
Tepat pukul 12 malam, mereka tiba di rumah. Kedatangan mereka langsung di sambut Jessica yang memang sengaja menunggu kepulangan ketiga rekannya. Gadis itu bangkit dari duduknya dan menghampiri ketiganya
"Kalian baik-baik saja kan?" tanyanya memastikan, kecemasan terpancar jelas dari sorot matanya yang teduh.
Dio menepuk bahu Jessica dan tersenyum lebar "Tentu saja Nunna, kami kan tim yang hebat. Dan ini hadiah kecil dariku," Dio memberikan sebuah bingkisan pada Jessica.
Gadis itu menerima bingkisan Dio dengan bertanya-tanya "Apa ini?" Jessica membuka bingkisan itu, matanya berbinar melihat sebuah sepatu heels cantik dengan hiasan pita dan tiara.
"Bagaimana Nunna? Kau menyukainya? Semoga ukurannya sama dengan ukuran kakimu," ujarnya sambil tersenyum lebar, Jessica pun ikut tersenyum
"Ini cantik sekali. Aku sangat menyukainya, sepatu cantik ini pasti akan aku pakai."
Tidak hanya Dio saja. L juga memiliki hadiah kecil untuk gadis itu. L memberikan Jessica sebuah dress sederhana namun terlihat mewah dan elegan, dress polos dengan sebuah pita di pinggangnya, dress itu senada dengan sepatu pemberian Dio. Tidak ada alasan khusus kenapa mereka berdua memberikan Jessica sebuah hadiah.
Setelah memberikan hadiah-hadiah itu pada Jessica. L dan Dio bergegas pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Tubuh mereka berlumur darah korbannya, begitu pula dengan Luhan. Saat ini pemuda itu tengah membersihkan diri di kamar mandi yang ada di kamarnya, tubuhnya terasa lengket semua.
Decitan pintu terbuka mengalihkan perhatian Jessica yang sedang duduk termenung di atas tempat tidur. Gadis itu menoleh dan mendapati Luhan meninggalkan kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya yang basah.
Tubuh kekarnya hanya berbalut jeans belel dan singlet putih yang mengikuti lekuk tubuhnya di balut vest hitam yang di biarkan terbuka. Luhan meletakkan handuknya asal kemudian menghampiri Jessica.
"Bagaimana keadaan kakimu? Apa masih sakit?" tanyanya memastikan.
Jessica menggeleng. "Sudah jauh lebih baik, kau tidak perlu cemas." Jessica menarik sudut bibirnya dan meyakinkan Luhan jika ia baik-baik saja.
Luhan membuka laci di samping tempat tidurnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil yang kemudian ia berikan pada Jessica."Untukmu," Jessica menerima kotak kecil itu lalu membukanya.
"Ka..kau... serius?" mata Jessica berbinar-binar melihat sebuah kalung emas putih berliontin bunga Sakura dengan berlian putih tepat di bagian tengahnya.
Luhan bangkit dari duduknya kemudian mengambil kalung itu dari tempatnya. Luhan mengulurkan tangannya pada Jessica dan membantu gadis itu untuk berdiri. Luhan membawa Jessica untuk berdiri di depan cermin.
Jessica merasakan aliran darah dalam tubuhnya berhenti mengalir saat merasakan nafas Luhan yang hangat menyentuh kulit lehernya. Jessica menutup matanya merasakan gejolak di dalam tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang, dadanya berdebar-debar, lagi-lagi Jessica merasakan perasaan asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
'Oh nice, Jessica, bumi memanggilmu.'
"Kalung itu terlihat cocok padamu, sepertinya aku tidak salah pilih. Aku ingin agar kau menyimpan baik-baik kalung pemberianku itu, jangan coba-coba menghilangkannya atau aku akan mencincangmu sampai hancur." ancam Luhan penuh penekanan.
Alih-alih merasa takut, Jessica malah terkekeh mendengar ancaman itu. Entah keberanian dari mana, tiba-tiba Jessica mengalungkan kedua tangannya pada leher Luhan dan mengunci manik abu-abunya.
"Kau tidak perlu cemas, aku berjanji padamu untuk selalu menjaga kalung ini. Terima Kasih untuk hadiahnya, mungkin ini terlihat biasa saja namun kalung ini sangat berarti untukku." tutur Jessica tanpa mengakhiri kontak matanya.
Luhan menarik pinggang Jessica dan membunuh jarak di antara mereka, tubuh mereka saling menempel dengan sempurna. "Aku pegang janjimu." Luhan berbisik sambil membelai wajah cantik Jessica.
Jessica yang merasa ada yang salah buru-buru melepaskan pelukannya dan mundur beberapa langkah. "Maaf, aku tidak bermaksud lancang. Anggap saja hal itu tidak pernah terjadi." kata Jessica bergegas naik keatas tempat tidur kemudian menyelimuti sekujur tubuhnya dengan selimut.
