Kill & Love

Kill & Love
25: Bayi Setan



"Hoek... sebenarnya makanan apa yang kau berikan padaku eo? Kenapa rasanya aneh begini? Jika tidak bisa masak lebih baik tidak usah memasak, apa kau ingin meracuniku dengan makanan sampahmu?"


Yunna menyentak piringnya hingga hancur menjadi beberapa bagian, membuat makanan di dalamnya berserakan di lantai.


"Wow.. wow.. sepertinya kau menuduh orang yang salah. Bukan Sica nunna yang memasak semua makanan ini, tapi Luhan hyung."


"A..p..a? Jadi yang memasak bukan boneka rongsokan itu? Ta..pi... Luhan oppa?" pekik Yunna tidak percaya. Wajahnya memucat.


"Yakkk.... wanita penyihir. Berhenti memanggil Sica Nunna boneka rongsokan, di bandingkan dirimu. Sica Nunna, jauh lebih baik kemana-mana. Jago masak, rajin bersih-bersih, cantik luar dalam, kalem dan tidak kecentilan sepertimu."


"Yakkk...!! Bayi Setan, apa kau sudah bosan hidup eo? Kau cari mati, huh?"


"Kenapa? Bukankah yang aku katakan memang fakta. Jadi terima saja..."


"KAU...!"


"CUKUP." bentak Luhan menengahi perdebatan mereka berdua.


Pemuda itu menggebrak meja di depannya seraya bangkit dari duduknya. "Tidak bisakah kalian tenang saat berada di meja makan? Hargai aku sedikit saja, kalian berdua benar-benar membuatku tidak berselera lagi." ujar Luhan dan berlalu begitu saja. Menghela nafas, Jessica meletakkan sendoknya dan meninggalkan meja makan di ikuti oleh L yang berjalan mengekor di belakangnya. Menyisakan Yunna dan Dio di sana.


"Aarrrkkkhhh... kenapa semua jadi begini? Dan sebenarnya apa sih istimewanya dia? Sampai-sampai semua orang begitu membelanya. Tapi aku tidak mungkin kalah darinya, karna bagaimana pun juga, hanya akulah yang lebih layak untuk, Luhan oppa."


.......


.......


Di sore yang cerah. Di saat matahari masih menyengat kuat menyinari bumi. Cahayanya yang keemasan terang , terlihat sebuah mobil mewah Lafferari hitam mengkilap yang di tumpangi tiga pemuda yang tak lain dan tak bukan adalah Luhan, L dan Dio meninggalkan halaman rumah minimalis berlantai dua .


Mobil itu meninggalkan khawasan sepi menuju menuju pusat kota yang ramai dan padat oleh kendaraan. Namun sayangnya laju mobil itu harus terhalang oleh rambu-rambu lalu lintas yang tiba-tiba berwarna merah, menandakan harus berhenti.


Mobil sedan hitam itu berhenti tepat di samping mobil hitam juga yang terlihat mewah. Mobil itu di tumpangi oleh dua wanita berbeda usia, melihat ada wanita muda di dalam mobil itu membuat Dio tidak tahan untuk tidak menggodanya.


"Suit.. Suit.." Dio bersiul, mencoba menarik perhatian wanita muda itu.


Namun siulan pemuda berkulit porselen itu tidak di hiraukan sama sekali, bahkan menoleh pun tidak "Cantik... kencan yuk." ajak Dio menggoda. Namun lagi-lagi Dio di acuhkan oleh wanita muda itu.


"Hahahha.. memangnya enak di acuhkan." cibir L yang langsung mendapatkan delikan tajam dari Dio


"Yakkk... Hyung, kenapa kau malah mencibirku? Di bandingkan dirimu, aku lebih berpengalaman soal percintaan. Buktinya aku memiliki mantan lebih banyak darimu. Ani, bukankah kau tidak pernah berkenan? Ahh.. aku lupa kau itu kan BU-DI, hahaha."


"Yakkk... Bocah bajjang. Sudah bosan hidup kau eo?"


Sementara Luhan yang duduk di balik kemudi hanya bisa menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua rekannya. Dio terutama.


Lampu telah berganti hijau, mobil yang di kendarai Luhan melaju cepat membela keramaian, meninggalkan sedan hitam yang di tumpangi dua wanita yang salah satunya di goda habis-habisan oleh Dio. Mobil itu melaju menuju perumahan elit yang berlokasi di Pyengchang-dong, di sanalah target mereka tinggal.


Sesuai permintaan kliennya. Malam ini juga Luhan , L dan Dio akan menyelesaikan pekerjaannya, yakni melenyapkan nyawa wanita yang menjadi targetnya. Tak lupa mereka memakai penyamaran untuk menyembunyikan identitasnya.


Dan setelah berkendara kurang lebih 45 menit, mobil yang mereka tumpangi tiba di lokasi. Mereka tidak langsung turun dan mengeksekusi targetnya, mereka harus memastikan keadaan benar-benar aman atau tidak.


Selang beberapa saat, terlihat seorang wanita yang usianya kisaran 25-30 meninggalkan salah satu rumah elit di kawasan itu menggunakan sedan silver mewah.


