
Malam sudah semakin larut, terlihat Jessica duduk merenung di taman belakang menghadap bunga-bunga yang tumbuh dengan subur di taman itu. Kuncup-kuncup bunga memenuhi hampir di setiap pohon dan siap mekar saat pagi tiba dan ada beberapa bunga yang sudah mulai menunjukkan keindahannya.
Tidak ada ekspresi apa pun yang Jessica tunjukkan, wajahnya terlihat datar dan sorot matanya menyiratkan kesedihan, rasa sakit dan keputusasaan.
Jessica tidak pernah lagi melihat cahaya dalam hidupnya, karna satu-satunya cahaya yang ia miliki sudah tidak ada lagi di dunia ini. Cahaya itu sudah lama terenggut dari hidupnya membuat hidupnya hanya di selimuti kegelapan. Selama ini Jessica hidup namun seperti tidak memiliki nyawa, Jessica merasa kosong dan hampa.
Sementara itu. Luhan yang baru saja kembali menghentikan langkahnya saat melihat lampu taman menyala dan pintu yang menghubungkan ruang tengah dan dapur terbuka. Luhan melangkah tanpa suara yang berniat untuk menutup pintu tersebut sampai ia melihat siluet seorang gadis bersurai coklat gelap duduk di kursi taman dalam posisi memunggungi.
Tanpa Luhan melihat pun, ia sudah tau siapa gadis itu, mengingat jika dia adalah satu-satunya gadis yang tinggal satu atap dengan timnya.
Luhan memicingkan matanya, ia tidak tau apa yang sedang gadis itu lakukan di taman di tengah malam seperti ini. Luhan tidak ingin terlalu ambil pusing, pemuda itu berbalik dan melenggang pergi. Namun rasa penasaran meruntuhkan egonya, Luhan mengurungkan niatnya untuk pergi ke kamarnya dan menghampiri Jessica.
Derit kursi mengalihkan perhatian Jessica, gadis itu memutar lehernya dan mendapati Luhan duduk di samping kanannya lalu pandangan Jessica kembali terpusat pada langit malam yang gelap
"Lihatlah bintang itu," tunjuk Jessica pada salah satu bintang yang berpijar sambil tersenyum miris. "Apa kau percaya jika orang yang sudah tiada akan menjadi salah satu dari bintang-bintang itu??" ujarnya masih dengan senyum yang sama.
"...." hampa, Luhan tidak memberikan jawaban apa-apa. Pemuda itu hanya menatap datar ke depan.
"Sejak kepergian ibuku hari itu, melihat bintang menjadi hobiku. Setiap aku merindukan dia, aku selalu memandang Bintang. Mama, pernah mengatakan padaku, jika orang yang sudah tiada akan menjadi salah satu bintang di langit, apa kau juga mempercayai cerita itu?" Jessica menoleh menatap wajah dingin Luhan yang juga menatap padanya.
"...." namun tidak ada jawaban.
Jessica tidak merasa tersinggung dengan sikap dingin dan kebungkaman Luhan, ia sudah terbiasa di acuhkan oleh pemuda itu. Sejak 1 tahun yang lalu, sikap Luhan padanya tidak pernah berubah sedikit pun, tetap saja sedingin kutub utara. Jessica bangkit dari duduknya, tanpa mengatakan satu patah kata pun, Jessica beranjak dan pergi begitu saja, namun cengkraman pada pergelangan tangannya menghentikan langkah gadis itu.
Jessica menoleh, matanya terkunci langsung pada manik abu-abu milik Luhan. Terlihat pemuda itu bangkit dari duduknya, tangan yang lain merogoh saku rompi kulitnya dan mengeluarkan sesuatu yang berkilau yang kemudian ia berikan pada Jessica.
"Apa kalung ini milikmu?"
Jessica mengambil liontin itu dan memandangnya dengan mata yang berkaca-baca. "Ba..ba..ga..i mana kalung ini bisa ada padamu? Aku pikir aku sudah kehilangan kalung ini." cicitnya dengan bercucuran air mata
"Aku tidak sengaja menemukannya. Sepertinya kalung itu sangat penting untukmu?" Jessica mengangguk cepat, senyum miris tersungging di sudut bibirnya
"Hanya kalung ini satu-satunya peninggalan mama yang aku miliki. Mama, memberikan kalung ini sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya," ujar Jessica lalu memakai kembali kalung itu.
