
Dio terlonjak kaget karna dobrakan keras pada pintu. Terlihat Yunna memasuki ruangan sambil berteriak marah. "ARRRKKKHHH... BRENGSEK, KENAPA DIA HARUS SELAMAT." amuknya marah.
Yunna melepas sarung tangan dan jaket hitamnya kemudian membuangnya ke tempat sampah. Lalu mengulirkan pandangannya pada Dio yang tengah menatapnya horor
"Apa?" ketusnya marah.
"Dasar nenek sihir, wanita psycho, datang-datang marah. Situ waras?"
"Yakkk! Albino sialan, diamlah jika kau tidak ingin ku robek mulutmu."
"Tck! Dasar wanita mengerikan."
Derap langkah kaki yang memasuki ruangan membuat Yunna menoleh seketika. Kedua tangannya terkepal kuat melihat kedatangan Luhan dan Jessica. Hatinya terbakar melihat pemuda itu menggenggam tangan Jessica
"Oppa, kau terluka?" seru Yunna melihat plaster di bawah mata kiri Luhan.
Luhan tidak memberikan jawaban apa-apa dan hanya menatapnya datar. "Istirahatlah, kau terlihat lelah." ucap Luhan yang kemudian di balas anggukan oleh Jessica.
Selepas kepergian Jessica, Luhan terlihat menghampiri Yunna yang tersenyum lebar padanya. "Kita perlu bicara," katanya datar.
"Tentu."
Yunna memeluk lengan terbuka Luhan saat keduanya berjalan memasuki kamar gadis itu. Sehun yang menyaksikan hal itu hanya di buat melongo saat keduanya menutup pintu kamar, sebuah tanda tanya besar memenuhi kepalanya.
Pemuda itu memiringkan kepalanya, ia berfikir yang tidak-tidak. Dio yang penasaran berjalan mengendap-endap dan berdiri di depan kamar Yunna. Dio menempelkan telinganya pada daun pintu untuk mendengarkan apa yang sebenarnya mereka bicarakan.
"Pembunuh bayaran? Mengirim orang? Apa maksudmu, oppa? Aku sungguh-sungguh tidak tau apa yang kau bicarakan." elak Yunna dengan tatapan polosnya.
"Cukup, kau fikir aku tidak tau kebusukanmu. Aku tau dua hari yang lalu kau menelfon seseorang dan menugaskan mereka untuk membunuh Jessica. Dengarkan baik-baik, aku tidak peduli siapa pun dirimu. Kau adik angkatku atau bukan, kau wanita atau apa pun itu. Jika kau berani melukai dan membahayakan nyawa Jessica, aku tidak akan segan-segan untuk berbuat kasar padamu. Sebelum kesabaranku benar-benar habis, sebaiknya segera kemasi barang-barangmu dan angkat kakimu dari rumah ini."
"Aku tidak mau." Yunna menolak cepat "Kau mengusirku hanya karna gadis itu? Oppa, aku ini adik angkatmu. Selama ini aku selalu bersikap baik padamu, apa itu belum cukup? Oppa, aku mohon berikan aku satu kesempatan lagi. Jebal jangan mengusirku, setidaknya biarkan aku tetap berada di dekatmu. Aku janji, tidak akan bertindak apa pun yang membahayakan nyawa Jessica. Aku berjanji, jebal maafkan aku dan biarkan aku tetap di sini." pinta Yunna memohon.
"Jika kau menyia-nyiakan kepercayaanku. Aku tidak akan segan-segan untuk melempar mu keluar, Sehun akan mengawasimu."
Brakkk...!!!
Pintu kamar itu di dobrak dari luar, terlihat Dio berdiri di ambang pintu dengan cengiran khasnya "Aku pasti akan menjalankan misi darimu dengan sebaik-baiknya, hyung. Dan kau Yunna, mulai malam ini aku akan tidur di sini bersamamu. Aku akan mengawasimu selama 24 jam penuh."
Yunna menggeram marah. Ia tidak tau mimpi buruk apa yang ia alami saat ini sehingga harus berurusan dengan mahluk menyebalkan seperti Dio. Yunna lebih memilih di temani Kingkong dari pada anak ayam albino seperti dia.
"Jangan tidur di ranjangku. Keluar kau Ayam albino." jerit Yunna marah sambil mendorong Dio keluar. Namun tenaga Yoona memang tidak sebanding, Dio tidak bergerak satu inci pun. "Aarrkkkhhhh...! Berengsek."
.......
.......
...Bersambung....