Kill & Love

Kill & Love
32: Kencan Pertama



Pertengahan bulan ini cuaca menjadi tidak menentu. Terkadang hujan, terkadang matahari bersinar cukup cerah. Dan berita akan turunnya hujan hari ini sudah tersiar di Korea di bagian kota Seoul. Dan melihat perkiraan cuaca sudah menjadi rutinitas warna kota Seoul.


Para pejalan kaki yang hilir mudik di sepanjang jalan terlihat menggenggam sebua payung. Mereka hanya sekedar berjaga-jaga jika hujan tiba-tiba turun. Seperti pagi ini, seorang pria berwajah kebarat-baratan terlihat kesal pada pemuda berkulit seputih susu yang sejak tadi terus memencet tombol remote pada acara anak-anak yakni Tom & Jerry.


"Bocah, bisa tidak kau tidak asal memindah chanelnya. Aku belum melihat berita cuaca hari ini." ucap pria itu yang tak lain adalah L dengan nada setengah membentak.


"Kau tidak lihat di luar, Hyung? Jelas-jelas cuaca di luar cukup terik, sudah jelas jika hari ini tidak akan turun hujan. Lihat saja langitnya yang cerah tak berawan. Lagipula untuk apa juga kau ingin tau tetang ramalan cuaca hari ini? Seperti yang akan pergi berkencan saja." cercah Dio tanpa menatap lawan bicaranya. Terlihat ia sangat sibuk dengan acara yang sedang di tontonnya itu.


L mendengus seraya memutar matanya jengah "Hari ini aku ada janji dengan seseorang , jika aku tau cuaca hari ini itu akan sangat membantuku."


Dio mendesah lelah, akhirnya pun ia mengalah dan menyerahkan remote di tangannya pada L. "Ini, tapi jangan lama-lama, aku tidak ingin ketinggalan acara anak-anak kesukaanku." omel Dio tanpa merubah posisinya apalagi beranjak dari kursinya.


Jessica yang sedang sibuk menyiapkan sarapan di dapur hanya bisa mendengus geli melihat dan mendengar perdebatan mereka. Pagi ini Jessica hanya menyiapkan sedikitnya 3-4 jenis makanan, ia memikirkan kondisi bahu dan punggungnya yang masih cidera.


Seharusnya ia tidak melakukan aktifitas apa pun, tapi memikirkan kekasih dan kedua sahabatnya yang mungkin akan kelaparan-lah yang memaksa Jessica untuk menyiapkan sarapan pagi ini.


"Kau ini, memangnya siapa yang mengijinkan mu untuk melakukan aktifitas berat seperti ini?" tegur Luhan yang entah kapan datangnya tiba-tiba sudah ada di belakang Jessica.


Sontak saja gadis itu berbalik dan mendapati Luhan tengah bersandar pada kusen pintu sambil melihat kedua tangannya. "Luhan?"


Luhan beranjak dari posisinya lalu menghampiri Jessica. Pemuda itu mematikan kompor yang masih menyala dan merampas pisau yang berada di dalam genggaman Jessica "Sebaiknya kau kembali ke kamar dan beristirahat, untuk sadapan kita bisa memesannya di luar."


"Tapi Lu...?"


"Jangan mendebat ku, Jess. Sebaiknya dengarkan aku untuk kali ini."


Jessica mendengus panjang, akhirnya ia memilih mengalah dan menuruti Luhan. Gadis itu melepaskan apron-nya kemudian pergi meninggalkan dapur di ikuti Luhan yang mengekor di belakangnya. Luhan menutup kembali pintu kamarnya kemudian menghampiri Jessica yang sedang duduk di sisi tempat tidurnya.


"Kau kesal padaku?" tanyanya memastikan, Jessica menggeleng sambil mengunci manik abu-abu milik Luhan.


Luhan meraih tangan Jessica lalu menggenggamnya "Ketahuilah, aku bersikap seperti ini karna aku peduli padamu. Aku takut jika cidera mu semakin parah, jadi aku mohon, jangan melakukan sesuatu yang akan memperburuk keadaanmu." ujar Luhan.


