
"Menikahlah denganku,"
"APA, MENIKAH?!" sontak saja kedua mata Jessica membelalak mendengar tantangan Luhan. "Jika soal itu, aku... aku...!!" mata Jessica bergerak liar, ujung jari telunjuknya saling beradu gadis itu benar-benar gusar.
Jessica bingung harus menjawab apa "A..pa tidak ada tantangan yang lain selain menikah? Masalahnya, usiaku masih terlalu muda dan aku.....merasa belum siap untuk membina sebuah rumah tangga." tuturnya panjang.
Luhan terkekeh. "Kenapa serius sekali, dasar bodoh. Aku hanya bercanda, tapi jika kau menganggapnya serius aku juga tidak masalah. Tidak ada ruginya juga kan untukku, sudah hampir tiba waktunya makan malam. Sebaiknya kita pulang sekarang, aku tidak ingin membuat bocah albino itu merengek karna kelaparan." ujar Luhan yang kemudian di balas anggukan oleh Jessica.
"Sica,"
Langkah mereka harus terhenti karna seseorang memanggil Jessica. Sontak saja mereka menoleh dan mendapati seorang pria jangkung menghampirinya, sudut bibir Jessica tertarik ke atas menciptakan lengkungan indah di wajah cantiknya
"Bian." Jessica berseru sambil menghampiri Luhan lalu memeluk sahabat jangkungnya itu."Aku merindukanmu, tiang jelek." kata Jessica semakin mengeratkan pelukannya. Sudah lebih dari dua minggu mereka tidak bertemu, Bian pergi ke Canada untuk sebuah perjalanan bisnis.
Bian melonggarkan pelukannya lalu menyerahkan sebuah bingkisan pada Jessica. "Oleh-oleh dariku." Wajah Jessica semakin berseri saat melihat apa isi dalam bingkisan itu.
"Huaa...!! Bian, sungguh ini untukku.?" Jessica menatap Bian tidak percaya.
"Lalu untuk siapa?"
Tanpa sadar Luhan mengepalkan kedua tangannya. Entah kenapa Luhan merasa tidak suka melihat kedekatan mereka berdua. Luhan menghampiri Jessica lalu menarik gadis itu menjauh dari Bian dan menatap pemuda jangkung itu tak bersahabat.
"Kita pulang." ucapnya.
"Lu, kau pulang duluan saja ne. Aku masih merindukan Bian dan akan makan malam bersamanya." ujar Jessica.
"Terserah." kata Luhan dan pergi begitu saja.
Jessica memiringkan kepalanya, matanya menyipit ketua timnya itu. Jessica bertanya-tanya kenapa Luhan tiba-tiba saja bertingkah dan bersikap aneh seperti itu.
"Jess, sepertinya dia cemburu padaku." ucap Bian yang seakan bisa membaca raut wajah Luhan.
"Cemburu?" Bian mengangguk.
"Hahah.. itu tidak mungkin, aku mengenal Luhan dengan sangat baik. Aku tau dia pemuda seperti apa, dia adalah tipe pria yang tidak mudah jatuh cinta. Jadi tidak mungkin jika dia cemburu hanya karna melihatku dekat denganmu." tutur Jessica memaparkan.
"Tapi aku rasa tidak begitu, aku melihat cinta di matanya untukmu meskipun hanya sekecil butir beras." Jessica mengangkat bahunya acuh. Memeluk lengan Bian menarik pemuda jangkung itu menuju salah satu cafe ternama di pusat kota.
.......
.......
Decitan pintu terbuka menyita perhatian semua orang yang berada di dalam ruangan itu. Senyum Yunna mengembang seketika saat melihat kepulangan Luhan "Oppa...!" Yunna menghampiri Luhan dan memeluk lengannya yang tertutup jaket kulit hitamnya. Merasa kurang nyaman, Luhan melepas pelukan itu.
"Hyung. Kenapa hanya pulang sendiri? Di mana Sica nunna." tanya Dio dari arah belakang.
Luhan menjatuhkan tubuhnya yang terasa lelah pada sofa setelah memberikan bingkisan berisi makanan yang tadi ia beli bersama Jessica pada Dio kemudian memejamkan sejenak matanya.
