Kill & Love

Kill & Love
44: Kekal Di Surga



'3 TAHUN KEMUDIAN'


Tiga tahun telah berlalu. Sejak kepergian Jessica, Luhan menjalani hidupnya dengan sangat berat. Ia harus melewati hari-harinya tanpa kehadiran wanita itu di sisinya, Luhan menjadi lebih dingin dan tertutup dari sebelumnya.


Ia sudah lama meninggalkan pekerjaan kelamnya dan membangun sebuah perusahaan yang kemudian di beri nama J.S. Perusahaan itu Luhan bangun bersama L dan Dio, perusahaan yang brgerak di bidang hiburan. Luhan menjabat sebagai C.E.O di perusahaan raksasa miliknya.


Tepat di tengah hari. Luhan meninggalkan pekerjaannya dan berencana untuk mengunjungi Jessica, tak lupa ia membeli bunga mawar dan lily kesukaan Jessica. Luhan sudah sangat merindukan istri tercintanya itu.


Luhan membersihkan rumput liar yang tumbuh di makam Jessica dan menatap gundukan tanah itu sendu "Sica, bagaimana kabarmu di sana? Apa kau merindukanmu?" Luhan menatap sendu foto Jessica yang terpanjang di makam Jessica. Bulir-bulir air mata jatuh dan membahasi wajah tampannya


"Maaf, jika saja malam itu aku mencegah mu pergi. Pasti sampai detik ini kau masih berada di sisiku. Maaf Sica, maafkan aku." lirih Luhan penuh penyesalan.


Bulir-bulir air mata secara perlahan terus berjatuhan. Air matanya jatuh semakin tak tertahankan.


"Sayang, kau pasti melihatnya dari sana. Aku kini menjadi pria sukses dan menjadi lebih baik seperti yang kau inginkan. Aku tidak pernah bisa berhenti mencintaimu. Meskipun kau sudah tiada dan kita berbeda dunia, namun percayalah jika aku hanya akan mencintaimu." Luhan menyeka air matanya yang tak henti-hentinya mengalir.


Setelah cukup lama Luhan berlutut dan bersimpuh di depan makam Jessica. Pemuda itu bangkit dari posisinya setelah sebelumnya mencium bingkai foto Jessica. Memakai kembali kaca mata hitamnya, Luhan melenggang pergi meninggalkan area pemakaman.


Dan tak lama setelah kepergian Luhan, terlihat Bian mendatangi makam Jessica setelah sebelumnya mengunjungi makam kekasihnya. Bian bersimpuh di depan makan Jessica sambil menyusut air matanya.


Rasanya masih segar dalam ingatannya saat mereka pertama bertemu dulu kemudian menjadi sepasang sahabat rekat. Bian meletakkan sebuket bunga mawar di atas pusaran lalu mengusap bingkai foto gadis bersurai coklat terang yang tengah tersenyum manis.


"Kau pasti hidup dengan baikkan di sana? Aku sedih karna kau pergi mendahuluiku, Jess. Rasanya baru kemarin kita bermain dan menangkap kupu-kupu bersama. Tapi kenyataannya kau sudah meninggalkanku di dunia ini. Aku merindukanmu gadis bodoh. Hiks, aku sangat-sangat merindukanmu." Bian tak kuasa menahan air matanya untuk tidak mengalir lagi. Air matanya tumpah membasahi wajah tampannya.


30 menit pun berlalu. Setelah puas berbincang dan melepas rindu. Bian bangkit dari tempat itu dan melenggang pergi. Mungkin Jessica memang telah tiada, namun kenangannya tidak akan pernah hilang dan tertanam abadi di dalam hatinya dan akan mengiringi setiap langkah kakinya.


.......


.......


Cuaca yang semula cerah tiba-tiba menjadi mendung dan berkabut membuat jarak pandang bagi setiap pengendara menjadi berkurang. Di tengah hiruk pikuk kota, terlihat sebuah mobil sport hitam yang melesat cepat membela keramaian kota. Mobil itu menyalip beberapa mobil yang melintas di depannya.


Si pengemudi , mengemudikan mobilnya dengan sebuah handset yang menempel pada telinga kirinya. "Sepertinya aku akan datang terlambat. Sebaiknya gantikan aku untuk rapat itu."


"Jangan cemaskan hal itu. Aku mempercayaimu. Baiklah aku tutup telfonnya." Luhan menutup sambungan telfonnya.


Baru saja ia hendak menghubungi JB, namun ponselnya jatuh dari genggamannya. Luhan merunduk sambil sesekali melihat ke depan untuk menghindari kecelakaan. Tangannya terus meraba-raba, senyum lega saat ia mendapatkan kembali ponselnya tanpa ia sadari sebuah mobil truk melaju kencang kerahnya.


Mata Luhan membelalak, Luhan segera membanting stir untuk menghindari tabrakan itu. Namun sialnya mobilnya malah menabrak mobil lain hingga membuat mobilnya berbalik beberapa kali.


Tubuh Luhan terpental keluar dari mobilnya dan menghantam mobil lain sebelum akhirnya berakhir di aspal dengan kepala bersimbah darah. Darah keluar dari mulut, hidung, mulut dan matanya. Yang Luhan rasakan selanjutnya adalah tubuhnya terasa ringan.


Sosoknya yang bermandikan cahaya berdiri di antara kerumunan orang-orang yang menyaksikan peristiwa naas tersebut. Di bawah sana tubuhnya terkapar dalam kondisi yang sangat mengerikan. Sosok bermandikan cahaya yang merupakan roh itu miris melihat kepergiannya yang begitu tragis.


"Luhan?"


Degg...!!


Sosok itu 'Luhan' tersentak dan segera menoleh mendengar suara yang begitu ia rindukan. Sosok Jessica berdiri di seberang jalan dalam balutan pakaian putih panjang yang membuatnya terlihat seperti seorang bidadari. Luhan menatap sosok itu penuh kerinduan, segera ia menghampiri Jessica dan memeluknya.


"Aku merindukan mu," Lirihnya . Jessica mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Luhan.


"Aku juga."


Setelah cukup lama, Luhan melepaskan pelukannya dan menatap wajah Jessica yang masih secantik dulu. "Ayo, sudah saatnya kita pergi." Luhan tersenyum dan menerima uluran tangan Luhan.


Keduanya pun berjalan beriringan menuju cahaya terang di depan sana. Keduanya melewati sebuah pintu berwarna putih yang di hiasi bunga warna-warni yang cantik. Duduk di bawah pohon sakura yang berguguran, Jessica menyandarkan kepalanya di bahu Luhan dengan tangan mereka saling menggenggam.


Jika dulu kematian lah yang memisahkan mereka. Maka kematian pula yang pada akhirnya menyatukan cinta mereka berdua. Dan cinta mereka kini telah kekal di Surga.


.......


.......


...THE END:...