Kill & Love

Kill & Love
7: Terlambat



"J.B."


Jessica tidak dapat menahan keterkejutannya mendengar satu nama yang baru saja di sebutkan oleh Dio. Mata Hazel-nya bergulir memandang sosok pria yang akan bertanding balap liar dengan Luhan malam ini. Jessica beranjak dan menghampiri kedua pemuda tampan itu yang sudah bersiap untuk memulai balap liarnya sampai akhirnya.....


"TUNGGU."


Kehadiran Jessica menyita perhatian semua orang yang berkumpul di lokasi itu termasuk dua setan jalanan yang sudah bersiap di posisinya. Luhan melepas helmnya dan meletakkan di depan dadanya


"Apa-apaan kau ini. Pulanglah dan jangan menimbulkan masalah." Luhan menarik lengan Jessica dan berbisik di telinganya.


Jessica menyentak kasar tangan Luhan dan berbalik menatapnya tajam. "Urusanku bukan denganmu, tapi dengannya." kata Jessica sambil menunjuk J.B dengan jari manisnya.


J.B mengerutkan dahinya. Pemuda itu melepas helmnya dan menatap Jessica dengan mata menyipit. "Perlu denganku? Apa kita saling mengenal?" tanya J.B memastikan.


Jessica menoleh dan menatap J.B tak percaya, gadis itu tersenyum miris. "Kau sungguh-sungguh tidak mengingatku?" tanya Jessica memastikan. J.B menggeleng. Mati-matian Jessica menahan air matanya agar tidak sampai menetes, Ia tidak menyangka bila J.B bisa semudah itu melupakannya. "Begitukah? Apa kau sungguh-sungguh melupakanku... Kakak....?!"


Deggg...!!!


J.B tersentak. Dia pun segera turun dari motor besarnya kemudian menghampiri Jessica. Pemuda itu menatap Jessica dari ujung rambut sampai ujung kaki, J.B memukul dadanya yang terasa sesak.


Dengan tertatih J.B menghampiri Jessica, kedua tangannya yang gemetar menakup wajah gadis itu "Sica." lirih J.B sambil mengunci manik Hazel milik gadis itu lalu menarik Jessica kedalam pelukannya."Sica, Maafkan, Kakak." lirih J.B sambil mengeratkan pelukannya.


Luhan yang menyaksikan hal itu memilih untuk diam begitu pula dengan Dio dan L yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping pemuda itu. Mereka bertiga menatap kedua orang berbeda gender itu dengan pandangan penuh selidik, sebuah tanda tanya besar muncul di benak mereka mengenai apa sebenarnya hubungan Jessica dan J.B.


Jessica mendorong tubuh J.B dan memukul dadanya dengan sangat brutal. "Sialan kau Min Jaebi. Kau sungguh-sungguh brengsekk. Kemana kau selama ini, eo? Apa kau puas setelah membuat adik perempuanmu menderita selama belasan tahun." amuk Jessica sambil terus memukul dada J.B.


"Aku tau aku memang bukan adik yang satu appa denganmu, tapi apakah kau lupa jika kita berdua terlahir dari rahim yang sama. Kau bilang akan selalu menjagaku, tapi kau malah pergi meninggalkanku dan tidak pernah kembali. Puas kau sekarang? Aku membencimu. Aku sungguh-sungguh membencimu." Jessica menarik jaket yang J.B kenakan dan terus memukulnya dengan brutal.


J.B menahan kedua tangan Jessica dan menghentikan aksi brutalnya. "Aku minta maaf, Sica. Aku sungguh-sungguh minta maaf." Lirih J.B penuh penyesalan.


J.B melonggarkan pelukannya dan menatap wajah Jessica yang penuh air mata. "Lalu dimana Mama sekarang? Dia baik-baik saja bukan? Bawah aku menemuinya" J.B menatap Jessica penuh harap.


Alih-alih menjawab, Jessica malah menundukkan wajahnya dan mulai berkaca-kaca "Sica," lirih J.B memanggil.


