Kill & Love

Kill & Love
12: Malaikat Maut



Malam sudah semakin larut, di sebuah ruangan yang tidak bisa di katakan biasa-biasa saja. Terlihat seorang pria setengah baya yang tengah di sibukkan oleh pekerjaannya sebagai CEO sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Industri.


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 11 malam, namun laki-laki itu masih enggan beranjak dari kursi kebesarannya. Jari-jarinya di sibukkan dengan beberapa dokumen yang harus di tanda tangani dan semua itu harus selesai malam ini.


Brakkk...!!!


Dobrakan keras pada pintu ruangannya mengalihkan perhatiannya. Terlihat dua sosok pria dalam balutan pakaian serba hitam dan kain serta topi hitam yang menyamarkan wajah mereka memasuki ruangan dengan sebuah pistol di tangannya.


Salah satu dari kedua laki-laki itu menghampiri pria paruh baya yang tampak ketakutan, terlihat dari peluh yang membasahi hampir di sekujur tubuhnya


"Si..si..a..pa kalian?? Dan mau apa kalian kemari??" tanya pria itu terbata-bata. Seringai tajam tersungging di wajah tampan yang tersembunyi di balik masker hitam itu


"Malaikat mautmu," bisik-nya lirih.


Pria paruh baya itu mengambil tongkat pemukul base ball yang ada di belakang kursi putarnya dengan gemetar ia arahkan tongkat itu pada kedua pembunuh bayaran di depannya.


"Pergi, atau ku pukul kalian," ancamnya. Alih-alih merasa takut, kedua laki-laki itu tertawa tergelak "Kau ingin memukul kami dengan benda tak berguna itu?? Hahaha sangat konyol."


Bruggg...!!!


Tubuh pria itu terjengkang kebelakang karna tendangan pada ulu hatinya, tongkat itu patah menjadi dua. "Katakan permintaan terakhirmu Tuan Ma, sebelum aku mengirim dirimu ke neraka." kata pria itu sambil mengarahkan ujung pistolnya tepat di jantung pria itu. Dia menggeleng. "Security...!!! Security...!!! Security...!!!"


"Percuma saja Tuan, karena kedua Security Anda sedang tidur dengan tenang." sahut seseorang yang berdiri di depan pintu. "Lu, sebaiknya segera selesaikan pekerjaan ini. Kita terlalu lama bermain dan mengulur waktu." kata orang itu yang pastinya adalah L.


"Kau benar." kata Luhan.


Luhan mengarahkan pistol itu pada kepala dan jantung Junho, dan dalam hitungan deti, pria itu meregang nyawa di tangan Luhan. Misi malam ini sangat mudah untuk mereka berdua. Karna yang menjadi targetnya hanyalah seorang CEO, dan mereka menunda misi utamanya sampai Jessica benar-benar sembuh, bukan karna ingin melibatkan gadis itu.


Namun mereka membutuhkan Dio, karna selama Jessica sakit. Pemuda berkulit seputih susu itu di tugaskan untuk menemani dan menjaga Jessica. Itulah kenapa L dan Luhan tidak melibatkan Dio dalam misi kali ini.


Setelah Luhan menyelesaikan tugasnya, kini giliran L. Pria berdarah China-Canada itu mengukir nama di lengan dan perut laki-laki itu sebagai kenang-kenangan terakhir dari kedua pembunuh berdarah dingin itu. Luhan menyeringai. Kaki berbalut sepatu tangguh bertali itu merubah posisi wajahnya.


Tanpa meninggalkan jejak apa pun, keduanya meninggalkan ruangan itu melalui jendela di sisi kanan meja kerja Junho. Dan mereka berani bersumpah, jika pembunuhan yang mereka lakukan malam ini akan menjadi trending topik esok pagi.


.......


.......


Luhan melepas sarung tangan hitamnya yang berlumur darah dari korbannya dan meletakkan di wastafel dan mengguyurnya dengan air kran, membiarkan noda darah korbannya hanyut bersama air yang mengalir itu. Tak lupa Luhan mencuci tangannya juga dan mengeringkannya dengan handuk.


Luhan melepas jaket kulit hitamnya dan melemparkan keatas tempat tidur, menyisakan singlet hitam yang mengikuti lekuk tubuh Luhan dan jeans hitam pula yang membalut kaki jenjangnya. Luhan beranjak dan meninggalkan kamarnya, saat ini pemuda itu duduk di ruang tengah dengan di temani sebotol wine dan sebungkus rokok.


Rumah terlihat sepi, L dan Dio baru saja meninggalkan rumah. Mereka ingin merayakan keberhasilan misinya kali ini, Luhan yang memang malas untuk keluar lagi memutuskan untuk tidak ikut dan memilih berada di rumah.


Derap langkah kaki yang semakin mendekat sedikit menyita perhatian Luhan, melalui ekor matanya pemuda itu melihat Jessica yang hendak pergi ke dapur. Jessica terlihat lebih baik dari sebelumnya meskipun wajahnya masih terlihat pucat


"Kau sudah pulang?" Luhan mengangkat wajahnya dan mendapati Jessica berdiri di depannya.


"Bagaimana kondisimu?" alih-alih menjawab, Luhan malah balik bertanya.


Pandangannya terfokus pada gelas berisi cairan putih kekuningan yang ada di tangannya. "Aku sudah jauh lebih baik , seperti yang kau lihat." jawabnya. Luhan sedikit menggeser duduknya dan memberi ruang untuk Jessica. Gadis itu duduk di sebelah kanan Luhan.


Keheningan menyelimuti kebersamaan Luhan dan Jessica, mereka sama-sama diam tanpa ada yang berniat untuk membuka suara dan mengakhiri keheningan itu. Jessica menoleh, menatap sisi wajah Luhan. Matanya menyipit melihat ada cairan merah segar yang mengalir dari pelipis kanannya.


"Aaahhh.." Luhan terkejut dan refleks menggenggam pergelangan tangan Jessica dan membuat mata mereka saling bertemu pandang. Ada gelenjar aneh yang memenuhi ruang dalam dada Jessica saat melihat sorot mata Luhan yang tajam.


Deggg...!!! Deggg...!!! Deggg...!!!


'Ya Tuhan, perasaan apa ini???'


.......


.......


...Bersambung....


.