Kill & Love

Kill & Love
19: Tidak Nyaman



Malam sudah semakin larut, namun Jessica masih enggan untuk menutup matanya padahal ia sudah mencoba menutup matanya namun tetap tidak bisa. Pikirannya tertuju pada Luhan yang saat ini sedang tidur di sofa ruang tengah.


Ia sungguh merasa tidak enak pada Luhan, pemuda itu merelakan kamarnya untuk ia tempati dan Luhan mengalah dan memilih tidur di sofa. Jessica sudah mencoba berbicara pada Luhan agar mereka berdua berbagi kamar saja namun Luhan menolaknya, alasannya karna takut Jessica merasa tidak nyaman.


Menyibak selimutnya, Jessica beranjak dan berjalan meninggalkan kamar dengan kaki tellanjang. Dari ujung tangga, Jessica melihat Luhan yang tidur di sofa tanpa memakai penghangat apa pun, bahkan pakaian yang melekat di tubuhnya pun sangat kontras dengan udara malam ini.


Dengan ragu Jessica menghampiri Luhan lalu mengguncang pelan lengan terbukanya. "Lu," panggilnya dengan lirih karena takut membuat Luhan terkejut lalu merasa pusing.


Perlahan kedua mata abu-abu itu terbuka dan hal yang pertama tertangkap oleh netranya adalah sepasang mutiara Hazel milik seorang gadis berparas jelita berdiri di sampingnya dengan tubuh sedikit membungkuk.


"Sica,"


Luhan segera bangkit dari posisi berbaringnya lalu duduk menyender pada sandaran sofa "Ada apa?" tanyanya serak, khas suara orang baru bangun tidur.


"Pindah ke kamar. Kita bisa berbagi kamar, kau bisa menempati tempat tidurmu dan aku akan tidur di sofa."


"Tidak usah, aku di sini saja."


"Jangan membuatku merasa tidak enak Tuan Han." ucap Jessica cepat. "Kau tau, aku tidak bisa tidur karna merasa tidak enak padamu. Ayolah, jangan membuatku semakin tidak enak." rengek Jessica memohon.


Luhan berfikir sejenak, lalu mengangkat wajahnya "Kau yakin?" tanyanya memastikan. Jessica mengangguk cepat "Baiklah, asal kau yang tidur di tempat tidur dan aku akan tidur di sofa." Jessica terdiam sejenak, lalu mengangguk.


"Baiklah,"


.......


.......


Melihat Luhan sedang duduk sendiri di ruang tamu hal itu segera di manfaatkan oleh Yunna untuk mendekati pemuda itu. Dia menghampiri Luhan sambil menenteng kotak p3k. Ia berniat mengganti perban yang melingkari dahi Luhan. Yunna tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ia miliki untuk bisa me dapatkan hati Luhan.


"Oppa??"


Luhan yang semula di sibukkan dengan ponselnya perlahan mengangkat wajahnya dan mendapati Yunna berdiri di depannya


"Kenapa rumah sepi sekali? Di mana yang lain? Dan Jessica? Apa dia sedang keluar? Oppa, aku ingin meminta maaf padanya karena sudah bertindak keterlaluan semalam." ujarnya.


Luhan meletakkan ponselnya lalu menggeser duduknya melihat Yunna hendak duduk di sampingnya. "Untuk apa kotak obat itu,?" Luhan menunjuk kotak p3k yang Yunna bawah.


Gadis itu tersenyum manis "Mengganti perban di keningmu." Jawabnya.


"Tapi Jessica sudah menggantinya pagi ini."


Yunna mengepalkan kedua tangannya, lagi-lagi Jessica berada satu langkah di depannya. Dan benar dugaan Yunna, bila Jessica adalah rival terberatnya "Oh begitu." Dia mendesah kecewa. Namun Yunna tidak mau menyerah begitu saja. "Oya, Oppa. Hari ini kau tidak sibuk kan?? Bisa tidak menemaniku jalan-jalan." rengek Yunna memohon.