Jessica benar-benar malu dengan apa yang baru saja di lakukannya. Sementara Luhan, pemuda itu menghela nafas dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekanakan Jessica yang menurutnya sangat mengemaskan itu.
.......
.......
Desiran suara peluru yang memekatkan telinga membuat Luhan menoleh seketika pada asal suara itu berasal. Ponsel dalam genggamannya terlepas begitu saja saat melihat helaian rambut coklat terang tergeletak di tanah dengan bersimbah darah
"Tunggu, apa yang terjadi di sana?" tanya Luhan pada seorang pria yang melintas di depannya.
Deggg..!!
Luhan tersentak kaget. Seperti ada bongkahan batu besar yang menghantam dadanya, sesak seketika memenuhi ruang kosong dalam relung hatinya. Pemuda itu menggeleng, itu adalah tempat di mana Ia meninggalkan Jessica beberapa saat yang lalu. Luhan benar-benar berfikir jika gadis itu adalah Jessica, sampai tiba-tiba....
"Luhan.."
Luhan menoleh seketika. Matanya membelalak, terkejut melihat Jessica baik-baik saja, kemudian Ia menoleh pada tempat insiden penembakan itu terjadi. Luhan menghela nafas lega, pemuda itu mempercepat langkahnya untuk menghampiri Jessica.
Tanpa mengucapkan satu patah kata pun, Luhan menarik gadis itu ke dalam pelukannya. "Hei, ada apa?" heran Jessica melihat sikap aneh Luhan, lalu pandangannya bergulir pada satu titik di mana orang-orang tengah berkumpul, gadis itu menarik sudut bibirnya
"Apa kau berfikir jika gadis itu adalah aku?" tanyanya memastikan.
Luhan melepaskan pelukannya dan menatap dalam manik Hazel milik gadis itu. Luhan menarik tengkuk Jessica dan ******* bibir ranumnya, membuat botol air mineral yang ada di genggaman Jessica jatuh begitu saja karna keterkejutannya.
Jessica terkejut karna Luhan menciumnya secara tiba-tiba, sungguh ia tidak memprediksikannya. Jessica mencengkram pakaian yang membalut tubuh Luhan ketika pemuda itu semakin memperdalam ciumannya.
Perlahan tapi pasti Jessica menutup kedua matanya dan membalas ciuman Luhan, kedua tangannya telah berpindah dan mengalung pada leher-nya. Meskipun awalnya sempat terkejut, Jessica tetap tidak menolak ciuman tersebut dan justru menikmatinya. Dan Luhan benar-benar mengakhiri ciumannya saat merasakan pukulan pada dada bidangnya.
"Kau tau? Bagaimana takutnya aku, aku benar-benar berfikir jika gadis itu adalah dirimu." ujar Luhan.
"Kenapa?" Jessica mengangkat wajahnya, menatap Luhan penuh tanya.
Luhan menggeleng "Aku tidak tau, hanya saja aku merasa sangat takut." ujarnya dengan suara yang lebih lembut dari sebelumnya meskipun terdengar datar.
Jessica maju satu langkah dan membunuh jaraknya dengan Luhan. "Bukan jawaban seperti itu yang aku inginkan, Sayang. Berikan aku jawaban yang tepat." mohonnya lalu mengalungkan kedua tangannya pada leher Luhan.
Luhan memejamkan matanya , menggeram merasakan hangatnya nafas Jessica yang menyentuh kulit wajahnya "Apa itu penting?" Luhan membuka kembali matanya dan menatap langsung manik Hazel milik Jessica. Mengamati keindahan mutiara itu yang seakan menghipnotisnya, dan betapa bodohnya Luhan karna baru menyadari betapa cantiknya gadis bermata Jung ini.
Jessica menyeringai "Bagaimana jika aku menantang dirimu?" ucapnya tanpa mengakhiri kontak matanya.
Luhan memicingkan matanya menatap gadis itu dengan dahi mengerut. "Maksudmu?" Jessica mengalungkan kedua tangannya pada leher Luhan kemudian mencium singkat bibirnya.
"Berkencan lah denganku, Luhan." pintanya sesaat setelah ciuman itu terlepas.
"Apa kau mencoba menggodaku, eh?"
"Dasar bodoh. Aku bukan menggoda dirimu, seperti yang aku katakan tadi, aku ingin menantangmu." ucap Jessica dan berdecak kesal. Melepaskan pelukannya pada leher Luhan dan pergi begitu saja, sampai cengkraman menghentikan langkahnya.
Luhan menyentak lengan Jessica lalu melingkarkan tangannya pada pinggang gadis itu "Bagaimana jika sekarang giliranku yang menantangmu, jika kau menolak. Itu artinya kau hanyalah seorang pengecut."
"Apa?"
"Menikahlah denganku."
.......
.......
...Bersambung...