Kill & Love

Kill & Love
18: Semakin Matang Saja



Malam sudah semakin larut, namun hal itu tidak menyurutkan semangat Jessica untuk melatih keterampilannya dalam menggunakan senjata api.


Gadis itu menggenggam kuat sebuah pistol dengan kedua tangannya. Mengarahkan pada titik merah yang akan menjadi target penembakannya. Pandangannya ia fokuskan hanya pada sebuah titik merah yang tergambar di papan.


Papan itu berada sekitar 20 meter dari Jessica berdiri. Gadis itu sengaja memperjauh jaraknya hanya untuk menguji kemampuannya dalam hal menembak dan mematangkan kemampuannya yang sudah tidak bisa lagi diremehkan.


Setelah memastikan bidikannya tepat. Jessica menarik pelatuknya dan melepaskan timah panas dari ujung senjatanya 'Duaaarrr....' peluru itu melesat dengan kecepatan tinggi.


Dan tidak sampai 5 detik, timah panas yang Jessica lepaskan mengenai targetnya. Untung Jessica menggunakan peredam suara, hingga suara tembakannya tidak sampai mengganggu orang lain.


Bidikan Jessica tepat sasaran dan hal itu membuat senyumnya terkembang lebar. Dan akan mencoba-nya sekali lagi, jika saja seseorang tidak datang menghampirinya.


Jessica memicingkan matanya, ia dalam posisi siaga. Jessica menginjak gagang pada pedang kayu yang tergeletak di tanah, pedang kayu itu terangkat yang dengan sigap Jessica menyambar pedang tersebut dan menghalau serangan tiba-tiba yang mengarah padanya.


Luhan berdiri di depannya dengan sebuah pedang sungguhan yang masih terbungkus sarungnya.


Menjadi seorang pembunuh bayaran, mereka tidak hanya mahir menggunakan pistol saja, tapi mereka juga harus bisa menguasai tehnik pedang dan bagaimana caranya menggenggam busur panah dengan benar.


"Kau semakin matang saja , kemampuanmu berkembang sangat pesat."


Jessica menerima air mineral yang Luhan sodorkan padanya kemudian duduk di sampingnya. Mereka berdua duduk bersebelahan di atas rerumputan sambil memandang langit bertabur bintang.


"Kenapa kau begitu membenciku" setelah memendamnya cukup lama. Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari bibir Jessica.


Luhan menoleh, membuat mata abu-abunya bertemu pandang dengan mata hazel milik Jessica "Bagaimana jika aku mengatakan bila aku tidak pernah membencimu??" Jessica memicingkan matanya, menatap Luhan penuh tanda tanya


"Kau tidak pernah membenciku? Bagaimana mungkin?" ucap Jessica tidak percaya.


Luhan bangkit dari posisi duduknya lalu berjalan menuju pohon sakura yang tumbuh dengan subur di taman belakang rumah mereka. Meletakkan satu tangannya pada pohon dengan wajah mendongak menatap langit malam. Sejenak Luhan menutup matanya dan menghela nafas.


"Aku akui, awalnya aku memang sangat tidak menyukai keberadaanmu di rumah ini karna aku pikir kau akan sangat merepotkan meskipun pada kenyataannya memang begitu adanya. Aku selalu bersikap kasar dan galak padamu agar kau merasa tidak betah kemudian pergi dari rumah ini, karna aku berfikir semua wanita itu sama saja. Tidak ada yang tulus dan hidupnya penuh dengan kepalsuan."


"Hidup dan tinggal 1 atap denganmu selama 1 tahun. Membuatku sedikit banyak mulai mengenal dirimu, kau itu gadis yang seperti apa dan dari situ aku tau jika tidak semua wanita itu sama dengannya. Kau berbeda, kau memiliki hati yang tulus, dan yang membuatku semakin kagum padamu. Kau tidak pernah marah atau pun tersinggung meskipun aku sudah memperlakukanmu dengan sangat buruk."


"Meskipun aku tau kau selalu merasa kesal karna sikapku yang sangat keterlaluan. Jess, ini pertama kalinya dalam hidupku aku mengatakan kalimat ini. Bisakah kau memaafkan ku dan kita menjadi teman??"