Luhan berfikir sejenak kemudian mengangguk. "Aku ambil kunci motor dulu."


Yunna bersorak kegirangan, gadis itu melesat dengan cepat masuk kedalam kamarnya untuk mengambil tas dan mengganti pakaiannya. Tidak sampai 10 menit Yunna sudah keluar dari kamarnya dan mendapati Luhan tengah duduk di sofa ruang utama.


Pemuda itu masih memakai pakaian yang sama hanya menambahkan rompi kulit sebagai luaran pakaian lengan terbukanya. Yunna tersenyum manis. "Oppa, bisa kita berangkat sekarang?" Luhan mengangguk.


Dengan riang Yunna memeluk lengan terbuka Luhan namun segera di tepis oleh pemuda itu. Tapi bukan Yunna namanya jika menyerah begitu saja.


Yunna kembali memeluk lengan Luhan dan berjalan di sampingnya. Luhan mendengus panjang, Yunna memang sangat keras kepala. 100 kali ia melepaskan pelukan gadis itu pada lengannya, 100 kali juga Yunna memeluknya lagi. Meskipun tidak nyaman, akhirnya Luhan membiarkannya saja.


.......


.......


Jessica menoleh kebelakang. Ia merasa seperti sedang di ikuti. Tak jauh dari tempatnya duduk dengan Suho, Jessica melihat beberapa pria mencurigakan berada tak jauh dari tempatnya dan Suho duduk. Ingin mengetes orang-orang itu, Jessica mengajak Suho untuk berpindah tempat, dan seperti dugaannya. Orang-orang itu kembali mengikutinya.


"Ada apa Jess??" tanya Suho lalu mengikuti arah pandang Jessica.


"Jangan menengok, ada orang yang mengikuti dan mengawasi kita." kata Jessica menjelaskan.


Melalui ekor matanya, Jessica melihat pria-pria bertubuh kekar itu berjalan menghampiri mejanya. Tidak ingin menimbulkan keributan di dalam cafe, Jessica membawa orang-orang itu keluar cafe. Jessica langsung di kelilingi oleh pria-pria asing itu.


"Siapa kalian dan apa tujuan kalian mengikuti ku??" tanya Jessica meminta penjelasan.


Mata gadis itu terbelalak, Jessica bergerak mundur bukan untuk melarikan diri namun mencari tempat yang cukup luas untuk menghadapi orang-orang itu hingga perkelahian tak seimbang itu pun tidak dapat terelakkan.


Jessica hang hanya seorang diri di keroyok oleh laki-laki yang jumlahnya lebih dari 5 orang. Suho yang melihat hal itu menjadi panik sendiri, ia ingin sekali membantu Jessica tapi ia tidal bisa berkelahi.


Dengan gesit Jessica melawan orang-orang itu. Jessica berhasil menumbangkan 2 dari ke 7 pria itu. Meskipun tubuhnya kecil dan hanya seorang diri namun hal itu tidak menyurutkan keberanian Jessica untuk mengalahkan orang-orang itu.


Jessica menendang salah satu orang yang bergerak kearahnya hingga terjengkang kebelakang, memukul orang-orang itu dengan sangat brutal, namun hal itu cukup untuk menguras tenaga gadis itu mengingat yang ia hadapi lebih dari 5 orang.


"Aaahhh.."


Salah satu dari ke 7 orang itu berhasil memukul mundur Jessica, gadis itu terhuyung kebelakang hingga punggungnya bertubrukan dengan dada bidang seseorang. Jessica mengangkat wajahnya, wajah stoic dengan tatapan sedingin es yang pertama tertangkap oleh mata Hazel-nya.


"Lu..Han??"


"Mundurlah, biar aku yang menyelesaikannya." kata Luhan yang kemudian di balas anggukan oleh Jessica.


