
Tepat pukul 1 siang mereka tiba di pantai yang cukup sepi. Hanya segelintir orang saja yang menikmati waktunya untuk melihat alaminya pemandangan pantai yang asri. Jessica dan Luhan hanya berdiri di tepi pantai menikmati deburan ombak yang menyentuh telapak kaki mereka.
Sejauh ini kebersamaan mereka di warnai keheningan. Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir keduanya, keduanya sama-sama diam tanpa bersuara. Susah payah Jessica menahan rambutnya agar tidak semakin berantakan karna terjangan angin.
Angin tidak hanya mengibarkan rambut panjang Jessica namun juga dress yang membalut tubuhnya, bagian bawah dress nya sedikit berkibar sedikit mengekspos paha mulus Jessica yang sebagian tertutup celana putih yang menjadi lapisan dalam dress nya.
"Kenapa? Apa kau tidak ingin bermain seperti gadis-gadis itu?" tanya Luhan mengakhiri keheningan. Jessica menoleh lalu mengikuti arah tunjuk Luhan.
"Aku terlalu takut, aku memiliki kenangan buruk dengan pantai. Dan sebenarnya sampai saat ini aku masih sedikit trauma," ucapan Jessica spontan membuat Luhan menoleh padanya.
"Trauma??" Jessica mengangguk.
"3 tahun yang lalu, aku di ajak oleh kakak tiriku dan teman-temannya untuk pergi ke pantai. Mereka memaksaku untuk menaiki perahu kayu, dan setibanya di tengah-tengah. Kakak tiriku mendorongku hingga terjatuh, aku yang dasarnya tidak bisa berenang nyaris saja tenggelam jika saja tidak ada pemuda baik hati yang menyelamatkanku. Sayangnya dia pergi sebelum aku mengucapkan terimakasih padanya, dan aku berharap suatu saat nanti aku bisa bertemu dengannya."
Luhan terdiam untuk beberapa saat, jika yang Jessica ceritakan itu 3 tahun yang lalu. Itu artinya gadis berkaca mata yang dulu pernah ia selamatkan adalah Jessica. Luhan mengamati wajah Jessica dengan teliti, mulai mata, hidung sampai bibir
'Tidak salah lagi,' batinnya. Wajar bila Luhan tidak mengenalinya, karena penampilan Jessica yang kini berbeda.
"Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Jessica, Luhan menggeleng.
Luhan berjalan menuju pantai, pemuda itu membalikkan tubuhnya lalu mengulurkan tangannya pada Jessica "Kemarilah," pinta Luhan, namun tidak di indahkan oleh gadis itu. Jessica hanya menatap gamang uluran tangan Luhan "Jangan takut, aku tidak mungkin membahayakan mu. Jadi kemarilah dan raihlah tanganku." pintanya sekali lagi.
Luhan hanya ingin membantu Jessica menghilangkan traumanya. Dengan ragu dan tidak yakin, Jessica menghampiri Luhan. Gadis itu menutup matanya rapat-rapat saat sekelebat bayangan masa lalu kembali melintas di kepalanya. Jessica menggeleng kuat
"A..a..ku tidak bisa." lirihnya berbisik.
Luhan meninggalkan tempatnya dan menghampiri Jessica. Ia melihat gadis itu berkeringat dingin, raut wajahnya menunjukkan jika ia sangat ketakutan.
"Kau tidak akan pernah tau sebelum mencobanya, jangan takut. Aku bersamamu." Luhan menganggukkan kepalanya, mencoba meyakinkan Jessica.
Dengan ragu, Jessica mengangkat tangannya yang gemetar dan mengulurkan pada Luhan. Luhan meraih tangan Jessica yang terasa dingin karna keringat lalu menggenggamnya.
Luhan menuntun Jessica menuju pantai, rasa takut semakin menggerogoti perasaan Jessica ketika air pantai sudah melewati lututnya, gadis itu mencoba untuk kuat dan melawannya namun sulit. Akhirnya Jessica pun menyerah.
"Cukup Lu, aku... aku sudah tidak kuat lagi. Aku benar-benar tidak bisa." lirihnya parau.
"Baiklah, lain kali kita coba lagi. Aku akan membantumu untuk menghilangkan trauma mu itu. Sudah senja, sebaiknya kita pulang." namun lengan Luhan di tahan oleh Jessica. Pemuda itu menoleh dan menatap lengannya yang di pegang oleh Jessica lalu beralih pada wajah bermata Hazel itu.
"Bisakah kita tidak pulang sekarang? Aku ingin melihat Sunset." Luhan menatap
Jessica sejenak kemudian mengangguk."Baiklah."
.......
.......
Melihat Sunset adalah hal yang dulu sering Jessica lakukan bersama sang Ibu ketika dia masih ada. Jessica tau bila Ibunya memang sangat menyukai senja, sepanjang yang ia ingat. Ibunya selalu memandang senja di mana pun ia berada dan bagaimana pun kondisinya. Dan tempat yang paling ia datangi adalah pantai.
