri di sini seperti orang bodoh? Lebih baik aku pergi saja, kau sudah membuang-buang waktuku saja." kata Luhan lalu beranjak.
"Apa yang sebenarnya yang terjadi pada adikku? Dan bagaimana bisa dia tinggal bersamamu."
Luhan menghentikan langkahnya. "Jika kau ingin tau, sebaiknya temui saja Ibu tirimu dan tanyakan sendiri padanya. Karna hanya dia satu-satunya kunci dari pertanyaanmu itu." kata Luhan tanpa merubah posisinya. Keduanya berdiri dalam posisi saling memunggungi.
J.B beranjak lalu menghampiri Luhan. Luhan memicingkan matanya melihat J.B mengulurkan tangan padanya. "Aku ingin kita menjadi teman, kau tidak keberatan bukan?" Luhan hanya menatap tangan J.B datar tanpa berniat untuk menerima uluran tangan itu
"Kau pasti meragukan ku? Kali ini aku serius dan ingin berteman denganmu. Aku tidak ingin menjadi pria tidak tau diri karna memusuhi orang yang sudah menolong adikku. Luhan, apa kau mau menerima diriku sebagai temanmu."
Luhan melihat ketulusan di mata J.B. Luhan mengangkat tangannya dan membalas uluran tangan J.B "Baiklah, aku terima kau menjadi temanku."
.......
.......
...Bersambung....