
BRAKKK...!!!
Doorr...!!
Dobrakan pada pintu dan suara desiran peluru mengalihkan perhatikan semua orang yang berada di cafe itu. Para pengunjungnya kalang kabut dan berhamburan menyelamatkan diri.
"Di antara kalian, siapa yang bernama, Jessica?" teriak salah satu dari ke 7 pria misterius itu.
"AKU." Jessica bangkit dari duduknya dan menatap datar ke 7 pria bersenjata itu.
"Oh jadi kau orangnya. Maju dan habisi gadis itu."
Jessica menyerahkan ponselnya pada Bian karna tidak mungkin melibatkan sahabat jangkungnya itu dalam perkelahian itu mengingat bila Bian tidak bisa bela diri
"Hubungi Luhan, katakan jika aku membutuhkan bantuannya dan beri tau di mana kita berada."
Tanpa mengulur banyak waktu lagi. Bian segera mencari kontak Luhan yang ada di ponsel Jessica dan menghubunginya 'Tut... Tut... Tut...' panggilan itu tersambung "Angkat, Luhan, angkat."
"Ada apa?"
"Datanglah ke jalan XXX, Jessica membutuhkan bantuanmu, beberapa pria mencoba membunuhnya. Dia....!" Bian menatap layar ponsel Jessica, sambungan itu di putuskan begitu saja oleh Luhan.
"Yakk...kenapa dia malah memutuskan sambungan telfonnya? Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan, Tuhan.. lindungi gadis itu, aku mohon."
Perkelahian antara Jessica dan ke 7 pembunuh bayaran itu semakin sengit. Jessica sudah berhasil melumpuhkan 3 di antaranya, mereka bukanlah lawan yang mudah untuk di hadapi dan Jessica mulai kewalahan menghadapi mereka.
Gadis itu terdesak mundur, ia semakin sulit menghadapi mereka apalagi dengan cidera pada bahu kirinya akibat pukulan oleh salah satu dari mereka. Namun sebisa mungkin Jessica mengulur waktu sampai Luhan datang.
Bruggg...!!!
"Aw...!!" Jessica terdorong mundur hingga punggungnya berbenturan dengan dada bidang seseorang dan tangan orang itu melingkari perutnya. Jessica mendongak. Wajah dingin Luhan-lah yang tertangkap oleh mata Hazel-nya.
"Mundur lah, sisanya biar aku yang menyelesaikan." kata Luhan yang segera di balas anggukan oleh Jessica.
Jessica mundur dan berdiri di samping Bian. Dari sana Jessica melihat bagaimana Luhan menghajar orang-orang itu dengan sangat brutal dan tidak sampai 10 menit, Luhan berhasil menumbangkan mereka semua. Jessica mengulum senyum tipis dan lega melihat Luhan baik-baik saja.
Luhan menatap satu persatu ke 7 pria yang sudah terkapar di lantai dengan seringai meremehkan. Pemuda itu berbalik dan menghampiri Jessica serta Bian tanpa ia sadari. Salah satu dari ketujuh orang itu meraih balok yang ada di samping kirinya, susah payah ia berdiri dan menghampiri Luhan. Jessica membelalakkan matanya
"LUHAN... AWAS." teriak Jessica dan berlari menghampiri Luhan. Jessica memutar tubuh Luhan sampai akhirnya....
Balok itu menghantam punggung Jessica membuat gadis itu tak sadarkan diri. Dengan sigap Luhan menahan tubuh Jessica sebelum jatuh menghantam lantai "Sica... bangun. Aku mohon, buka matamu. Jangan membuatku takut, hei bangun...!" mohon Luhan sambil menepuk pipi gadis itu berharap Jessica segera membuka matanya. Luhan membawa gadis itu bersimpuh di lantai.
"Sampai kapan kau akan berdiri di sana seperti orang bodoh? Cepat carikan taxi aku harus segera membawanya ke rumah sakit." teriak Luhan pada Bian. Bian yang terkejut bergegas keluar cafe untuk mencari taxi. Luhan mengangkat Jessica yang tengah tak sadarkan diri dan membawanya keluar.
"Bertahanlah, aku mohon."
.......
.......
Luhan dan Bian bangkit dari duduknya saat melihat pintu UGD terbuka dan Dokter yang menangani Jessica keluar dari ruangan itu."Bagaimana keadaannya?" tanya Luhan tanpa basa basi.
"Nona Jung mengalami cidera cukup parah pada bahu kirinya. Untungnya pukulan itu tidak berakibat fatal pada keselamatannya, dan tulang punggungnya sedikit mengalami keretakan. Namun tidak berakibat fatal apalagi membuat dia sampai mengalami kelumpuhan, dalam waktu 1-2 minggu. Dia sudah baik-baik saja," ujar Dokter itu lalu berlalu begitu saja.
