Kill & Love

Kill & Love
16: Tidak Suka Diatur-atur



Alarm di kamar Jessica berbunyi, buru-buru Jessica bangun dan menekan tombol pada jam itu kemudian jam tersebut berhenti mengoceh. Hari ini Jessica ada janji dengan Bian dan Suho, tanpa membuang lebih banyak waktu lagi. Jessica bergegas masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan diri.


20 menit kemudian Jessica keluar dari kamarnya dengan keadaan yang sudah rapi. Tubuh rampingnya berbalut dress sepanjang lutut yang di bungkus cardigan lengan panjang yang panjangnya melebihi dress nya. Heels dan tas yang senada dengan dress nya, rambut panjangnya di biarkan tergerai indah.


Jessica menuruni tangga dengan langkah sedikit terburu-buru, sesekali gadis itu membetulkan pengait pada sepatunya. Penampilan dan sikap Jessica sangat berbanding balik dengan saat dia menjalankan misinya sebagai pembunuh bayaran. Jessica terlihat manis dan imut, namun sisi mengerikannya muncul dengan sendirinya saat dia sudah memegang senjata.


Di meja makan sudah ada Luhan dan L yang sedang menikmati sarapannya sedangkan Dio berkutat di dapur menyiapkan sarapan. Jessica sudah mengatakan pada pria jika hari ini ia tidak bisa menyiapkan sarapan karna harus pergi menemui seseorang.


"Jess, kau sudah mau pergi?" tegur L.


"Hum, aku sudah terlambat hampir 10 menit, pasti Bian dan Suho sudah menungguku. Maaf pagi ini tidak bisa membuatkan sarapan untuk kalian semua. Aku pergi dulu, bye."


Luhan yang sedari tadi diam dan di sibukkan dengan sarapannya, tiba-tiba bangkit dan berlalu begitu saja. "Lu, kau mau kemana?" tanya L.


Luhan menoleh dan memandang L datar "Aku harus menjemput seseorang di bandara." katanya. Dia memiringkan kepalanya, ia menatap Luhan yang semakin menjauh dengan sejuta pertanyaan yang memenuhi kepalanya.


"Mungkinkah, dia sedang cemburu?" ucapnya.


Namun L tidak ingin terlalu cepat menyimpulkan. Ia sangat mengenal Luhan dengan sangat baik, Luhan bukanlah tipe pria yang mudah untuk jatuh cinta. Meskipun Luhan di suguhi dengan puluhan bahkan ratusan wanita cantik, dia tidak akan tergoda sedikit pun.


Sangat berbeda dengan Dio, jadi mustahil bila Luhan bisa jatuh cinta pada Jessica dalam kurun waktu secepat itu. L juga tau jika Luhan memiliki saudara angkat yang sangat cantik, gadis itu mencintai Luhan namun perasaannya di tolak secara mentah-mentah oleh pemuda itu.


.......


.......


Luhan mengerem tiba-tiba saat mata abu-abunya tanpa sengaja melihat siluet gadis yang sangat ia kenal tengah duduk di salah satu cafe yang cukup ternama di Seoul bersama dua orang pria yang salah satunya adalah Bian. Pemuda jangkung yang sering di bicarakan oleh Jessica.


Rasa heran menghinggapi perasaan sosok gadis bersurai hitam legam sebahu yang duduk di samping Luhan. Gadis itu 'Yunna' mengikuti arah pandang Luhan, mata hitam gadis itu tidak mendapati apa pun yang aneh selain dua orang pria yang tengah berbincang dengan seorang gadis cantik berparas barbie.


"Oppa, kau mengenal mereka?" tanya Yunna pada Luhan.


"Ya, dia rekan satu timku. Namanya Jessica, dan dia tinggal bersamaku selama ini." jawabnya datar.


Dan jika di lihat dari sikap Luhan, Yunna berkesimpulan bila mereka memiliki hubungan yang sangat dekat. Meskipun pada nyatanya hubungan mereka tidaklah sedekat itu.


"Oppa, bisa kita jalan sekarang? Aku sudah sangat lelah dan ingin segera beristirahat." kata Yunna yang kemudian di balas anggukan oleh Luhan.


Luhan menyalahkan kembali mesin mobilnya dan dalam hitungan detik mobil itu meninggalkan kawasan Hongdae. Yunna terus berceloteh sepanjang jalan yang hanya di sikapi tatapan datar oleh Luhan. Tidak ada minat Luhan untuk membalas semua celotehan Yunna.


Setelah menempuh perjalanan hampir 30 menit. Mobil Luhan terlihat memasuki halaman rumah minimalis


namun terlihat nyaman. Pemuda berpenampilan serampangan itu membuka pintu di samping kirinya di susul Yunna yang juga turun dari mobil milik Luhan.


Luhan meninggalkan Yunnq begitu saja, bahkan Luhan tidak merasa kasihan pada gadis itu yang kesulitan membawa kopernya.


"Oppa tunggu. Setidaknya bantu aku membawa koper ini." seru Yunna namun tetep tak di hiraukan oleh kakak angkatnya itu.


Yunna mendengus panjang, ia pikir setelah tidak bertemu selama 2 tahun sikap Luhan padanya akan berubah tapi dugaannya salah. Menghentakkan kakinya kesal, Yunna menarik kopernya membawa masuk kedalam rumah Luhan.


Luhan menjatuhkan tubuhnya pada sofa ruang tamu. Rasa lelah menyerang sekujur tubuhnya, Luhan melepas jaket kulit yang melekat di tubuhnya menyisakan singlet hitam ketat dan kemeja tanpa lengan. Luhan mengambil satu batang rokok dari kotaknya dan menyulutnya.


Kepulan asap putih yang berkeliaran di udara menyambut kedatangan Yunna di rumah itu. Gadis bersurai hitam itu mendengus, ia paling tidak suka melihat saat Luhan merokok.


"Hentikan kebiasaan buruk mu itu, oppa" Yunna mengambil rokok yang sedang di hisap oleh Luhan lalu membuangnya.


Luhan mendengus. "Tidak perlu mencampuri hidupku, Lim Yunna. Seharusnya kau paham jika aku paling tidak suka di atur-atur." ujar Luhan tegas seraya bangkit dari posisi duduknya "Itu kamarmu, kau bisa beristirahat di kamar itu."


.......


.......


...Bersambung....