
Jessica menutup matanya, perlahan Ia mengangkat kedua tangannya. Ragu-ragu ia membalas pelukan Luhan.
"Hyung, tunggu jangan kesana dulu!!"
Dio menarik lengan L sebelum pemuda berdarah China-Canada itu semakin dalam melangkahkan kakinya. L mengikuti arah tunjuk Dio, pemuda itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
"Jangan mengganggu mereka, itu adalah moment yang sangat langkah. Dan sebaiknya kita pergi saja, ani, tapi kita persiapkan apa yang akan kita gunakan untuk misi kita malam ini." bisik Dio pelan, takut-takut suaranya akan sampai pada telinga dua insan yang sedang berpelukan itu,
L pub mengangguk mengiyakan. Keduanya pun mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam ruang tengah dan pergi ke ruang bawah tanah tempat mereka menyimpan semua barang-barangnya yang biasa mereka gunakan untuk menjakankan misinya. Beruntung mereka tidak perlu melewati ruang tengah untuk mencapai ruang bawah tanah.
.......
.......
Waktu bergulir cepat. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 19.30 malam. Terlihat Luhan, Dio dan L baru saja keluar dari kamar masing-masing dengan pakaian serba hitam yang biasa mereka gunakan untuk melakukan misi besarnya dan tidak ketinggalan masker dan topi yang menyamarkan wajah mereka.
Di ruang tamu terlihat Jessica bangkit dari duduknya saat menyadari kedatangan ketiga rekannya. Jessica terlihat masih memakai dress yang sama seperti yang dia pakai siang ini. "Kalian akan pergi sekarang?" tegur Jessica saat ketiganya sudah ada di depannya. Mereka mengangguk.
"Maaf Sica, untuk misi kali ini kami tidak bisa melibatkanmu. Ini adalah misi yang sangat berat, di samping itu kau masih sakit. Kami tidak ingin sesuatu yang buruk sampai menimpamu." ujar L mencoba menjelaskan. Jessica menghela nafas lalu mengangguk tipis.
"Nunna, baik-baik di rumah ya, dan doakan misi kami malam ini berhasil. Besok aku akan membawamu belanja, kau boleh membeli sebanyak apa pun dress dan blus cantik yang kau inginkan." tutur Dio. Jessica terkekeh, dengan gemas Jessica mengacak rambut pemuda itu.
"Kami pergi," kata Luhan dan pergi begitu saja. Seketika Jessica merasa kosong saat ketiga pemuda itu meninggalkam rumah yang mereka tempati. Sendirian di rumah membuat Jessica merasa kesepian, gadis itu menghela nafas panjang. Bangkit dari duduknya kemudian melenggang menuju kamarnya.
.......
.......
Bau anyir darah menyelimuti sebuah rumah milik salah satu orang yang memiliki kedudukan penting di Korea. Banyak mayat-mayat berserakan dengan keadaan yang cukup mengenaskan.
Pembantaian besar-besaran baru saja terjadi, banyak nyawa yang melayang sia-sia di tangan tiga pemuda yang tergabung dalam tim pembunuh bayaran paling di takuti dan di cari di Korea.
Ketiga pembunuh itu menatap sinis puluhan mayat yang bergelimpangan di lantai. Seringai tajam tersungging di bibir mereka, tidak ada raut penyesalan yang terpancar dari sorot mata mereka meskipun telah melakukan pembunuhan keji karna yang terpenting bagi mereka adalah bayaran yang setimpal untuk pekerjaannya ini.
"Itu mereka."
"Jangan bergerak, kalian sudah di kepung."
'Shittt...'
"Tangkap mereka bertiga dalam keadaan hidup-hidup."
Ketiga pemuda itu saling bertukar pandang, sama-sama mengangguk. Salah satu dari ketiga pemuda itu menghitung tanpa suara, diam-diam mereka mengeluarkan senjata yang tersembunyi di balik pakaian hitam yang mereka kenakan....
Dorrr...!!!
Dorrr...!!!
Dorrr...!!!
Entah apa yang terjadi. Tiba-tiba saja beberapa polisi yang mengacungkan senjatanya pada ketiga pemuda itu tumbang setelah anggota tubuhnya tertembus timah panas.
Entah dari mana datangnya, seorang gadis tiba-tiba saja masuk dan melibatkan diri dalam perkelahian dengan para polisi tersebut dan tanpa ragu sedikit pun. Gadis itu melepaskan tembakannya dan merenggut nyawa siapa pun yang berani bergerak kearahnya.
"Jessica??" gumam ketiga pemuda itu yang pastinya adalah Luhan, Dio dan L.
Luhan memukul beberapa polisi yang mencoba untuk menangkapnya. Hingga ada pukul antara polisi dan pembunuh bayaran itu pun tidak dapat terhindarkan. Mereka tak segan-segan melepaskan tembakan di tengah perkelahian.