Hati Luhan terenyuh melihat kondisi Jessica saat ini, jika bukan karna melindungi dirinya. Pasti hal semacam ini tidak akan terjadi, Luhan menghampiri Jessica dan berdiri di sampingnya. Luhan meraih tangan kanan Jessica dan menggenggamnya.
"Bodoh, kenapa kau harus mempertaruhkan nyawamu hanya untuk melindungi ku? Kenapa kau tidak membiarkan balok itu menghantam tubuhku saja, kenapa...?" lirih Luhan parau seperti menahan tangis.
Pemuda itu menengadahkan wajahnya untuk menghalau cairan bening yang menggenang di pelupuk matanya agar tidak sampai menetes. "Luhan...??" lirih lemah itu menarik perhatian Luhan, buru-buru Luhan menyeka air matanya yang hampir menetes dan mendapati Jessica sudah membuka matanya.
"Gadis bodoh. Puas, sudah membuatku ketakutan setengah mati." amuk Luhan dengan nada sedikit meninggi.
Jessica terkekeh "Beginikah caramu menyambutku setelah hampir satu malam tidak sadarkan diri. Kau sungguh-sungguh kejam, Luhan," rengek Jessica sambil memanyunkan bibirnya.
"Justru aku ingin memarahimu habis-habisan karna ulah gila mu itu. Kau tau, aku takut setengah mati melihatmu tak sadarkan diri di depan mataku. Aku takut... aku sungguh takut jika hal buruk sampai menimpamu." ujar Luhan dengan suara yang semakin merendah dan lebih lembut dari sebelumnya.
"Kenapa?" tanya Jessica sambil mengunci manik abu-abu milik Luhan.
"Karna aku...."
"Nuna... huaaaa....!!"
Dan kalimat Luhan terpotong karena kemunculan Dio yang langsung menghambur memeluk Jessica sambil menangis layaknya anak kecil yang tidak di belikan permen oleh Ibunya. "Hiks.. Nunna, hiks.. aku sangat takut kau kenapa-napa. Hiks.. dan aku lega ternyata kau baik-baik saja." ujar Dio di tengah isak nya.
Jessica terkekeh, di usapnya punggung Dio dengan gerakan naik turun "Sudah Hun, sudah. Kau sepertu anak kecil saja. Nunna tidak apa-apa, jadi jangan menangis lagi." ujar Jessica menenangkan.
Dio mengangkat wajahnya , menyusut ingus dan air matanya dan kembali memeluk Jessica sebelum sebuah tangan menarik pemuda itu menjauh.
"Apa kau ingin membunuhnya dan membuat cideranya semakin parah." ucap pemuda itu dengan nada kurang bersahabat.
Dio menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil tersenyum tiga jari "Hehehe... maaf hyung, biarkan aku ngedrama dulu." ucapnya tanpa dosa.
Luhan mendengus , rasanya ia ingin sekali menggetok kepala Dio saking kesalnya. Dio tidak hanya datang sendiri saja, ia datang bersama L, JB dan Yunna. Bukan niat Yunna untuk ikut, tapi ia terpaksa ikut karna Dio memaksanya sampai mengancamnya dan menakut-nakuti gadis itu dengan kisah seram di rumah itu yang sebenarnya hanya karangan Dio belaka.
"Lega melihatmu baik-baik saja, Jess. Aku sangat terkejut saat Luhan menghubungiku dan mengatakan jika kau masuk rumah sakit." ucap L sambil mengusap kepala Jessica.
"Kakak, bingung harus merasa sedih atau bangga melihatmu terbaring seperti ini. Tapi intinya kau adalah gadis terhebat yang pernah ku kenal. Oya, kalian terlihat cocok saat bersama, kenapa kalian tidak jadian saja? Ani, tapi menikah saja." usul JB seraya menatap Luhan dan Jessica bergantian.
"A..pa maksudmu?" Jessica memalingkan wajahnya menyembunyikan pipinya yang merona "Mana mungkin aku dan Luhan menikah, lagi pula siapa juga yang mau menikah dengan patung es berjalan sepertinya." Jessica menundukkan kepalanya, menyembunyikan pipinya yang memerah.
J.B terkekeh mendengar ucapan Jessica, sementara Luhan hanya mengullum senyum setipis kertas. Melihat wajah merona Jessica membuat Luhan gemas sendiri. Sedangkan Yunna, Gadis itu memilih berada di luar ruangan bersama Bian.
Berkali-kali Yunna menggumam tidak jelas, kesal, marah dan cemburu karna semua orang lebih peduli pada Jessica terutama Luhan. Yunna semakin tidak suka dengan Jessica karna dia Luhan mengacuhkannya, dan Yunna bersumpah ia akan melakukan apa pun untuk menyingkirkan Jessica dari hidup Luhan meskipun harus melenyapkan nyawanya.
.......
.......
...Bersambung...
.
.