
Jessica menyeringai tajam di bawah pantulan bulan purnama. Wajah ayu-nya tersembunyi dengan apik di balik masker dan topi hitam yang ia kenakan. Piisau yang ada di genggamannya tampak berkilau di bawah sinar bulan.
Di depannya, seorang pria menggeleng sambil terus memohon agar gadis itu mau mengampuni nyawanya. Namun sepertinya pria malang itu tidak sadar jika yang berdiri di hadapannya adalah seorang malaikat pencabut nyawa.
"To..to..lo..ng lepaskan aku dan bi..bi..ar..kan aku pergi. A..kk..u akan membayarmu berapa pun asal kau mau melepaskanku."
Gadis itu menyeringai "Tapi sayangnya aku tidak tertarik dengan uangmu, aku muak dengan bajingan sepertimu. Apa yang menimpamu malam ini tidak sebanding dengan hancurnya masa depan para gadis yang sudah kau renggut kesuciannya dan aku datang sebagai keadilan bagi mereka. Selama ini aku bekerja sebagai pembunuh bayaran, tapi kali ini aku bekerja secara tunggal dan aku akan membuatmu merasakan bagaimana hancurnya para gadis malang itu."
"Aahhhh..."
Pria itu berteriak saat pisau tajam yang ada di tangan Jessica melukainya. "Ga..ga..dis.. sialan, ka..u tidak ta...u de..nga..n siapa berhadapan? A..pp..a kau sungguh-sungguh?? Ungghh... aaahhhh.."
"Kau ini berisik sekali, apa kau ingin ku robek mulutmu juga?"
Zrazzz...!!
"Hen..ti..kan gadis sialan." teriak pria itu menyuruh agar Jessica menghentikan aksi sadisnya.
"Sstt.. diamlah jika kau tidak ingin kehilangan lidahmu dengan cepat." ucapnya memperingatkan.
Jessica berdiri dari posisinya, mata Hazel-nya bergulir pada sosis berurat milik pria itu yang tersembunyi di balik celana yang dia pakai. Mengarahkan kaki berbalut heels itu pada bagian vitall-nya dan menginjaknya keras
"Aaarrrkkkkhhhhh...." jerit pria itu yang refleks mengangkat kepalanya. Baru saja kejanttanannya di hancurkan oleh Jessica. Bukannya merasa iba, gadis itu malah tersenyum puas.
"Aku rasa permaianan menyenangkan ini cukup sampai di sini. Dan nikmati hari-hari indahmu dengan tersenyum bahagia."
Jessica menarik lengan itu kemudian mengukir sesuatu di lengan pria tersebut menggunakan ujung belatinya. Lagi-lagi pria itu berteriak karena kesadisan Jessica.
"Anggap itu adalah kenang-kenangan terakhir dariku, jaga dirimu baik-baik paman. Aku sarankan segeralah pulang, banyak binatang buas yang berkeliaran di tempat ini." Jessica melambaikan tangannya dan pergi begitu saja. Meninggalkan laki-laki itu sendiri di area terbuka yang jauh dari pemukiman.
Kriminal yang terjadi akhir-akhir ini membuat Jessica menjadi geram, para gadis muda yang menjadi korbannya. Mereka tidak hanya di lecehkan, namun juga di culik kemudian di bunuh dengan tragis.
Dan sebagian dari gadis-gadis malang itu di jual ke luar negeri. Merasa tidak tahan, gadis itu memutuskan untuk melacak jaringan penjahat itu dan menemukannya. Dan kali ini Jessica bekerja solo tanpa kekasih dan kedua rekannya.
Jessica melepas semua alat penyamarannya dan meletakkan di jok samping kemudi. Menyalahkan mesin mobilnya, mobil hitam itu melesat jauh meninggalkan padang ilalang menuju jalanan raya.
.......
.......
"Good bye, pengawal bodoh." Pamit Dio pada beberapa pengawal yang tergeletak di lantai dalam keadaan sudah tidak bernyawa.
Pemuda itu kembali berjalan sambil menggenggam senjatanya menyusul kedua seniornya yang sudah mengintai korban utamanya.
