
Dalam pelukan Luhan tangis Jessica pecah. Rasa sakit yang Jessica pendam selama belasan tahun ia tumpahkan di bahu Luhan, rasa sakit dan luka di masa lalu yang tersimpan rapat yang tidak pernah Jessica ingat kembali terbuka setelah pertemuannya dengan J.B.
11 tahun Jessica mencoba menyimpan rasa sakit itu, di mana ia menyaksikan saat Ayahnya sendiri menyiksa Ibunya demi seorang wanita yang kini menjadi Ibu tirinya. Dan dengan mata kepalanya juga, Jessica melihat bagaimana wanita itu merenggut nyawa Ibunya yang sangat berharga.
Jessica kecil berniat melaporkan hal keji itu pada ayahnya namun gadis malang itu di ancam akan di habisi juga jika berani mengadu pada sang ayah.
Tidak ada pilihan selain menuruti kemauan Ibu dan kakak tirinya karena ketidakberdayaan Jessica mengingat pada saat itu usinya masih 10 tahun. Jessica mencengkram kuat pakaian yang Luhan kenakan tanpa peduli jika kain itu akan kusut karna ulahnya.
Setelah di rasa tenang. Luhan melepaskan pelukan-nya dan menatap gadis di hadapannya yang hanya menunduk kebawah
"Kau sudah merasa lebih baik?" Jessica mengangkat wajahnya lalu mengangguk.
Luhan mengangkat salah satu tangannya, jari telunjuknya menyeka air mata di wajah gadis itu dengan mata mereka saling mengunci. 1 tahun mereka hidup bersama di bawah 1 atap yang sama, ini pertama kalinya Luhan memperlakukan Jessica dengan lembut meskipun sangat kaku.
"Ini sudah larut malam, sebaiknya kita pulang sekarang." ucap Luhan yang segera di balas anggukan oleh Jessica, keduanya pun beriringan meninggalkan taman.
.......
.......
"Nunna??"
Dio segera bangkit dari duduknya saat melihat kedatangan Jessica. Dia memutar tubuh gadis itu untuk memastikan apa-kah ia baik-baik saja dan apa yang di lakukan oleh Dio membuat Jessica mendengus geli. Sementara Luhan langsung pergi ke kamarnya yang ada di lantai dua.
"Sica, kau tidak apa-apa?" tanya L memastikan. Pemuda berwajah kebarat-baratan itu baru selesai membersihkan tubuhnya.
"Aisshhh...!!! Kenapa kalian berlebihan sekali. Tenang saja, aku tidak mungkin bunuh diri karna hal sepele." ujar Jessica sambil menatap kedua pemuda di hadapannya secara bergantian.
"Dasar gadis ini. Kami bersikap seperti ini karna kami peduli padamu Jessica Jung," ujar L sambil menjitak gemas kepala coklat gelap Jessica.
Jessica terkekeh. Tangannya sibuk mengusap kepalanya yang baru saja di jitak oleh L, namun kekehan itu berubah menjadi sebuah isakan. Gadis itu menundukkan wajahnya, lelehan air mata mengalir membasahi wajahnya. Bahunya berguncang, L dan Dio saling bertukar pandang lalu sama-sama menghampiri gadis itu.
"Nunna??"
"Badanku lengket semua. Ya sudah, aku ke kamar dulu." kata Jessica dan berlalu begitu saja.
L menatap punggung Jessica dengan pandangan sendu. Dia tau jika gadis itu tidak baik-baik saja, dan dia tidak tau apa yang terjadi pada masa lalu Jessica dan sekelam apa hidup yang gadis itu jalani selama ini. L yang memang peduli padanya, memutuskan untuk menyusul Jessica dan memastikan gadis itu baik-baik saja.
"Sica," panggil L lirih.
Mau tidak mau gadis itu mengangkat wajahnya yang penuh air mata dan wajah sendu L-lah yang pertama tertangkap oleh mata Hazel-nya "Kemarilah," L meraih bahu Jessica dan membawa gadis itu kedalam pelukannya.
Jessica sudah seperti adik perempuan untuk L, karna ia anak tunggal jadi sudah menganggap gadis itu sebagai adik kandungnya.
"Jangan ragu untuk berbagi denganku, Kakakmu. Sica, kau tidak sendirian, masih ada aku, Dio dan Luhan. Kami adalah keluargamu, jadi jangan pernah ragu untuk berbagi kesedihan dengan kami. Apa seburuk itu perlakuan Ibu dan kakak tirimu?" tanya L.
L menyibak rambut Jessica dan menurunkan sedikit pakaian di bahunya untuk melihat bekas luka bakar yang selama ini selalu tersembunyi dengan apik di balik pakaian yang gadis itu kenakan, dan itulah alasan utama kenapa Jessica tidak pernah memakai pakaian lengan terbuka.
"Ya,"
"Pasti sangat sulit hidup yang selama ini kau jalani? Apalagi dengan keadaanmu malam itu saat pertama kali Luhan menemukanmu tergeletak di pinggir jalan dengan bekas luka cambukan pada punggung dan lenganmu." lanjutnya dengan nada sendu.
Jessica tersenyum pilu. "Ya, hampir setiap hari mereka memperlakukanku dengan buruk. Aku tidak kuasa untuk melawan sikap semena-mena mereka. Mereka selalu mengancam akan membunuh papa juga jika aku berani melawan, aku tidak memiliki pilihan selain pasrah dan menerima semua perlakuan buruk mereka." ujar Jessica memaparkan.
L menatap gadis itu dengan pandangan sendunya, ia tidak menyangka bila Jessica memiliki hidup seberat itu.
Luhan yang baru saja selesai membersihkan diri memutuskan untuk turun dan menemui kedua rekannya. Luhan ingin membahas mengenai misi mereka selanjutnya. Namun langkahnya terhenti saat melintasi kamar Jessica dan melihat pintu kamar itu sedikit terbuka. Samar-samar Luhan mendengar percakapan dua orang di dalam ruangan itu yang cukup menyita perhatiannya.
"Lalu bagaimana caranya Ibumu bisa terbunuh? Maksudku bagaimana kau bisa mengetahui jika Ibumu terbunuh di tangan Ibu tirimu.??"
"Karena aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri." Jessica menyahut cepat, gadis itu mendongakkan wajahnya dan menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan sendu.
"Saat itu aku masih berusia 11 tahun, aku melihat wanita itu menusuk mama dan menghantamkan kepallanya pada dinding. Mereka menyiksanya yang pada saat itu sedang sakit parah. Aku hanya bisa menangis dan berteriak tanpa bisa melakukan apa pun."
"Ibuku di siksa dan di habisi di depan mataku. Mereka mengancam akan membunuhku jika aku berani mengadukan perbuatan mereka pada, papa. Aku, sungguh-sungguh merasa tidak berguna sebagai seorang anak."
"Dan di saat aku dewasa pun aku masih tetap tidak bisa membalas perbuatan mereka, mereka membuat papa lumpuh dan selalu mengancam akan membunuhnya jika aku berani melawan mereka. Aku bingung, aku bingung harus melakukan apa??" lirih Jessica parau, gadis itu sudah tidak mampu lagi membendung air matanya.
.......
.......
...Bersambung...