Kill & Love

Kill & Love
38: Setan!!



"Kyyyyaaaa..... setannnnn...!!"


Dio menjerit histeris dan melesat keluar saat mendapati seseorang berdiri di depan cermin, wajahnya putih dan terlihat mengerikan. Malam yang awalnya tenang berubah menjadi gaduh karna ulah pemuda itu. Dio berlari menuruni tangga dengan langkah tergesa-gesa saking paniknya akibatnya ia jatuh di tangga dengan posisi yang tidak elit.


Tubuh Dio menggelinding seperti sebuah bola yang di lempar dari ujung tangga. "Sakit, sakit, sakit!!"


Sementara itu. Orang yang tadi berdiri di depan cermin ikut melesat keluar karna teriakan Dio. "Omo, tunggu dimana setannya." teriak orang itu di tengah langkahnya.


"Huaa.... huaaa... huaa... siapa pun, help me." Dio semakin histeris melihat sosok bermuka putih itu berjalan menuruni tangga.


Dio semakin kalang kabut di buatnya. Beranjak dari posisinya , dia melesat menuju ruang tengah di mana Luhan dan Jessica berada. Pemuda itu berlari sambil memegangi pinggangnya yang serasa ingin patah. "Nunna! Hyung! Huaaa..!! Help me." jerit Dio yang kemudian bersembunyi di antara Luhan dan Jessica.


"Yakk..! Apa-apaan kau ini eo?" amuk Jessica sambil memukul Dio menggunakan bantal sofa.


"A..a..d..a setan, hyung, nun.. i..tu. di situ setannya." tunjuk Dio dalam posisi wajah menghadap sofa.


"Ha?" membuat Jessica cengo seketika."Setan?" Dio mengangguk cepat.


"Yakk!! Di mana setannya?" tanya L yang entah dari mana datangnya tiba-tiba sudah ada di antara mereka bertiga.


"Setannya ada di si...!!! Huaa.. hua.... setan." jerit Dio melihat sosok berwajah putih yang tak lain dan tak bukan adalah L yang sedang memakai masker.


"Dasar bocah, jadi yang kau kira setan sejak tadi itu adalah aku?" tunjuk L pada dirinya sendiri.


"Apa?"


Dio mengangkat wajahnya dan menatap sosok di depannya dengan seksama. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki dan ia segera sadar jika sosok itu bukanlah hantu melainkan L yang sedang memakai masker wajah.


"Yakkk...!! Hyung, kenapa kau harus memakai masker itu di wajahmu? Kau tau? Karna ulahmu aku mengalami sakit pinggang. Dan pinggangku, aw! Rasanya ingin patah," Dio berjalan kearah sofa sambil memegangi pinggangnya, raut wajahnya menunjukkan jika ia sangat kesakitan. "Dan lagi pula kenapa kau harus memakai masker segalah sih." keluhnya menambahkan.


"Kau buta? Kau tidak melihat apa? Jika ada jerawat di wajahku? Itu sangat mengerikan, dan jerawat ini merusak citraku."


"Haahh! Jadi hanya karna jerawat saja kau rela menjadi setan badut mengerikan seperti itu?" pekik Dio tak percaya.


"Itu karena kau belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta yang sesungguhnya. Suatu saat saat kau merasakannya, pasti kau akan mengerti." ujar Dio.


"Tck."


Luhan dan Jessica hanya bisa menghela nafas melihat bagaimana konyolnya mereka berdua. Dio yang selama ini di kenal sangat dewasa dan memiliki sifat bijak yang selalu mengayomi , siapa sangka di balik sifatnya itu tersembunyi sisi yang berbeda. Memang tidak banyak yang tau seperti apa pria itu sebenarnya selain Luhan, Jessica dan Dio.


Merasa terganggu dengan perbincangan mereka yang tidak penting sama sekali. Akhirnya pasangan itu memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua dan pergi ke kamarnya. Luhan menutup kembali pintunya dan menguncinya kemudian menghampiri Jessica yang sedang duduk bersila di atas tempat tidur.


Luhan naik keatas tempat tidur lalu berbaring di samping Jessica duduk. "Kau lelah?" Jessica menatap wajah Luhan yang juga tengah menatapnya.


"Hm," Luhan mengangguk. Pemuda itu menarik lengan Jessica untuk berbaring di sampingnya. Posisi mereka saling berhadapan.


"Aku sudah memutuskan, aku mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku dan melawan mereka berdua."


"Kau yakin?" tanya Luhan memastikan, Jessica mengangguk.


"Ya, aku tidak bisa diam saja melihat mereka menikmati semua harta papa sementara aku masih hidup. Sudah terlalu lama mereka berkuasa dan menguasai semuanya dan aku rasa ini sudah saatnya untuk merebut dan mendapatkan kembali hakku."


"Tapi aku tidak bisa membiarkanmu bertindak sendiri. Itu terlalu berbahaya, Jess. Mereka tidak mungkin tinggal diam jika tau kau tiba-tiba saja kembali, apalagi mereka berkali-kali mengirim orang untuk membunuhmu." ujar Luhan cemas.


"Aku tau." Jessica menangkup wajah Luhan dan mengunci manik abu-abunya. "Bukankah ada kau yang selalu siap melindungiku! Memang sangat berbahaya jika aku melakukannya sendiri, tapi tidak jika aku bersamamu." Luhan tersenyum dan merengkuh Jessica kedalam pelukannya.


"Terimakasih karna sudah mempercayaiku, Sayang." gumam Luhan.


Jessica mengangkat wajahnya tanpa melepas pelukan Luhan. "Lu, bagaimana kalau kita jalan-jalan keluar. Sepertinya cuaca malam ini cukup bersahabat."


"Tidak buruk, ganti pakaianmu dan jangan lupa memakai mantel hangat. Aku akan menunggumu di luar."


"Oke."


.......


.......


...Bersambung...