Jessica mengangkat wajahnya dan menatap J.B sendu. "Terlambat jika kau ingin menemuinya sekarang, karna Mama sudah lama tiada, hanya berselang 1 minggu setelah kepergianmu. Mama, terbunuh di tangan Istri muda papa." ujar Jessica dengan suara parau nya


"Sica, aku....!!!" J.B tidak mampu melanjutkan ucapannya.


Laki-laki itu terhuyung kebelakang. 1 fakta yang baru saja di ungkap oleh Jessica menjadi pukulan terberat untuknya.


J.B berbalik dan menghampiri Luhan."Balapan malam ini kita batalkan saja. Aku sedang tidak dalam mood yang baik. Bisakah kau menyusulnya dan memastikan jika dia baik-baik saja." J.B menepuk bahu Luhan, Luhan hanya diam tanpa memberikan respon apa pun.


Sebagai gantinya, Luhan segera menyalakan mesin motornya dan bergegas menyusul Jessica.


.......


.......


Luhan menghentikan motor besarnya di sebuah taman yang letaknya tak jauh dari lokasi yang di gunakan untuk balap liar. Dari jarak 10 meter, Luhan melihat Jessica duduk sendiri di bangku taman yang berhadapan dengan pertunjukan air mancur yang di hiasi lampu warna-warni.


Wajahnya menyiratkan kesedihan dan hanya menatap lurus ke depan. Luhan turun dari motornya dan segera menghampiri gadis itu.


Namun langkahnya terhenti saat mata abu-abunya melihat sosok pemuda jangkung yang wajahnya begitu familiar menghampiri Jessica kemudian duduk di sampingnya. Pemuda jangkung itu menarik bahu Jessica dan membawa gadis itu kedalam pelukannya. Sadar jika kehadirannya tidak di butuhkan lagi, akhirnya Luhan memutuskan untuk pergi dari sana.


Luhan menaiki motor besarnya dan dalam hitungan detik motor sport hitam berkombinasi merah dan orange itu melesat jauh meninggalkan area taman.


Dan laki-laki itu tidak ingin ambil pusing, toh Jessica juga bukan siapa-siapa apalagi seseorang yang berharga dalam hidupnya. Bagi Luhan, Jessica hanyalah rekan yang merepotkan. Meskipun dalam hatinya dia sangat mencemaskan gadis itu.


'Bisakah kau menyusulnya dan memastikan jika dia baik-baik saja.'


Luhan mengerem secara tiba-tiba, ucapan J.B berputar di kepalanya. Pemuda itu memutar balik motor sportnya dan kembali menuju taman di mana Jessica berada. Setibanya di taman itu, Luhan melihat Jessica hanya duduk sendiri saja, ia tidak melihat pemuda jangkung yang semula menemaninya. Akhirnya Luhan pun memutuskan untuk menghampiri gadis itu.


Derit suara pada kursi mengalihkan perhatian Jessica yang semula hanya menatap kosong ke depan. Gadis itu menoleh dan mendapati ketua timnya duduk tepat di sampingnya tanpa suara. "Untuk apa kau menyusul kesini? Ingin mengolok-olok ku karena menangis?!" sinis Jessica dengan nada terlewat datar.


"...."


Hampa, tidak ada jawaban. Luhan hanya diam sambil menatap gadis itu seperti biasa, dingin dan datar. Jessica mendengus kasar, bertemu dan bertatap muka dengan Luhan hanya membuat moodnya semakin memburuk.


Gadis itu bangkit dari duduknya dan melenggang pergi, namun cengkraman pada pergelangan tangannya menghentikan langkah gadis itu. Yang selanjutnya Jessica rasakan adalah dekapan hangat tangan kekar Luhan yang melingkari punggungnya. Tidak ada penolakan, Jessica tidak menolak apa lagi berusaha melepaskan pelukan itu.


"Lepaskan semuanya, jika kau ingin menangis maka jangan di tahan lagi, keluarkan semua." ujar Luhan, nadanya rendah namun tetap sedingin biasanya.


.......


.......


...Bersambung....