"Dia pergi bersama teman tiangnya itu." jawabnya datar.
Luhan membuka matanya dan menatap Dio datar. "Entah, mungkin saja iya." jawabnya acuh tak acuh.
Dio menyeringai lebar. "Ahh.. Tidak salah lagi, itu pasti, Bian hyung. Sica nunna sangat beruntung jika sampai memiliki kekasih seperti dia. Orangnya hangat, baik, murah senyum dan yang terpenting tampan. Aku pernah mendengar dari Sica nunna, jika dia menyukai pria yang hangat dan kalem dan paling tidak suka pria dingin dan arogan." ujar-nya panjang.
Seringai Bian semakin melebar melihat ekspresi tidak suka yang sangat jelas Luhan tunjukkan ketika Dio membahas Bian, apalagi sampai memujinya, yang jelas itu hanyalah sebuah kebohongan belaka apalagi dengan ucapan Jessica. Jessica tidak pernah mengatakan apa pun, apalagi membahas sesuatu tentang laki-laki itu.
Dio hanya ingin melihat bagaimana ekspresi Luhan saja, dan bagaimana perasaan yang dia rasakan pada gadis bermarga Valerie itu.
"Dasar bocah, bukannya segera menyiapkan makan malam malah ngoceh tidak jelas." ucap L seraya melewati Dio begitu saja kemudian menghampiri Luhan dan duduk di sampingnya. "Eo? Lu, apa yang terjadi pada mata kirimu? Kenapa merah , sedikit bengkak dan berair?" tegur L sedikit terkejut.
Alih-alih menjawab pertanyaan temannya itu, Luhan terlihat merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya kemudian memastikan sesuatu.
"Sial. Bukannya membaik kenapa malah makin parah?" Luhan berdecak kesal, sejak semalam mata kiri Luhan memang mengalami iritasi karena tidak sengaja terkena percikan api rokok, dan itulah sebabnya kenapa ia menutupinya menggunakan poninya yang ia tata menyamping. "Hanya iritasi ringan saja. Besok atau lusa juga sembuh." ucapnya lalu meletakkan ponselnya ke atas meja.
"Sebaiknya kau periksakan ke rumah sakit saja, Lu. Aku takut kalau iritasinya akan semakin..."
"Aku tidak sudi masuk tempat terkutuk itu." Luhan menyahut cepat. Alasan kenapa ia sangat membenci rumah sakit karna di sanalah ia kehilangan seseorang yang paling berarti dalam hidupnya, yakni ayahnya.
"Masih ada solusi lain, Hyung. Kau bisa menutupnya agar tidak terkena polusi dan kemasukan debu." usul Dio dari arah ruang makan, Luhan tersenyum kemudian bangkit dari duduknya.
"Tumben otakmu encer, Bocah." kata Luhan seraya berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
"Yakkk... Oppa, kenapa aku di abaikan lagi?" keluh Yunna melihat kepergian Luhan.
Gadis itu menghentakkan kakinya kesal. Ia tidak tau bagaimana lagi dan harus dengan cara apa lagi agar Luhan bisa melihatnya dan membuka hatinya untuk dirinya. Yunna begitu terobsesi untuk bisa memiliki Luhan sepenuhnya, bukan sebagai kakak tiri melainkan sebagai kekasih.
.......
.......
Luhan yang sedang berbaring sedikit terusik karena getar pada ponselnya. Luhan memicingkan matanya melihat nama Jessica tertera di layar ponselnya. "Ada apa bocah menyebalkan itu menghubungiku?" gumamnya heran. Luhan segera menekan tombol hijau dan mengangkat panggilan itu.
"Ada apa?" sinis nya.
"Datanglah ke jalan XXX, Jessica membutuhkan bantuan mu. Beberapa pria mencoba untuk membunuhnya. Dia..."
Luhan memutuskan sambungan telfon itu sebelum Bian melanjutkan kalimatnya. Luhan menyambar jaket kulitnya dan kunci motornya lalu bergegas menuju alamat yang di berikan oleh Bian.
'Semoga saja aku tidak datang terlambat. Sica, aku mohon bertahanlah,'
.......
.......
...Bersambung...