Malam ini Luhan dan timnya kembali mendapatkan pekerjaan, dan korbannya kali ini bukanlah orang biasa melainkan pejabat korup yang meresahkan. Hanya tiga pemuda itu, Jessica absen dari pekerjaan berbahaya itu karna Luhan melarangnya untuk ikut. Dio menghampiri Luhan dan L yang bersembunyi di balik dinding.
"Hyung, aku akan masuk untuk mengalihkan perhatian. Tugas selanjutnya aku serahkan pada kalian berdua."
"Hun, aku akan ikut denganmu. Target utama, kita percayakan saja pada ketua, Luhan yang lebih tepat untuk eksekusi itu." ucap L yang segera di balas anggukan oleh Sehun.
"Halo semuanya, lihatlah aku memiliki mainan baru. Aku baru saja membelinya minggu lalu. Bagaimana jika kalian temani aku bermain sebentar." seru Dio dengan ceria. Menyimpan pistolnya dan menarik samurai dari balik punggungnya.
"Brengsek.. siapa kalian? Berani sekali menyusup ketempat ini? Tangkap dan habisi mereka berdua."
"Hueee...!! Tidak adil, kami hanya berdua sedangkan kalian beramai-ramai. Curang." seru Dio kemudian menarik keluar pedang dari sarungnya , pemuda itu berlari menerjang setiap orang yang mendekatinya dan membunuhnya secara membabi-buta.
Tidak ingin kalah dari Dio. L pun melakukan hal yang sama. Sebagai sniper terlatih, tidak sulit untuk L menggunakan senjata ganda. Menembak setiap musuh yang mencoba mendekat tepat di titik vitalnya.
"Kalian, segera selamatan Tuan Menteri. Di sini biar kami yang menangani."
"Baik."
Keduanya pun tampak menyeringai di balik masker hitamnya. Pancingan mereka berhasil, menteri yang menjadi target utama mereka keluar dari tempat persembunyiannya dengan sendirinya.
Meskipun tau, tapi L dan Dio tidak berusaha mengejar ataupun menghentikannya. Karna Menteri itu mengantarkan sendiri nyawanya pada seseorang yang sudah menunggunya di luar.
"Silahkan lewat sini, Tuan Menteri."
"Apa kalian yakin, kedua pemuda itu tidak mengikuti kita?" tanya menteri itu pada para pengawalnya.
"Ya, kami yakin."
Para pengawal itu menggiring atasannya menuju mobil yang terparkir di halaman "Hm." sampai gumaman menghentikan langkah mereka. Ke 7 orang itu pun menoleh pada sumber suara, seorang pemuda berpakaian serba hitam yang wajahnya tersembunyi di balik masker dan topinya bersandar pada tembok sambil melipat kedua tangannya
"Tidak sopan, bagaimana bisa kalian lewat tanpa menyapaku?" Luhan beranjak dari posisinya dan menghampiri sang Menteri yang berada dalam lindungan para pengawalnya.
"Siapa kau? Masalah apa yang sebenarnya kau miliki denganku?"
"Bukan aku, tapi orang yang menyewa kami yang memiliki masalah denganmu, dan aku di sini sebagai malaikat kematianmu."
"Apa yang kalian tunggu? Cepat habisi pemuda ini."
"Baik Tuan Menteri."
Dooorr...!!!
Tringg..!!
Luhan menghalau timah panas yang melesat kearahnya menggunakan pedang di genggamannya. Luhan mencabut pedang itu untuk menebas tubuh lawannya. 4 nyawa melayang di Luhan, satu di antaranya kehilangan kepalanya setelah lehernya terkena tebasan pedang Luhan.
Hanya tinggal dua lagi, Luhan menyeringai melihat wajah pucat mereka. Mempertajam tatapannya, segera ia menerjang kedua orang itu dan tidak sampai 5 menit Luhan berhasil merenggut nyawa kedua pengawal tersebut. Dan kini hanya menyisakan Menteri yang menjadi target utamanya.
.......
.......
...Bersambung....