Kill & Love

Kill & Love
42: Kau Akan Mengerti



Di sebuah mansion mewah. Terlihat seorang gadis meliukkan tubuhnya menuruni tangga dan menghampiri sang Ibu yang sudah menunggunya di meja makan.


Tubuh rampingnya terbalut dress warna gading yang mengikuti lekuk tubuhnya. Rambut pendeknya di beri hiasan jepitan pada sisi kirinya, anting dan kalung berlian turut menyempurnakan penampilannya.


"Ye Won, kau sudah siap. Kemarilah, kita sarapan bersama."


Gadis itu 'Kim Ye-Won' menarik kursi di sebelah Ibunya dan duduk dengan nyaman di sana. Di depannya berbagai hidangan yang mengiurkan tertata dengan rapi di atas meja. Beberapa pelayan berdiri di belakang mereka


"Ma, bagaimana kabar adik tiriku setelah kematian appa dan nenek serta kakeknya? Apa Mama tidak berniat untuk mencarinya?"


Wanita setengah baya itu meletakkan gelas di tangannya kemudian mengulirkan pandangannya pada putrinya itu


"Maksudmu adikmu dari suami kedua, Mama?" Ye Won mengangguk. "Untuk apa? Toh, dari awal Mama memang sudah tidak menginginkannya. Dia adalah hasil dari pemerkkosaan, dan ayahnya adalah orang miskin jadi mama tidak sudi mengakuinya sebagai putra. Dia mau hidup atau tidak, itu bukan urusan Mama."


"Tapi, Ma. Bagaimana jika dia tiba-tiba saja datang dan meminta haknya padamu?"


Wanita itu meletakkan sendok dan garpunya kemudian menumpu kedua lengannya di atas meja. "Tentu saja Mama tidak akan membiarkannya, Mama akan menyingkirkan dia seperti Mama menyingkirkan nenek dan kakeknya."


"Di mata Mama, dia hanyalah sampah yang tidak berharga berbeda denganmu yang sebuah mutiara. Kau adalah intan berlian, kau tau bukan jika Mama sangat menyayangimu. Itulah kenapa Mama menjemputmu saat itu dan membawamu ke rumah ini." ujar wanita itu panjang.


Ye Won tersenyum lebar. "Kau memang Mama yang terbaik."


Untuk sejenak, keheningan mewarnai kebersamaan Ibu dan dan anak itu. Mereka kembali di sibukkan dengan acara sarapan paginya. Ye Won menyantap begitu banyak makanan, begitu pula dengan Ibunya. Setelah acara sarapan selesai, keduanya berdiri dan menuju ruang tamu.


Rupanya di sana sudah ada tamu yang menunggu kedatangan mereka. Ye Won dan Ibunya saling bertukar pandang, di hadapannya berdiri seorang gadis bersurai coklat panjang dalam posisi memunggungi.


"Siapa kau? Dan bagaimana kau bisa masuk ke rumah ini?"


Mendengar ada yang berbicara padanya. Sontak saja gadis itu berbalik badan, mata kedua wanita berbeda usia itu terbelalak saking kagetnya melihat siapa yang datang bertamu ke rumahnya.


"Halo, Mama, Kakak. Lama tidak bertemu." sapa gadis itu seramah mungkin.


"Kau, Jessica?!!"


.


.


.


Setelah mendapatkan apa yang di butuhkan. Jessica pergi meninggalkan rumah milik ayahnya. Ia tidak hanya membawa keluar salah satu mobil mewah yang terparkir di halaman, namun juga uang dan perhiasan milik mendiang Ibunya yang selama ini di kuasai oleh Ibu tirinya juga beberapa aset berharga milik ayaknya.


Jessica tidak rela jika seluruh harta kekayaan ayahnya jatuh ke tangan Ibu serta kakak tirinya. Di mata hukum, tetaplah Jessica yang berhak atas semua kekayaan milik keluarga Tuan Jung mengingat bila Jessica adalah satu-satunya ahli warisnya.


Mobil sport putih itu meninggalkan mansion mewah milik ayahnya. Di ujung jalan sudah ada Luhan yang menunggu kedatangannya. Pemuda itu duduk di atas motor besarnya dengan sebuah putung rokok di tangan kanannya. Luhan membuang putung rokok yang hanya tinggal setengah itu kemudian menginjaknya saat melihat kedatangan Jessica.


"Kau mengemudi sendiri?" Luhan menatap Jessica tak percaya.


"Hm, begini-begini aku mahir dalam berkendara. Buktinya saja aku dapat tiba dengan selamat di lokasi target kita tempo hari."


Luhan mengajak gemas rambut Jessica, lalu pandangannya bergulir pada koper besar yang ada di samping jok kemudi. "Apa itu?"


Jessica menengok kebelakang. "Uang, perhiasan, aset berharga milik papa dan beberapa pakaian, tas serta sepatu milikku yang aku tinggalkan di rumah." ujarnya memaparkan.


"Sebaiknya simpan semua barang-barang berharga itu di bank, itu akan lebih aman. Biar aku menemanimu, dan setelah ini aku akan membawamu ke suatu tempat. Tapi sebelum itu ganti dulu pakaianmu dengan gaun yang sudah aku siapkan ini."


Jessica memicingkan matanya dan menatap Luhan penuh tanya "Untuk apa?"


Luhan mendecih dan memutar matanya jengah. "Sudah jangan bawel, ganti saja nanti kau juga akan tau." tandasnya menegaskan.


Setelah menyimpan semua aset berharganya di bank. Jessica mengikuti Luhan yang berjalan di depannya, motor besar yang di kendarai pemuda itu melaju kencang di jalanan. Jessica sudah mengganti dress nya dengan gaun putih yang telah di siapkan oleh Luhan.


Gaun itu terlihat sederhana namun begitu elegan ketika melekat di tubuh Jessica. Gaun setengah lengan berbahan brokat dan memanjang di bagian ekornya namun pendek di bagian depan memeluk tubuh Jessica dengan sempurna.


Bukan hanya gaun saja, Jessica juga mengganti heelsnya dengan heels putih yang senada dengan gaun yang di pakaiannya. Setelah cukup lama berkendara, motor besar Luhan berhenti di sebuah taman, Jessica keluar dari mobilnya dengan sejuta pertanyaan yang memenuhi kepalanya.


"Sica, aku pergilah dulu dengan JB. Ada hal yang harus aku lakukan."


"Kau siap?" Jessica menatap JB sejenak kemudian mengangguk.


Kedatangan mereka langsung di sambut Dio dan L yang sudah menunggu mereka. Entah apa yang terjadi. Mereka berdua tampak gagah dalam balutan pakaian formalnya, dan setelah satu tahun mengenal mereka ini pertama kalinya Jessica melihat kedua pemuda itu memakai pakaian formal begitu pula JB.


Tidak hanya Dio, L dan JB saja. Ada Bian, Suho, Dokter cantik dan Yunna. Jessica semakin di buat bertanya-tanya dengan keberadaan pendeta di sebuah altar sederhana namun terlihat mewah.


"Dio, sebenarnya ada apa ini?"


"Kau akan segera mengetahuinya nunna. Dan.. nah itu pangeranmu sudah datang."


.......


.......


...Bersambung....