Kill & Love

Kill & Love
29: Apa Kalian Jadian?!



Malam sudah semakin larut. Namun kedua mata Jessica masih enggan terpejam, ia merasa bosan karna terlalu berada di rumah sakit tanpa melakukan apa pun di tambah suasana rumah sakit yang sepi tanpa ada siapu yang menemaninya sampai decitan pintu terbuka mengalihkan perhatiannya.


Luhan muncul sambil menenteng sekeranjang buah-buahan segar, Luhan tetap terlihat tampan meskipun hanya memakai singlet putih yang di balut rompi kulit hitam dan jeans belel hitam.


Jessica memicingkan matanya melihat benda putih menyembul dari poni yang menutupi mata kirinya. Jessica mengangkat tangan kanannya saat pemuda itu berada tepat di depannya.


"Lu, apa yang terjadi pada matamu?" tanya Jessica to the poin. Mata itu tertutup perban.


Luhan menyingkirkan tangan Jessica dari wajahnya kemudian menggeleng "Tidak apa-apa, hanya iritasi ringan saja. Aku menutupnya agar tidak kemasukan debu dan air," ujarnya meyakinkan.


Luhan duduk di samping Jessica berbaring."Lalu bagaimana denganmu? Apa sudah lebih baik?"


Jessica menggeleng "Masih sama saja, bahuku sakit saat di gerakan." ujar Jessica memaparkan.


Rasa bersalah memenuhi perasaan Luhan, melihat keadaan Jessica saat ini membuat Luhan merasa sangat-sangat bersalah."Maaf." ucap Luhan dengan nada rendah. Jessica menatap Luhan yang juga menatapnya


"Maaf? Untuk apa?" tanyanya memastikan.


Luhan meraih tangan Jessica dan menggenggamnya "Karna diriku kau menjadi seperti ini. Seharusnya aku yang melindungi mu, bukan kau yang melindungiku. Sica, berikan kesempatan untukku menjagamu." ujar Luhan tanpa mengakhiri kontak matanya.


Jantung Jessica berdebar kencang di tatap sedalam itu oleh Luhan, buru-buru Jessica mengakhiri kontak matanya dan menatap kearah lain. "Ya, tentu saja. Bukankah kau ingin aku menganggapmu seperti kakakku. Tentu aku aku akan memberimu kesempatan untuk menjagaku." tutur Jessica tanpa menatap lawan bicaranya.


"Ya, kau benar. Dan sebagai kakakmu, sudah sepatutnya aku melindungimu. Sekarang istirahatlah, aku akan menemanimu di sini." ucap Luhan sambil mengusap kepala Jessica.


Luhan tersentak saat Jessica tiba-tiba saja menarik pakaiannya dan membuat ujung hidungnya bersentuhan dengan hidung Jessica hingga sama-sama merasakan hembusan nafas masing-masing. Luhan mengunci manik Hazel milik Jessica dan menyelami keindahan mata itu.


"Sebenarnya sihir apa yang kau gunakan untuk menjeratku? Katakan padaku Luhan, kenapa jantungku selalu berdebar kencang saat menatap matamu, dan kenapa aku merasa berbunga-bunga ketika kau berada di dekatku, aku merasa tidak suka jika ada gadis lain mendekatimu. Coba jelaskan padaku, sebenarnya perasaan apa yang aku rasakan padamu?" tanya Jessica tanpa mengakhiri kontak matanya.


Alih-alih menjawab, Luhan menarik dagu Jessica dan mellumat singkat bibirnya "Apa itu cukup untuk menjawab semua pertanyaanmu?" ucap Luhan sesaat setelah mengakhiri tautan bibirnya.


"Apa setelah ciuman ini status hubungan kita berubah?"


"Ya, kita resmi berkencan." ucap Luhan lalu ******* kembali bibir Jessica, dan ciuman kali ini lebih lama dan lebih dalam dari ciuman sebelumnya.


Jessica tersenyum di tengah ciuman itu. Perlahan menutup matanya menikmati setiap sentuhan bibir dan lidah Luhan pada bibirnya. Jessica merasa seperti aja jutaan kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya, dewi batinnya bersorak bahagia. Hal serupa juga di rasakan oleh Luhan, yang terjadi saat ini seperti sebuah mimpi yang menjadi kenyataan.


.......


.......


