Kill & Love

Kill & Love
35: Dasar Keras Kepala



Keringat dingin mengucur membasahi sekujur tubuh pria bertubuh tambun , berkepala pelontos itu saat melihat Luhan menghampirinya dengan seringai mautnya. Pria itu menggeleng, memohon agar Luhan tidak melakukan sesuatu padanya apalagi sampai membunuhnya


"Tolong, jangan membunuhku. Kau boleh mengambil apa pun milikku, hartaku dan juga pangkatku tapi tolong jangan nyawaku." isaknya memohon.


Luhan mensejajarkan posisinya dengan pria itu. Jari-jarinya yang tertutup sarung tangan hitam membetulkan letak dasi yang menggantung leher pria itu masih dengan seringai mautnya. Pemuda berwajah malaikat namun berhati Iblis itu terus menatap pria di hadapannya dengan datar


"Pergilah sejauh mungkin dan jangan pernah menampakkan batang hidungmu lagi. Hiduplah dengan damai di sebuah pedesaan dan tinggalkan semua kemewahanmu saat ini. Pergilah sekarang sebelum aku berubah pikiran." ujar Luhan seraya bangkit dari posisinya.


Luhan melewati pria itu dan menghampiri kedua temannya "Kita pulang , Jessica pasti sudah sangat mencemaskan kita." ujar Luhan membuat L dan Dio cengo seketika.


Dio menyimpan senjatanya di tempatnya dan segera menyusul Luhan . Dio membutuhkan banyak penjelasan "Hyung sebenarnya kau itu memiliki hubungan apa dengan, Sica Nunna? Kenapa kalian penuh sekali dengan misteri?" tanya Dio yang saat ini berjalan di samping Luhan.


Luhan menoleh, menatap malas pada rekannya tersebut. "Apa kau sebodoh itu untuk mencerna sesuatu." ucap Luhan seraya mempercepat langkahnya.


Dio menghentikan langkahnya, memiringkan kepalanya dan menatap punggung Luhan yang semakin menjauh dengan bingung. Dia menggulirkan arah pandangannya pada L yang berdiri di sampingnya.


"Hyung, bisakah kau menjabarkan maksud dari ucapan Luhan hyung?" pinta pemuda itu memohon.


L. mengangkat bahunya acuh "Dasar tulalit, begitu saja tidak paham." kata L dan pergi begitu saja meninggalkan Dio sendiri dalam posisinya sampai menyadari jika ia sudah di tinggalkan.


"YAKKK... HYUNG TUNGGU AKU."


.......


.......


"Sica??"


Luhan yang baru saja melewati pagar rumah targetnya terkejut mendapati Jessica menunggunya di tepi jalan. Gadis itu beranjak dari kap mobilnya dan berhambur kedalam pelukan Luhan.


"Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah aku memintamu untuk tetap berada di rumah."


Jessica melepaskan pelukannya dan tersenyum tiga jari "Maaf, tapi aku bosan sendirian di rumah. Jadi aku memutuskan untuk menyusul kalian kesini." jelasnya.


"Sica, kau di sini?"


Jessica memiringkan wajahnya ke sisi kanan dan mendapati kedua rekannya berjalan di belakang Luhan. Gadis itu tersenyum lebar


"Selamat untuk kesuksesan malam ini. Aku lelah, bisakah kita pulang sekarang? Kau yang mengemudikan mobilnya." Jessica melemparkan kunci mobilnya pada Dio.


Gadis itu membuka pintu jok belakang kemudian duduk manis di sana. Gadis itu menggeser duduknya melihat Luhan yang hendak duduk di sampingnya. Sedangkan L duduk di depan bersama Dio.


Luhan , Dio dan L melepaskan seluruh alat penyamarannya mulai dari masker, topi, sarung tangan dan jaket hitam sebatas lutut lalu meletakkannya begitu saja. Mereka sedikit kegerahan karna pakaiannya yang terlalu tebal.


Saat meletakkan jaketnya, Luhan memicingkan matanya melihat alat penyamaran yang biasa Jessica gunakan berada di mobil itu. Luhan juga menemukan belati yang berlumur darah, darah itu masih tampak segar yang menandakan jika belati itu baru saja di gunakan.


"Kau benar-benar melakukannya?" Jessica mengangkat wajahnya dan menatap Luhan yang tengah menatapnya datar.


Jessica menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan mengangguk pelan "Ya," jawabnya singkat.


"Dasar keras kepala." degan geram Luhan menjitak kepala coklat Jessica. Ia tidak tau kenapa kekasihnya itu begitu keras kepala, padahal ia sudah mengatakan tidak namun Jessica tetap saja melakukannya.


.......


.......


...Bersambung...