Jessica menundukkan kepalanya "Maaf." lirihnya penuh sesal. Luhan mendesah panjang , di raihnya bahu Jessica dan membawa gadis itu kedalam pelukannya. Luhan mengusap punggung Jessica dengan gerakan naik turun.


"Baiklah, untuk kali ini aku memaafkan dirimu. Aku akan mandi dan berganti baju setelah ini kita sarapan sama-sama." Luhan mencium dan ******* bibir Jessica kemudian melesat masuk kedalam kamar mandi.


.......


.......


Sepasang kekasih terlihat berjalan beriringan di pusat kota. Mereka tidak banyak bicara namun kehangatan pada keduanya begitu ketara hingga membuat orang-orang yang melihatnya merasa iri.


Sadar jika kini mereka menjadi pusat perhatian dan tak sedikit di antara orang-orang itu berjenis kelamin laki-laki. Dengan cepat Luhan memindahkan tangannya pada pinggang Jessica dan memeluknya intim.


"Lu?"


Merasa terpanggil Luhan pun menoleh . Tatapannya yang sebelumnya tajam sedikit melembut melihat raut wajah Jessica yang menatapnya cemas. Dia menghela nafas lalu menghentikan langkahnya.


"Aku hanya tidak suka jika milikku di pandangan seperti itu oleh orang lain."


Jessica melihat ke sekeliling mereka. Ia sungguh tidak menyadari situasi karna sejak tadi hanya menunduk kebawah. Perlu di ketahui, ini adalah kencan pertama Jessica, dia tidak hanya merasa malu namun juga jantungnya mirip orang yang mengikuti lari maraton.


Meskipun hubungan mereka sudah berjalan 3 minggu, Jessica masih sering gugup dan salah tingkah jika hanya berdua saja bersama Luhan. Dan kadang Jessica masih tidak percaya jika ia dan Luhan kini telah resmi berpacaran.


"Sica...??"


Langkah keduanya terhenti saat mendengar seseorang menyerukan nama Jessica dengan sebutan 'Sica' keduanya menoleh dan mendapati Suho menghampiri mereka berdua


"Kau ada waktu? Bisakah hari ini kau menemaniku untuk membeli kado? Besok ibuku ulang tahun, kau mau kan menemaniku mencari kado untuknya?" tanya Suho begitu antusias.


"Suho.. aku...??"


"Tidak bisa, aku tidak mengijinkannya untuk pergi denganmu." sahut Luhan menyela ucapan Jessica.


Luhan menggenggam tangan Jessica erat, sorot matanya menunjukkan jika ia tidak suka dengan kehadiran pemuda bermarga Kim tersebut.


Suho mengalihkan arah pandangnya, susah payah Suho menelan saliva nya melihat bagaimana mengerikannya penampilan Luhan. Melihat penampilan Luhan yang begitu mengerikan membuat Suho merinding sendiri dam akhirnya ia pun menyerah.


"Sica.. mungkin lain kali saja kita bicara. A..aku lupa jika memiliki janji dengan seseorang. Aku pergi dulu," pamit Suho dan melesat pergi.


"Sudah malam, sebaiknya kita pulang." ucap Luhan yang kemudian di balas anggukan oleh gadis itu.


Mereka kembali menghentikan langkahnya saat melihat beberapa pria bertubuh kekar bersenjata menghadang jalan mereka. Luhan mendengus panjang, sementara Jessica memutar matanya jengah


"Aku heran, kenapa orang-orang ini tidak ada kapok-kapoknya? Aku jadi semakin penasaran siapa sebenarnya orang yang menyuruh mereka untuk membunuhku." keluh Jessica sambil menatap orang-orang itu malas.


"Mundur lah, biar aku yang membereskan mereka." kata Luhan lalu melepaskan genggaman tangan Jessica.


.......


.......


...Bersambung...