
Di pagi yang cerah di saat matahari mulai membumbung tinggi. Terlihat seorang darah jelita berdiri di balik kompor yang menyala. Jari-jari lentiknya begitu lihai saat memotong beberapa bahan yang mungkin akan menjadi menu masakannya pagi ini seperti sayuran segar dan daging.
Gadis itu begitu sibuk sampai-sampai tidak menyadari kehadiran seseorang yang kini tengah berdiri di samping lemari pendingin sambil menatapnya datar.
"OMO??"
Gadis itu terlonjak kaget membuat pisau yang ada di genggamannya terlepas dan menggores kakinya yang tidak sengaja menjadi landasan pendaratan pisau tersebut
"Aaahhh," rasa perih seketika menjalari kakinya yang terluka seiring dengan keluarnya cairan merah yang kemudian mengotori lantai keramik itu
"Ck," pemuda itu berdecak lidah. Meletakkan botol air mineralnya kemudian menghampiri gadis itu yang sedang meringis kesakitan.
"Dasar ceroboh," pemuda itu menarik kasar kaki gadis didepannya lalu memindahkan keatas pahanya.
Dengan cekatan, pemuda itu 'Luhan' membersihkan darah yang ada di kaki Jessica sebelum membebatnya dengan perban "Aaahhhh...!! Perihh," histeris Jessica saat Luhan menuangkan cairan alkohol keatas lukanya
"Ck, diamlah dan jangan manja." omel Luhan sambil mengangkat wajahnya membuat matanya bertemu pandang dengan mata Hazel Jessica. Gadis itu memanyunkan bibirnya.
"Dasar Iblis, jelas-jelas aku terluka karna ulahmu. Jika saja kau tidak seperti hantu yang muncul dengan tiba-tiba, pasti aku tidak akan terluka seperti ini." ujar Jessica tidak mau kalah. Namun kali ini tidak ada tanggapan, Luhan memilih diam tanpa merespon ucapan gadis itu.
"Aku akan membereskan ini. Sebaiknya lanjutkan memasak mu, jika kau tidak ingin membuat yang lain mati kelaparan," ucap Luhan seraya bangkit dari posisinya.
Jessica mengangkat wajahnya dan menatap Luhan sebal "Tanpa kau minta pun pasti aku akan menyelesaikannya."
Luhan meninggalkan Jessica sendiri di dapur sementara dirinya kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Selepas kepergian Luhan terlihat Dio memasuki dapur dalam keadaan yang cukup berantakan. Rambut acak-acakan, wajah kusut yang tampak lembab karna di cuci asal-asalan. Sesekali pemuda itu menguap karna rasa kantuknya yang belum sepenuhnya hilang
"Pagi, Nunna," sapa Dio yang kemudian duduk di kursi tinggi depan meja dapur.
"Pagi juga, Dio," Jessica mengambil gelas berukuran cukup besar kemudian menuangkan susu yang sebelumnya sudah lebih dulu ia panaskan dan meletakkan di depan Dio. "Minum dulu susumu,"
Dio tersenyum lebar dan susu itu habis hanya dengan satu kali tegukan "Seperti biasa, kau memang yang terbaik, Nunna!" Jessica terkekeh, lagi-lagi Dio memuji dirinya
"Sebaiknya segera mandi setelah ini kita sarapan bersama." Dio segera berdiri kemudian mengangguk.
Satu persatu mulai memasuki ruangan makan termasuk L dan Luhan. L terlihat rapi dengan kemeja navy dan jeans hitamnya, sementara Luhan??
Entahlah, Jessica tidak tau bagaimana menjelaskannya. Title berandalan sepertinya melekat kental di dalam diri pemuda itu, bahkan pakaian yang di pakai pun jauh dari kata layak. Jeans hitam belel, singlet putih polos yang di bungkus vest kulit hitam, tak ketinggalan kain hitam bercorak putih yang melingkari dahinya serta beberapa pricing di salah satu telinganya.
Jessica bergidik sendiri melihat penampilan Luhan yang sangat mengerikan "Apa lihat-lihat," sinis Luhan dengan tatapan datarnya. Jessica menghela nafas, berkali-kali ia mengusap dada mencoba sabar menghadapi sikap kasar Luhan.
Perhatian Jessica teralihkan karna getaran pada ponselnya yang ia letakkan di pantry dapur. Sudut bibir Jessica tertarik keatas melihat siapa yang menghubunginya. "Ada apa, Bian?"
"....."
"Oke, 15 menit lagi aku akan tiba di sana. Tunggu aku di halte biasa, oke." Jessica mematikan sambungan telfonnya kemudian menghampiri ketiga pemuda yang sedang sibuk menyantap sarapan paginya.
"Nunna, kau tidak ikut sarapan bersama kami?" tegur Dio melihat kedatangan Jessica.
"Aku akan sarapan di luar, Bian baru saja menghubungiku dan memintaku menemaninya sarapan." Ucapnya dengan senyum lembut andalannya.
Dio mengangguk paham. "Nuuna, ngomong-ngomong ada apa dengan kakimu? Kenapa sampai di perban seperti itu?"
Jessica menurunkan pandangannya "Ahh ini. Tidak apa-apa hanya luka kecil saja, dua sampai tiga hari lukanya juga pasti kering kok. Ya sudah, aku mau bersiap-siap dulu."