"Jika itu penting, sebaiknya jaga baik-baik dan jangan biarkan hilang lagi." Ucap Luhan memberi nasehat.
Jessica menganggukkan kepala."Terimakasih, karna sudah menemukan dan mengembalikan kalung ini padaku." senyum tulus Jessica membuat Luhan terdiam, sepanjang ia mengenal gadis itu.
Ini adalah pertama kalinya Luhan melihat Jessica tersenyum padanya. "Ini sudah larut, sebaiknya segera kembali ke kamarmu." kata Luhan sebelum melenggang pergi. Namun tiba-tiba....
Luhan menoleh saat mendengar sesuatu dari arah belakang, mata Luhan terbelalak mendapati Jessica tergeletak tak sadarkan diri. Segera Luhan menghampiri gadis itu, meraih kepala Jessica ke pelukannya.
Luhan meletakkan telapak tangannya di kening Jessica, mata abu-abunya membelalak. Tanpa mengulur banyak waktu lagi Luhan segera mengangkat tubuh gadis itu dan membawanya masuk kedalam rumah.
"Eo. Hyung, apa yang terjadi pada, Sica nunna?" panik Dio saat keluar dari kamarnya dan mendapati Luhan menggendong Jessica yang tengah tak sadarkan diri.
"Cepat cari Dokter," pinta Luhan tanpa menghentikan langkahnya. Dio mengangguk.
Luhan mendorong pintu kamar Jessica menggunakan kakinya kemudian membaringkan tubuh gadis itu di atas tempat tidurnya. Luhan beranjak dan hendak mengambil air untuk mengompres Jessica, namun genggaman gadis itu menghentikan langkah Jessica
"Jangan pergi, aku mohon. Mama.. hiks, aku mohon." Luhan menoleh, menatap wajah Jessica dengan datar.
Kedua mata gadis itu tertutup rapat, Luhan mengurungkan niatnya untuk pergi kemudian duduk di samping gadis itu berbaring dan membiarkan tangannya tetap di genggam oleh Jessica.
"Lu,"
Luhan menoleh dan mendapati L berjalan menghampirinya dengan wajah cemas, L berdiri di samping Jessica. "Apa yang terjadi padanya?" tanya L sambil memeriksa suhu tubuh Jessica.
"Aku sendiri tidak tau. Tadi aku melihatnya tiba-tiba pingsan, dan ketika aku mengecek suhu tubuhnya ternyata dia demam." ujar Luhan memaparkan.
L mendesah panjang. "Jessica sakit, mungkin karna terlalu banyak beban yang dia pikirkan. Tapi Lu, di mana bocah itu? Tumben dia tidak disini?? Biasanya dia kan yang paling panik saat Sica sedang sakit?" L mencari keberadaan Dio, dia tak tampak batang hidungnya.
"Aku di sini, Hyung." sahut suara dari arah belakang. Keduanya menoleh pada sumber suara, Dio datang bersama seorang Dokter wanita yang seumuran dengan L. "Hyung, ini Dokternya," ucap Dio.
"Silahkan masuk, Dok." kata L mempersilahkan.
Dokter wanita itu mengangguk lalu menghampiri Jessica. Matanya terbelalak melihat wajah pucat yang terbaring tak berdaya di depannya. "Sica?" lirihnya menggumam. Dia tampak sangat terkejut.
Luhan bangkit dari duduknya sambil menatap Dokter wanita itu dengan mata menyipit. "Kau mengenalnya?" tanya Luhan dengan nada dingin.
Dokter wanita itu menoleh, menatap Luhan kemudian mengangguk. "Dia adik kelasku saat masih sekolah dulu, dia menghilang sejak 1 tahun yang lalu," ujarnya menuturkan.
"Nanti saja lanjut ceritanya. Sebaiknya segera periksa keadaannya, setelah itu kita bisa bicara di luar. Ayo kita keluar," kata Luhan sambil melirik kedua rekannya dan berlalu begitu saja, di ikuti L dan Dio
.......
.......
...Bersambung...
.