Luhan memisahkan diri dari Dio dan L lalu menghampiri Jessica yang tengah berkelahi dengan beberapa polisi. Kemampuan Jessica memang tidak bisa di remehkan, meskipun dia seorang gadis namun Jessica memiliki pertahanan yang sangat baik.
"Dasar keras kepala," geram Luhan di tengah perkelahiannya.
"Maaf, tapi aku tidak bisa membiarkan rekan-rekanku membahayakan nyawanya sementara aku enak-enakan di rumah."
Luhan melirik gadis itu dengan mata tajamnya. Luhan terus membayangi Jessica dan tidak membiarkan bodyguard dan satu polisi pun menyentuh gadis itu. Luhan melindungi gadis itu secara tidak langsung.
Perkelahian tak seimbang itu pun memakan waktu hampir satu jam, dan setelah pertarungan sengit yang terjadi akhirnya tim Luhan berhasil mengatasi semuanya. Meskipun tubuh dan wajah mereka babak belur namun itu setimpal dengan kemenangan yang mereka dapatkan.
"Kalian tidak apa-apa??" tanya L memastikan.
"Kau buta hyung? Jelas kami tidak baik-baik saja, apa kau tidak melihat wajahku yang tampan ini babak belur, Luhan hyung juga sama, dan Sica nunna? Omo, Nunna lengan dan lehermu berdarah."
Dio memekik kencang melihat luka gores di leher Jessica dan cairan merah segar merembes dari lengan jaket kulit yang melekat pas di tubuh rampingnya. Di bandingkan ketiga temannya, hanya Jessica yang tidak mendapatkan luka di wajahnya karena ketiga pemuda itu bekerja sama untuk melindunginya.
"Tidak apa-apa. Hanya luka kecil saja, sebaiknya kita pulang. Luka-luka kalian harus segera di obati." ucap Jessica yang segera di balas anggukan oleh ketiganya. L merangkul bahu Jessica, keempat pembunuh berdarah dingin itu berjalan beriringan meninggalkan lokasi pembantaian.
.......
.......
"Ahhh, Nunna sakit." Dio menjerit histeris saat kapas berlumur alkohol di tangan Jessica menyentuh luka-luka di wajahnya. Jessica mendecih dan menatap pemuda itu sebal."Kkkyyyyyaaaa.... Nunna, kenapa malah di tekan-tekan lukanya, ini sangat sakit."
"Ck, diam lah. Masih ingin di obati tidak, jika tidak lakuan saja sendiri."
Dio memanyunkan bibirnya, ia kesal karna Jessica mengomelinya. Tidak ingin membuat gadis yang sudah ia anggap sebagai nunna-nya itu semakin kesal. Dio memilih menahannya dan menyumpal mulutnya sendiri menggunakan sapu tangan agar teriakannya tidak keluar, hanya matanya saja yang melebar setiap kali Jessica menekankan kapas itu pada lukanya.
Perban tampak melingkari dahi Dio dan dua perban menutup luka di pipi kanan dan kirinya. Tak jauh berbeda dengan Dio, hal serupa juga tampak pada L dan Luhan. Perban terlihat melingkari kening kedua pemuda itu, plaster luka selebar dua jari orang dewasa menutup luka di bawah mata kanan Luhan juga tampak beberapa memar di wajah tampan mereka.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Jessica bangkit dari duduknya dan hendak pergi ke dapur untuk membereskan kapas-kapas yang ia gunakan untum mengobati mereka bertiga sampai cengkraman pada pergelangan tangannya menghentikan langkahnya.
"Ahhh..." Jessica meringis saat sesuatu yang dingin namun terasa perih menyentuh luka di lehernya. Jessica membuka matanya yang sempat ia pejamkan dan wajah tampan Luhan yang penuh luka lebam-lah yang terpampang di depan matanya
"Kau selalu memikirkan orang lain, tapi kenapa kau tidak pernah memikirkan dirimu sendiri." ujar Luhan seperti biasa, dingin dan datar.
Jessica tersenyum tipis, di balik sikapnya yang dingin dan arogan, namun masih ada kebaikan di hati Luhan yang selama ini tertutup dinding es. Meskipun selama ini Luhan selalu galak dan suka membentaknya, tapi Jessica tidak pernah benar-benar membencinya. Meskipun bibirnya selalu mengatakan hal itu namun tidak dengan hatinya.
"Sudahlah Lu, ini hanya luka kecil saja. Tidak usah berlebihan." kata Jessica sambil menyingkirkan tangan Luhan dari lehernya.
Luhan menarik lengan Jessica dan menyentaknya membuat posisi mereka kini saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat, saking dekatnya hingga mereka bisa merasakan nafas masing-masing.
Dengan ragu Jessica mengangkat wajahnya, matanya bertemu pandang dengan mata abu-abu milik Luhan. Jantung Jessica berdebar tak karuan, rasa aneh kembali mendera perasaannya saat matanya berpadu dengan mata abu-abu milik Luhan.
'Jessica, dunia memanggilmu.'
.......
.......
...Bersambung....