10 menit kemudian Jessica keluar dengan pakaian yang berbeda. Dress hitam berlengan bercorak bunga di bagian bawahnya dan pita putih di pinggangnya melekat pas di tubuh rampingnya. Rambut panjangnya di biarkan tergerai dengan jepitan tiara di sisi kanannya tak ketinggalan polesan make up tipis serta anting di kedua telinganya yang semakin menyempurnakan penampilannya.
Dio dan L sampai tidak berkedip, sementara Luhan memandang Jessica tetap dengan tatapan datarnya "Aku tau aku ini cantik, jadi tidak perlu menatapku seperti itu." godanya pada mereka berdua.
Jessica terkekeh dan pergi begitu saja setelah berpamitan pada para penghuni rumah. Satu hal yang tidak Jessica sadari, jika ada sepasang mata yang menatap kepergiannya dengan tatapan tak terbaca.
.......
.......
Jessica melambaikan tangannya pada pemuda jangkung yang sedang duduk di cap depan mobilnya. Segera pemuda itu turun setelah melihat kedatangan Jessica
"Maaf, sudah membuatmu menunggu terlalu lama," sesalnya.
Bian menggeleng. "Tidak apa-apa, lagi pula aku sudah terbiasa. Karena jika tidak datang terlambat bukan Jessica namanya." Jessica terkekeh mendengar ucapan Bian.
"Dan berhentilah menatapku dengan tatapan menggelikan seperti itu." kesal Jessica yang segera masuk kedalam mobil Bian.
Setelah berkendara kurang lebih 15 menit. Akhirnya mereka tiba di cafe yang biasa mereka kunjungi. Cafe favorite Jessica, keduanya pun berjalan beriringan memasuki cafe itu dan rupanya di dalam sana sudah ada beberapa orang yang menunggu kedatangan mereka berdua.
"Sica," Jessica tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum saat melihat sosok Sunny di sana.
Sunny sendiri adalah sahabat Jessica selain Marissa. Namun sayangnya kedua gadis itu tidak bisa gabung bersama mereka karna saat ini keduanya berada di luar negeri.
Jessica berlari kecil menghampiri Sunny dan keduanya pun berpelukan untuk saling melepas rindu. Di cafe itu tidak hanya ada Sunny dan Bian saja namun juga tiga pemuda tampan yang juga berteman baik dengan Jessica.
Karena terlalu asik berbincang sampai-sampai mereka tidak sadar jika waktu berjalan dengan cepat. 4 jam lebih mereka habiskan untuk berbincang dan bersenda gurau di cafe itu.
Satu persatu mulai meninggalkan cafe dan hanya menyisakan Jessica, Suho serta Bian."Jess, kau tidak keberatan bukan jika pulang bersama, Suho? Aku masih ada urusan soalnya," kata Chanyeol yang segera di balas anggukan oleh Jessica.
Niat Bian sih mendekatkan mereka berdua, karna Bian melihat bila Suho memiliki ketertarikan pada sahabatnya itu.
Selepas kepergian Bian. Suho dan Jessica pun berjalan beriringan meninggalkan cafe, Suho meminta Jessica untuk menunggu sementara ia mengambil mobilnya yang ada di parkiran. Sembari menunggu Jessica membuka ponselnya dan mendapati sedikitnya 3 panggilan tak terjawab dan semua dari Luhan, mengangkat bahunya acuh.
Jessica memasukkan kembali ponsel itu kedalam tas mahalnya setelah mobil Suho sudah ada didepannya.
"Kau ingin kemana? Bagaimana jika kita jalan-jalan sebentar?" tawar Suho yang segera di setujui oleh Jessica.
Suho tersenyum, dan dalam hitungan detik. Mobil sport mewah itu melaju kencang meninggalkan kafe yang berada di kawasan Gangnam.
.......
.......
Di malam yang cukup gelap dan sepi. Terlihat seorang pemuda berada di arena balap liar dengan di temani dua pemuda lainnya. Malam ini mereka hendak mengikuti balap liar yang selalu diadakan setiap akhir pekan.
Sang juara bertahan akan berhadapan dengan seorang pemuda yang juga tidak bisa di ragukan kemampuannya. Pemuda itu telah bersiap di atas motor besarnya begitu pula dengan orang yang akan menjadi rivalnya. Kedua kubu sama-sama saling memberikan dukungan penuh untuk kedua setan jalanan itu.
Di tengah hiruk pikuk, terlihat seorang gadis bersurai coklat terang yang datang bersama seorang pemuda. Gadis itu memicingkan matanya, ia mengenali salah satu dari kedua pemuda itu
'Luhan,' lirihnya membatin.
Mengedarkan pandangannya dan mata Hazel-nya menangkap siluet dua pemuda yang sangat tidak asing untuknya "Kita ke sana. Teman-temanku ada di sana." Gadis itu meraih tangan pemuda yang berdiri di sampingnya dan keduanya beriringan menghampiri dua pemuda yang pastinya adalah L dan Dio. "L, Dio." tegur Jessica pada keduanya.
"Nunna kau di sini?" seru Dio yang kemudian berdiri di samping Jessica "Malam ini Luhan hyung akan bertanding lagi, dan kau tau siapa lawannya? Dia adalah musuh lama Luhan hyung sekaligus rival abadinya, Min Jaebi.
Deggg...!!!
Jessica tersentak kaget mendengar satu nama yang baru saja di sebutkan oleh Sehun dengan sangat ringannya. Mata Hazel-nya menatap pemuda yang duduk di atas motor sportnya di samping kiri Luhan.
"J.B.."
.......
.......
...Bersambung...