Luhan menendang perut orang yang- mencoba bergerak kearahnya hingga terjengkang kebelakang. Pemuda itu menangkis setiap serangan yang mengarah padanya. Satu persatu berhasil dengan mudah Luhan tumbangkan dan sekarang hanya tersisa 3 orang lagi.


Di waktu bersamaan, J.B datang dengan anak buahnya yang kemudian gabung bersama Luhan. Seketika orang-orang itu kalang kabut, namun Jessica berhasil mencegah salah seorang dari mereka untuk melarikan diri. Jessica mencengkram pakaian orang itu dan mulai menginterogasinya.


"Katakan, siapa yang sudah menyuruh kalian untuk membuntuti ku?" tanya Jessica tanpa basa basi.


"Ampun Nona, kami hanya di suruh. Seseorang membayar kami dengan harga tinggi untuk membunuhmu. Kami tidak tau siapa wanita itu, karna dia tidak menyebutkan namanya."


Jessica mendorong tubuh laki-laki itu hingga terhempas. Melihat ada kesempatan, laki-laki itu buru-buru melarikan diri. J.B dan Luhan menghampiri Jessica yang diam mematung


"Kau tidak apa-apa?" tanya mereka memastikan.


Jessica mengangkat wajahnya menatap dua pemuda tampan itu bergantian. "Aku tidak apa-apa, hanya bahu kiriku terasa sakit." jawabnya.


Kedua pemuda itu menatap Jessica cemas "Sebaiknya segera pergi ke rumah sakit dan lakukan pemeriksaan," saran J.B namun di balas gelanggangan oleh Jessica


"Tidak perlu, hanya cidera ringan saja kok." katanya meyakinkan.


"Oppa?"


Perhatian ketiga orang itu teralihkan karna seruan kencang dari arah belakang. Ketiganya menoleh pada sumber suara. Terlihat Yunna menghampiri mereka dan langsung memeluk lengan terbuka Luhan. "Oppa, bisakah kita pergi sekarang? Lagi pula dia sudah baik-baik saja." kata Yunna sambil melirik sinis Jessica.


"Sica, kau tidak apa-apa?" Suho menghampiri Jessica dan memastikan keadaannya.


Gadis itu tersenyum manis lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu cemas, aku baik-baik saja." jawabnya meyakinkan


"Sungguh??" tanya Suho memastikan, lagi-lagi Jessica mengangguk.


"Soca siapa pemuda ini? Apa dia kekasihmu?" tanya J.B menunjuk Suho.


"Oya perkenalkan, ini Suho temanku. Kini J.B kakakku dan ini Luhan temanku, dan gadis ini...."


"Perkenalkan aku, Lim Yunna. Adik angkat Luhan Oppa sekaligus calon istrinya." Yunna menyela ucapan Jessica dan langsung menjabat tangan Suho.


Yunna menyeringai melihat perubahan pada raut wajah Jessica. "Oppa kaja kita pergi." ucap Yunna, namun Luhan masih tetap bergeming dan tidak merespon perempuan itu sama sekali. Ada rasa tidak suka melihat kedekatan yang di tunjukkan Jessica dan Suho.


'Ada apa denganku? Kenapa aku merasa tidak suka melihat Jessica tersenyum pada laki-laki itu??'


Luhan mengepalkan kedua tangannya, mata abu-abunya menatap tidak suka kedekatan Jessica dan Suho. Tanpa sepatah kata pun, Luhan meninggalkan tempat itu termasuk Yunna. Luhan menghiraukan gadis itu yang terus memanggilnya.


Dan dalam hitungan detik, motor sportnya meninggalkan area cafe. Sedangkan Jessica memandang kepergian Luhan dengan sejuta pertanyaan yang memenuhi pikirannya. Dan tepukan ringan pada bahunya mengalihkan perhatian Jessica, gadis itu tersenyum tipis


"Kita pergi sekarang." kata Suho yang segera di balas anggukan oleh Jessica.


.......


.......


...Bersambung...