Mobil itu berjalan melewati mobil yang di tumpangi Luhan dan kedua temannya yang terparkir tak jauh dari gerbang rumahnya, menyadari jika yang baru saja melintas adalah targetnya. Hal itu tidak di sia-siakan oleh oleh Luhan dan timnya, Luhan segera melajukan mobilnya menyusul mobil targetnya.


.......


.......


Tap.. !! Wanita bernama Via Kim itu menghentikan langkahnya saat menyadari seseorang mengikutinya. Via menoleh, namun ia tidak mendapati siapa pun.


Parkiran di bawah tanah itu terlihat sepi, merasakan perasaan kurang enak, Via semakin mempercepat langkahnya dan berjalan menuju mobilnya yang terparkir 5 meter di depan sana. Sekali lagi Via menoleh kebelakang, matanya membelalak melihat dua pria berjalan tepat di belakangnya.


Setelah sampai di depan mobil miliknya, Via mencoba menemukan kunci mobil yang ia simpan di dalam tasnya. Kunci itu kini berada di genggaman Via, namun sulit baginya untuk membuka pintu itu. Tangannya gemetar, sesekali Via menoleh kebelakang, ia semakin panik melihat dua pria itu sudah semakin mendekat.


Dengan terburu-buru, Via membuka pintu itu dan bergegas masuk kedalam mobilnya namun tiba-tiba.....??


"Selamat malam, Nona Kim?" sapa Luhan yang duduk di samping kemudi.


"Omo??" Via memekik keras, kedua matanya membulat sempurna. "Si..sia..pa kau? Dan bagaimana kau bisa masuk kedalam mobilku?" sambungnya terbata.


Luhan menyeringai "Tidak penting siapa aku dan bagaimana aku bisa masuk kedalam mobilmu, dan aku di sini untuk mengajakmu bersenang-senang." ujar Luhan dengan santainya.


Tidak ingin hal buruk menimpa dirinya, buru-buru Via keluar dari mobil itu. Namun belum sepenuhnya pintu di sampingnya terbuka , pintu itu lebih dulu di tutup oleh dua orang yang sedari tadi mengikutinya. Isakan pilu terdengar dari bibir wanita itu, memohon agar mereka tidak menyakiti dirinya apalagi sampai membunuhnya.


"Hisk... siapa pun kalian, aku mohon jangan menyakitiku. Aku akan membayar kalian , berapa pun asalkan kau mau melepaskan diriku." wanita itu memohon pada pemuda yang duduk di sampingnya.


"Maaf nona, tapi aku tidak tertarik pada uangmu. Karna aku di sini sebagai malaikat kematianmu." ujar Luhan.


"A..pa? Kau ingin membunuhku? Ta..ta..pi apa salahku? Mengenal kalian saja tidak. Aku mohon, kasihani aku." mohon Via sekali lagi.


"Maaf nona, tapi kami di sini di bayar mahal oleh seseorang untuk mengambil nyawamu."


"BEDEBAH, SIAPA SEBENARNYA KALIAN INI EO?!"


Via mengeluarkan pistol yang ia simpan di dalam tasnya lalu ia arahkan ujungnya pada kepala pemuda di depannya. Bukannya merasa terancam, Luhan malah menyeringai meremehkan.


"Dark Prince," begitulah biasanya orang-orang memanggilku." Luhan mengambil paksa pistol di genggaman Via yang gemetar.


Via menggeleng saat ujung pistol itu menempel pada jantungnya, menarik pelatuknya dengan perlahan dan...


Satu tembakan Luhan lepaskan pada tubuh wanita itu. Mata Via membulat saat satu timah panas menembus keningnya di susul tembakan berikutnya yang berpusat di dadanya membuat dress putih yang membalut tubuhnya seketika merah menjadi merah pekat karna darahnya sendiri. Luhan menyeringai puas melihat korbannya telah meninggal.


"Dasar jallang murahan." desisnya tajam.


Luhan menyunggingkan smrik angkuhnya sebelum meninggalkan mobil korbannya. Wanita malang itu meregang nyawa karna kehabisan darah akibat peluru yang bersarang pada jantung dan otaknya. Yang sangat di sayangkan, bahkan hingga di detik terakhirnya. Via tidak pernah tau seperti apa wajah di balik masker dan topi itu.


"Tsk.. wanita sialan itu mengotori pakaianku." desis Luhan melihat noda darah melekat mengotori jaket kulitnya.


Setelah Luhan, pekerjaan kini di ambil alih oleh L dan Dio. Langkah terakhir yang mereka lakukan adalah membuat ukiran di lengan kirinya. Dio mengangkat tubuh wanita itu ke jok samping kemudi dan membawa mobil itu meninggalkan parkiran. Luhan dan L menyusul di belakang.


Dio melajukan mobil itu menuju tebing untuk menghilangkan jejaknya, setibanya di sana, Sehun bergegas turun dari mobil milik wanita itu. Ketiganya mendorong mobil Via hingga terjun kedalam jurang dan akhirnya meledak di bawah sampai terbakar tak tersisa.


Dengan begitu, tidak akan ada barang bukti atas pembunuhan yang menimpa wanita malang itu. Dan untuk yang kesekian kalinya, mereka berhasil melenyapkan barang bukti kejahatannya.


.......


.......


...Bersambung...