Jessica terdiam mendengar ucapan Luhan, sangat mengejutkan dan Jessica tidak pernah berfikir bila Luhan akan mengatakan kalimat itu. Selama ini Luhan selalu menjunjung harga dirinya setinggi langit, dan mengucapkan kata maaf tidak ada di dalam kamus hidupnya.


Namun malam ini, dengan entengnya kalimat itu terlontar dari bibir Luhan. Sangat mengejutkan, Jessica menarik sudut bibirnya. Gadis itu bangkit dari posisinya dan menghampiri Luhan.


Luhan memicingkan matanya melihat Jessica mengacungkan jari kelingkingnya, gadis itu mendengus kesal. Dengan kasar Jessica menarik tangan Luhan lalu mengaitkan kelingking mereka.


Melihat senyum tulus Jessica membuat Luhan ikut tersenyum juga, Jessica terdiam dan terpaku. Hidup 1 tahun dengan Luhan, ini pertama kalinya ia melihat pemuda itu tersenyum meskipun senyumannya itu hanya setipis kertas 'Sungguh pemandangan yang tidak biasa,' kata Jessica membatin.


Senyum di bibir Luhan pudar begitu saja saat ia mengingat apa yang di sampaikan oleh dokter perempuan itu. Dokter yang menangani saat Jessica mengalami demam tinggi.


"Jess, ada yang ingin ku sampaikan padamu. Mungkin ini akan sangat menyakitkan, tapi aku harap kau bisa menerimanya." kata Luhan dengan suara beratnya, menandakan jika ia serius dengan ucapannya. Jessica mendongak dan menatap Luhan penuh tanya danya.


"Tentang apa??"


"Ayahmu," Luhan menjawab cepat.


"Pasti mengenai kematiannya kan? Aku sudah mengetahuinya. Bian yang memberi tahuku." Jessica menyeka air mata yang jatuh di pipinya.


"Kau sudah tau?" kaget Luhan.


Jessica mengangguk. "Alasan kenapa aku selalu keluar akhir-akhir ini karena hal itu. Aku ingin menenangkan diri dan mencari pengalihan, aku menemui Bian dan teman-temanku yang lain agar aku bisa melupakan tentang kesedihan itu. Aku terlalu memikirkannya sampai aku jatuh sakit." Jessica menundukkan wajahnya.


Air matanya sudah tidak dapat di bendung lagi. "Kini aku hidup sebatang kara. Aku sudah tidak memiliki siapa pun lagi selain Bian. Dia adalah sahabatku sejak kecil, dia adalah satu-satunya keluarga yang aku miliki."


Luhan maju dua langkah menghampiri Jessica, pemuda itu menarik tengkuk Jessica dan membawa gadis itu kedalam pelukannya


"Kau tidak sendiri, kau masih memiliki aku, Kris gege dan Sehun. Kami adalah keluargamu, seperti kau menganggap L, kau juga boleh menganggapku sebagai kakakmu." kata Luhan sambil mengusap punggung Jessica dengan gerakan naik turun-turun.


Seperti ada ketidak relaan dalam hati Jessica ketika Luhan memintanya untuk menganggap dirinya sebagai kakak. Sedangkan Luhan sendiri merasa tidak nyaman dengan permintaannya itu.


Mungkinkah Luhan dan Jessica sama-sama menginginkan lebih dari seorang kakak? Entahlah, hanya waktu yang bisa menjawabnya.


Setelah di rasa Jessica mulai tenang. Luhan melepaskan pelukannya, jari-jarinya menghapus sisa air mata di wajah gadis itu.


"Ini sudah larut malam, sebaiknya kita masuk. Kau juga terlihat lelah," kata Luhan yang segera di balas anggukan oleh Jessica.


Keduanya berjalan beriringan meninggalkan taman, tempat mereka berlatih tadi. Ada rasa hangat yang menjalar, memenuhi perasaan Jessica, rasanya masih sulit di percaya jika hubungannya dan Luhan semakin hari semakin membaik. Padahal hubungan mereka selama ini sangat buruk.


.......


.......


...Bersambung....