
Ahhh...!!"
Dio mencengkram kepalanya yang terasa ingin pecah. Pemuda itu mencoba mengingat apa yang telah terjadi pada dirinya semalam. Yang terakhir ia ingat adalah Ia berada di bar dan minum dalam jumlah yang cukup banyak, ia mabuk dan tidak ingat lagi apa yang terjadi setelahnya.
Derap langkah yang semakin mendekat membuat kesadaran Dio kembali sepenuhnya, decitan pintu terbuka mengalihkan perhatiannya. Terlihat seorang pemuda jangkung yang wajahnya tidak asing menghampirinya sambil membawa nampan berisi segelas susu.
"Bian hyung."
"Kau sudah bangun?" Bian meletakkan nampan itu di atas meja kemudian membuka tirai di kamar itu lalu beralih pada jendela agar udara segar masuk kedalam ruangan itu.
"Huee...!! Bagaimana aku bisa berada di sini hyung? Di mana Sica nunna, L hyung dan Luhan hyung?"
"Entah, aku juga tidak tau. Semalam aku menemukanmu tidur di dalam parit kering, sepertinya kau semalam mabuk berat. Karna jarak rumahmu lumayan jauh, jadi aku membawamu kemari." ujar Bian memberi penuturan.
Dio memaksa otaknya untuk bekerja. Pemuda itu berusaha keras untuk mengingat kembali yang telah terjadi. Perlahan-lahan dan pasti ia mulai mengingat semuanya, ia ingat bagaimana bisa berada di dalam parit itu.
Dio dan L yang dalam keadaan mabuk berat memutuskan untuk pulang dengan berjalan kaki meskipun Luhan dan Jessica memaksa mereka untuk masuk kedalam mobil. Dio yang dalam pengaruh alkohol melihat hamparan bunga berwarna warni di bawah sebuah tebing yang cukup curam.
Karena menyukai keindahan bunga-bunga itu, Dio melompat dan berbaring di atas bunga-bunga tersebut meskipun pada kenyataannya itu hanya imaginasinya saja karna dia dalam pengaruh alkohol dan endingnya ia berada di dalam parit.
Untungnya keadaan malam itu cukup sepi sehingga Dio tidak harus merasa malu karna tidak ada yang melihat tingkah konyolnya selain L pastinya karna memang laki-laki itulah yang menemukannya.
"Mandilah, setelah ini kita sarapan bersama. Aku sudah menghubungi Jessica dan memberi tau padanya jika kau ada di sini."
"Maaf hyung, jadi merepotkan mu." sesal pemuda itu.
Bian menggeleng. "Tidak masalah, mandilah dulu aku akan menunggumu di luar." ucap Bian dan berlalu begitu saja.
.......
.......
Yunna menghentikan langkahnya saat melewati dapur dan mendapati Luhan serta Jessica sedang bersenda gurau di sana. Mereka terlihat dekat dan mesra, terlihat jelas Luhan memeluk pinggang Jessica dari belakang sambil berdiri di depan kompor yang menyala.
Gadis itu mengepalkan kedua tangannya dan menatap pasangan itu tidak suka. Tidak ingin terlalu lama melihat kemesraan mereka, segera ia masuk kembali kedalam kamarnya. Yunna terlihat menghubungi seseorang
"Kemana saja kau itu eo? Kenapa lama sekali? Aku memiliki tugas untukmu dan anak buahmu. Aku ingin kalian menghabisi seorang gadis bernama Jessica , akan segera ku kirimkan fotonya padamu." Yunna memutuskan sambungan telfonnya dan melemparkan keatas tempat tidurnya.
Sementara itu, tanpa Yunna sadari. Seseorang telah mendengar percakapannya. Orang itu berbalik dan bergegas menuju dapur untuk menghampiri orang yang bersangkutan
"Lu.., Jess.." keduanya menoleh, mereka terlihat kaget melihat wajah cemas orang itu 'L'
Jessica melepaskan pelukan Luhan kemudian menghampiri L "Ada apa? Kenapa kau terlihat begitu cemas?" tanyanya memastikan.
"Jess, mulai hari ini aku peringatkan agar kau selalu berhati-hati. Aku baru saja mendengar Yunna berbicara dengan seseorang dari telfon, dia membayar mahal seseorang untuk menghabisi dirimu." tutur L.
"APA?" Luhan begitu terkejut mendengar ucapan L.
