
Satu setengah jam perjalanan yang harus mereka tempuh untuk tiba di rumah. Luhan membantu Jessica untuk turun dari mobilnya dan menuntunnya masuk kedalam rumah.
Keduanya berjalan beriringan dan kedatangan mereka langsung di sambut oleh perdebatan Yunna dan Dio yang saling melemparkan kata-kata kasar, L yang menjadi penengah pun tidak sanggup menghentikan pertengkaran hebat mereka dan akhirnya laki-laki itu memilih untuk diam dan menyaksikan.
"Yakkk...!!! Anak ayam, kau pikir mukaku ini pantat panci, di bandingkan dengan boneka rongsokan itu lebih cantik diriku kemana-mana." amuk Yunna sambil melemparkan apa pun pada Dio.
"Percuma kau memiliki wajah cantik, jika hatimu mirip iblis, di bandingkan Sica nunna tentu kau tidak ada apa-apanya. Dia tidak hanya cantik parasnya tapi juga hatinya, dia memiliki hati yang tulus tidak palsu sepertimu." ujar Dio tak mau kalah.
"YAKKKKK.....!!"
"Hentikan kalian berdua!!"
Suara dingin terlewat datar itu menghentikan perdebatan mereka dengan seketika. Yunna yang melihat kepulangan Luhan tidak dapat menyembunyikan senyumnya lagi. Membuang benda di tangannya, segera ia memeluk Luhan.
"Oppa, kenapa kau tadi meninggalkanku? Tidak adil, seharusnya bukan dengannya kau itu pergi tapi denganku. Karna aku ini adalah calon.....??"
"Minggirlah, aku lelah. Aku ingin beristirahat." Luhan melepaskan pelukan Yunna dan pergi begitu saja.
Dari kejauhan Luhan melihat Jessica yang berjalan tertatih-tatih karna luka pada telapak kakinya. Luhan mempercepat langkahnya dan menyusul Jessica. Luhan takut jika tiba-tiba gadis itu sampai terjatuh. Tapi dugaan Luhan salah, karna Jessica bisa sampai kamarnya tanpa kendala.
Gyuttt...!!!
Yunna mengepalkan kedua tangannya menatap tidak suka pada Jessica yang baru saja memasuki kamar Luhan yang kemudian di susul oleh pemuda itu yang masuk setelahnya. Yunna tidak tau kenapa Luhan memilih berbagi kamar dengan Jessica di bandingkan dengan dirinya 'Jessica, aku tidak akan pernah kalah darimu,'
.......
.......
Decitan pintu terbuka mengalihkan perhatian Jessica yang sedang duduk di sisi tempat tidur. Ia gulirkan kepalanya dan mendapati Luhan memasuki kamar kemudian duduk di sofa. Melepas rompinya menyisakan kaos tanpa lengan yang mengikuti lekuk tubuhnya.
Luhan menyenderkan kepalanya pada bantalan sofa, Jessica beranjak lalu menghampiri Luhan sambil menenteng kotak p3k. "Bagaimana keadaan kakimu?" tanya Luhan tanpa membuka matanya.
Gerakan lembut pada sofa mengalihkan perhatian Luhan. Pemuda itu membuka matanya dan mendapati Jessica duduk di sampingnya, tangannya sibuk mengeluarkan perban, plaster, gunting dan obat merah dari dalam kotak obat yang kemudian ia tata di atas meja
"Masih terasa nyeri tapi sudah membaik. Aku akan membersihkan lukamu dan mengganti perbannya." ucapnya. Luhan mengangkat kepalanya dan duduk tegap di depan Jessica.
Gadis itu mulai melepas lilitan perban pada kening Luhan lalu beralih pada kasa yang menjadi lapisan dalamnya dan melepaskan dari keningnya.
Luka sepanjang jari kelingking anak kecil terlihat tepat di atas alis kanannya. Jessica membersihkan keringat di sekitar lukanya kemudian mengoleskan salep dan obat merah lalu menutupnya kembali dengan kasa yang kemudian ia satukan dengan plaster.
"Nah selesai." Jessica tersenyum tipis kemudian bangkit dari duduknya sampai sesuatu menghentikan langkahnya.
'Ya Tuhan, cabut saja nyawaku detik ini juga.'
Susah payah Jessica menelan saliva nya melihat bibir kemerahan Luhan yang sedikit terbuka. Jessica menutup matanya membayangkan jika tiba-tiba saja Luhan berdiri kemudian menahan tangannya dan menyatukan bibir mereka. Mata itu masih tertutup rapat, merasakan bagaimana manisnya ketika bibir itu **********.
"Sedang apa kau? Dan sampai kapan kau berdiri di situ seperti orang bodoh?"
Suara dingin terlewat datar itu segera menyadarkan Jessica. Gadis itu tersenyum tiga jari dan menggeleng kikuk. Jessica merutuki dirinya sendiri, bagaimana bisa ia membayangkan berciuman dengan pria kejam berhati dingin seperti Luhan
"Hahaha. Tiba-tiba kakiku keram, makanya aku berhenti." jawabnya asal.
Luhan memicingkan matanya , ia tau jika gadis itu sedang berbohong "Benarkah?" tanya Luhan memastikan. Jessica mengangguk cepat
"Sekarang kakiku sudah normal lagi, aku mau membereskan ini dulu." ujarnya sambil mengangkat kotak p3k yang ia pegang.
Luhan menghela nafas, menggelengkan kepalanya melihat tingkah Jessica yang begitu menggemaskan di matanya.
Tidak sampai 15 menit Jessica kembali ke kamar dengan langkah sedikit tertatih. Melihat Jessica yang kesulitan berjalan tidak lantas membuat Luhan tinggal diam. Bangkit dari posisi duduknya, pemuda itu menghampiri Jessica
"Sudah tau cidera, masih saja memaksakan diri." omel Luhan lalu mengangkat tubuh Jessica bridal style, apa yang Luhan lakukan membuat Jessica terpaku.
Mata Hazel-nya bertemu pandang dengan manik abu-abu milik Luhan dalam jarak yang sangat dekat. Saking dekatnya hingga mereka sama-sama bisa merasakan hangatnya hembusan nafas masing-masing. Merasa gugup setengah mati, buru-buru Jessica mengakhiri kontak mata itu dan menatap ke arah lain.
Luhan menurunkan Jessica dari gendongannya lalu berbalik dan berjalan menuju sofa sampai cengkraman pada pergelangan tangannya menghentikan langkahnya. Luhan berbalik dan mendapati Jessica berdiri di depannya.
"Ada apa?" tanya pemuda itu dengan nada datar.
Jessica menggeleng "Tidak apa-apa, hanya ingin mengucapkan terimakasih untuk hari ini." Jessica menarik sudut bibirnya dan tersenyum tipis. Luhan mendengus geli, mengangkat tangan kirinya, jari telunjuknya mendorong pelan kening Jessica.
"Aku pikir ada apa, ya sudah tidur sana. Sudah larut." titah Luhan kemudian berbalik dan berjalan menuju sofa. Luhan membaringkan tubuhnya yang terasa lelah, dan hanya dalam hitungan detik, pemuda itu sudah masuk kedalam mimpi.
.......
.......
...Bersambung...
.......
.......