Setelah di rawat selama 1 minggu di rumah sakit. Akhirnya dokter mengijinkan Jessica untuk pulang. Saat ini gadis itu tengah bersiap dengan di temani Luhan yang membantunya, tidak hanya Luhan ada L dan Dio juga yang turut membantu Jessica berkemas, sementara JB tiba sedikit terlambat karna ada urusan.


Saat ini ke limanya sudah berada di parkiran rumah sakit. Jessica satu mobil dengan Luhan dan kedua temannya, sementara JB mengendarai motor besarnya.


Jessica menggeleng "Bahu dan punggungku semakin kaku karna terlalu banyak berbaring."


Luhan melepas rompi bertudungnya dan menggunakan kain empuk dan sedikit tipis itu sebagai bantalan punggung Jessica agar tidak sakit saat bersentuhan dengan jok mobil yang keras.


L dan Dio memperhatikan kedekatan mereka melalui kaca spion , ada yang tidak biasa pada mereka berdua. Dan sebuah pertunjukkan yang langkah melihat Luhan memberikan perhatian pada orang lain terlebih itu seorang wanita. Mengherankan memang, dan sepertinya mereka berdua belum menyadari jika Luhan dan Jessica telah resmi menjadi sepasang kekasih.


"Hyung, apa kau memikirkan apa yang aku pikirkan?" bisik Dio pada L sambil sesekali melirik pasangan itu menggunakan ekor matanya.


L menatap mereka sekali lagi. Terlihat Jessica yang menyandarkan kepalanya pada bahu Luhan, dan Luhan yang membelai surai coklat milik gadis itu "Mungkinkah mereka berkencan?" tebak L yang 100% benar.


"Kencan? Aku rasa tidak, kau mengenal Luhan hyung seperti apa kan? Dan mustahil jika mereka berdua sampai berkencan, mungkin saja Luhan hyung bersikap seperti itu karna rasa bersalahnya pada Sica nunna, karna demi melindunginya Sica nunna sampai masuk rumah sakit." tutur Dio panjang.


"Bisa jadi." sahut L menimpali.


Jessica dan Luhan yang mendengar jelas perbincangan mereka bersikap biasa saja seperti tidak mendengar apa pun. Mereka berdua sengaja merahasiakan hubungan mereka supaya L dan Dio terus bertanya-tanya mengenai kedekatan mereka yang tidak biasa itu. Jessica terkekeh tanpa suara melihat bagaimana ekspresi mereka berdua.


"Lu, bisakah kita mampir ke mini market sebentar. Ada sesuatu yang harus ku beli."


"Kau ingin membeli apa? Biar aku carikan untukmu." ucap Luhan.


Jessica menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Gadis itu bingung harus menjawab apa dan tidak mungkin ia membiarkan Luhan yang mencari barang apa yang sebenarnya ia perlukan. "Tidak usah, aku akan membelinya sendiri. Sebenarnya, aku membutuhkan pembalut." ucap Jessica dengan nada rendah dan pipi sedikit memerah.


"Aku mengerti, aku rasa tidak ada masalah. Kau masih belum pulih total, dokter mengatakan agar kau tidak banyak melakukan banyak aktifitas." ujar Luhan menuturkan "Kita mampir ke mini market sebentar."


"Oke hyung."


Dio menghentikan mobilnya di depan sebuah mini market. Luhan bergegas turun untuk membeli barang yang Jessica butuhkan, ia juga membutuhkan rokok serta minuman bersoda. Dan tidak sampai 10 menit Luhan kembali dengan sebuah bingkisan di tangannya yang kemudian ia berikan pada gadis itu.


"Ini." Jessica tersenyum dan mengambil kantong itu kemudian meletakkan di samping ia duduk.


"Maaf, sudah merepotkan." sesalnya. Luhan menggeleng "Tidak masalah." jawabnya.


Dio dan L semakin di buat bingung oleh kedekatan mereka. Dan rasa penasaran semakin menggerogoti perasaan mereka. Mereka berdua saling bertukar pandang kemudian sama-sama menatap pasangan itu secara bergantian "Apa kalian berkencan?" tanya L memastikan. Luhan dan Jessica saling bertukar pandang dan sama-sama mengangkat bahunya acuh.


"Ahhh.. kalian sungguh membingungkan." Keluh Dio yang kemudian menyalakan mesin mobilnya. Dan dalam hitungan detik mobil itu melaju menuju jalanan yang padat dengan kendaraan lain.


.......


.......


...Bersambung...