Jessica menundukkan wajahnya, matanya mulai berkaca-kaca, di saat seperti ini tiba-tiba ia teringat dan merindukan Ibunya "Mama, sangat menyukai senja. Dulu semasa hidupnya, dia selalu mengajakku pergi ke pantai untuk melihat Sunset." Jessica tersenyum miris mengingat kenangannya bersama sang Ibu. Air matanya perlahan tumpah tanpa bisa ia cegah.
Luhan menggeser duduknya kemudian membawa gadis itu kedalam pelukannya. Membiarkan Jessica menangis di dalam pelukannya, bahkan ia tidak peduli meskipun nantinya pakaiannya basah karna air mata Jessica.
Luhan dan Jessica berada di posisi yang sama, mereka sama-sama telah kehilangan kedua orang tuanya dan hal itu sangat menyakitkan bagi mereka.
Luhan mengusap punggung Jessica dengan gerakan naik turun, mencoba memberi ketenangan dan kekuatan pada Jessica agar lebih tegar dalam menjalani hidupnya yang penuh dengan liku-liku. Terbesit keinginan di dalam hati Luhan untuk selalu melindungi gadis yang berada dalam pelukannya ini.
Setelah di rasa tenang, Luhan melepaskan pelukannya lalu menghapus air mata di pipi gadis itu. "Tersenyumlah, kau terlihat jelek jika menangis." Jessica memanyunkan bibirnya mendengar ejekan Luhan. Dengan kesal Jessica meninju pelan lengan terbuka Luhan
"Menyebalkan sekali kau ini, Lu. Aku ini cantik tidak jelek." protesnya tidak terima.
"Kalau kau cantik, mana mungkin sampai detik ini kau tidak memiliki kekasih." ejek Luhan sambil menatap Jessica dengan seringai meremehkan.
"Enak saja, kau tidak tau saja jika yang menyukaiku ini banyak. Kau tau Suho, dia ada seniorku saat sekolah dulu. Dia pemuda kaya raya yang tergila-gila padaku dan saat ini kami dalam proses pendekatan." ujar Jessica penuh rasa bangga.
Mimik muka Luhan berubah seketika saat Jessica mengungkit soal Suho. Terbesit rasa tidak suka dalam hati kecilnya, pemuda itu bangkit dari posisi duduknya lalu melenggang begitu saja. Sebuah tanda tanya besar muncul di benak Jessica melihat perubahan sikap Luhan.
"Sudah hampir malam, sebaiknya kita pulang." kata Luhan dengan nada sedingin es.
"Yakk!! Luhan tunggu." Jessica menyambar sepatunya yang ia letakkan di sampingnya dan mengejar Luhan.
"Aaahhhh." namun langkahnya terhenti saat kaki kirinya tidak sengaja menginjak kerang.
Darah segar tampak mengucur dari lukanya, gadis itu menjatuhkan tubuhnya pada pasir pantai. Melihat darah tiba-tiba membuat mata Jessica berkunang-kunang, sampai akhirnya...
"Sica??" tubuh gadis itu segera di tahan oleh Luhan.
Luhan memegang bahu Jessica dan membuat mata mereka saling bertemu pandang. Buru-buru Jessica mengalihkan pandangannya, kemana saja asal tidak mata Luhan. "Kakimu berdarah." Luhan meraih kaki Jessica dan memindahkan keatas pangkuannya.
Hati-hati Luhan mencabut kerang yang menancap di telapak kaki Jessica kemudian membebatnya menggunakan sapu tangan untuk menghentikan pendarahannya "Kau bisa berdiri?" tanya Luhan.
Luhan berdiri lalu mengulurkan tangannya pada Jessica. Jessica menerima uluran tangan Luhan, hati-hati Luhan membantu Jessica untuk berdiri tapi tiba-tiba
"Aaahhhh...!!"
Luhan segera menahan tubuh Jessica yang nyaris kehilangan keseimbangannya karena luka pada kaki kirinya. Tangan Luhan melingkari punggung Jessica sedangkan tangan gadis itu memeluk pada leher Luhan dan tangan satu lagi mencengkram pergelangan tangan Luhan.
Mata abu-abu milik Luhan bertemu pandang dengan mata hazel milik Jessica. Cukup lama mereka saling menatap dan sama-sama enggan untuk mengakhiri kontak mata itu.
Tanpa berkata apa-apa, Luhan mengangkat tubuh Jessica bridal style dan membawanya meninggalkan pantai. Tangan Jessica yang semula menggenggam pergelangan tangan Luhan kini berpindah ke lehernya, kedua tangan Jessica memeluk leher pemuda itu.
Dengan ragu-ragu Jessica menyandarkan kepalanya pada dada bidang Luhan merasakan detak jantungnya yang beraturan.
Perlahan Jessica menutup matanya, memposisikan kepalanya dengan nyaman. Entah karna lelah atau semilir angin pantai. Tiba-tiba Jessica tertidur dalam gendongan Luhan. Pemuda itu menurunkan pandangannya, senyum lembut menghiasi bibir kemerahannya
.......
.......
...Bersambung...