Pemuda itu mengangguk membuat sudut bibir Jessica tertarik keatas. Luhan membuka tangannya saat Jessica berhambur ke dalam pelukannya. Luhan tersenyum dan membalas pelukan kekasihnya itu.
.......
.......
Tubuh Jessica melemas melihat dua guci berisi abu kedua orang tuanya yang tersimpan di dalam sebuah lemari kaca di sebuah tempat penyimpanan abu jenazah. Air mata yang seja tadi tertahan di pelupuk matanya perlahan turun membasahi wajah cantiknya. Jessica mulai terisak, tangannya yang gemetar ia arahkan pada bingkai foto yang di letakkan di depan guci berisi abu itu
"Ma, Pa. Aku merindukan kalian." lirih Jessica parau.
Luhan yang sedari tadi berdiri di samping Jessica tak sedetik pun melepaskan rangkulannya pada tubuh gadisnya itu. Luhan tau bagaimana perasaan Jessica saat ini, mungkin selama ini gadis itu selalu terlihat tegar dan kuat di depan semua orang namun pada kenyataannya Jessica sangatlah rapuh.
Mungkin tidak banyak orang yang menyadari keadaan Jessica yang sebenarnya termasuk L dan Dio, tapi tidak dengan Luhan, hampir setiap malam Luhan mendengar gadis itu menangis dalam diam.
"Mama, akhirnya aku menemukan putra durhaka mu itu. Tapi maaf, jika aku masih belum bisa membawanya kemari. Tapi aku berjanji, akan segera menyeret JB kemari. Oya, Ma, Ma, ada yang ingin ku kenalkan pada kalian."
Jessica mengambil jeda dan menarik Luhan."Perkenalkan, ini adalah Luhan. Calon menantu kalian. Ma , Pa jangan terkecoh dengan penampilan luarnya. Meskipun dia seorang badboy, tapi sebenarnya dia adalah pemuda yang sangat baik kok. Kalian tidak perlu mencemaskan ku, disini aku baik-baik saja."
"Aku memiliki kekasih, sahabat dan kakak yang sangat peduli padaku. Mama, Papa maaf aku harus pergi. Secepatnya aku akan mengunjungi kalian lagi." ujar Jessica seraya menyeka air matanya.
Jessica menerima sapu tangan yang Luhan sodorkan padanya, gadis itu tersenyum tipis. Keduanya berjalan beriringan meninggalkan tempat penyimpanan abu jenazah.
Setelah pulang dari mengunjungi orang tuanya. Jessica tidak langsung pulang, gadis itu memutuskan untuk singgah ke taman terlebih dulu . Duduk di depan air mancur sambil menikmati satu cup ice cream rasa coklat kesukaannya. Di sampingnya ada sosok pemuda tampan yang akhir-akhir ini menjadi sandarannya.
"Lu, apa kau serius dengan hubungan ini?" tanya Jessica tanpa menatap lawan bicaranya.
"Kau meragukanku?" Jessica menggeleng, Jessica memutar lehernya dan menatap wajah Luhan yang sedang menatap lurus ke depan.
Sadar sedang di perhatikan, Luhan menoleh membuat mata abu-abunya bertemu pandang dengan mata hazel milik Jessica. "Aku akan membuktikan jika aku serius dengan hubungan ini. Untuk itu.. menikahlah denganku." pinta Luhan tanpa mengakhiri kontak matanya. Jessica kaget atas permintaan Luhan dan menatap pemuda itu dengan pandangan tak terbaca.
"Apa? Menikah? Apa kau serius Lu? Pernikahan bukanlah sebuah permainan, apakah ini tidak terlalu terburu-buru?"
"Aku hanya butuh jawaban iya atau tidak?" ucap Luhan memberi penekanan pada setiap katanya.
Jessica tersenyum, matanya tampak berkaca-kaca. "Ya, aku bersedia. Aku mau menikah denganmu." jawab Jessica pada akhirnya.
Luhan tersenyum, menarik pelan bahu Jessica dan merengkuh gadis itu kedalam pelukannya. Ia tidak dapat menahan kebahagiaannya. Luhan sudah bulat dengan keputusannya itu, dan ia akan menikahi Jessica dalam waktu cepat. Tidak ada keraguan dari sorot mata Luhan, Luhan mengambil keputusan itu karna tidak ingin kehilangan Jessica, Luhan ingin agar gadis itu selalu berada di sisinya.
.......
.......
...Bersambung...