
Selepas kepergian laki-laki itu dan kedua bodyguardnya. Terlihat Jessica menghampiri Luhan dan Sehun , mengajak mereka untuk sarapan bersama
"Kalian berdua duluan saja, aku akan membersihkan diri dulu." kata Luhan seraya melewati keduanya begitu saja.
Menaiki tangga, Luhan pergi ke kamarnya. Sembari menunggu Luhan, Jessica mengecek isi kulkas yang mulai kosong. Gadis itu mencatat barang apa saja yang habis dan perlu ia beli saat berbelanja nanti.
20 menit kemudian Luhan datang dengan wajah yang lebih fresh, rambutnya masih terlihat setengah basah. Pemuda itu tetap terlihat tampan meskipun hanya memakai kaus putih tanpa lengan yang di bungkus rompi hitam bertudung.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tegur Luhan pada Jessica.
Gadis itu membalikkan tubuhnya dan mendapati Luhan berdiri di sampingnya."Mencatat belanjaan," jawabnya sambil menunjukkan daftar itu pada Luhan.
"Hyung, Nunna cepat kita sarapan, aku sudah sangat lapar." seru Dio sambil memukul-mukul pelan piringnya dengan sendok dan garpu.
Jessica mendengus geli melihat tingkah Dio yang seperti anak kecil itu. Sama-sama melenggangkan kakinya, Luhan dan Jessica berjalan beriringan menuju meja makan.
Pagi ini mereka sarapan hanya bertiga saja karna L sudah pergi sejak pagi, sedangkan Yunna. Gadis itu masih belum bangun, dan tidak ada satu pun yang berniat membangunkannya apalagi mengajak gadis itu untuk sarapan bersama setelah insiden kemarin pagi.
.......
.......
Setelah sarapan dan mencuci semua piring serta wadah yang habis di gunakan. Jessica bergegas mengganti dress rumahan dengan pakaian yang biasa ia pakai ketika bepergian. Tubuh rampingnya terbalut dress brokat putih gading berlengan, rambut panjangnya di biarkan tergerai indah dan flat shoes cantik berhiaskan tiara dan tak ketinggalan tas kecil yang menyampir di bahu kanannya.
Kedatangan Jessica cukup menyita perhatian dua pemuda yang sedang duduk santai di ruang tengah dan seorang gadis bersurai hitam legam yang sejak tadi menempel pada Luhan.
Melihat Yunna yang terus menempel pada Luhan membuat perasaan Jessica tidak karuan, rasanya ada ketidak relaan saat gadis itu memeluk mesra lengan kiri Luhan. Namun Jessica melihat ketidak nyamanan Luhan karna sikap gadis itu. Jessica tidak ingin terlalu ambil pusing dan memikirkannya.
"Nunna, kau mau pergi?" tegur Dio pada Jessica.
"Hm, banyak persediaan makanan yang mulai menipis." ucapnya.
Luhan melepaskan pelukan Yunna lalu bangkit dari duduknya. "Aku akan mengantarmu," ucapnya lalu berlalu begitu saja.
Yunna yang merasa tidak terima segera berdiri dan bergegas menyusul Luhan. "Aku juga ikut." gadis itu melirik sinis Jessica, Jessica memutar matanya jengah dan melewati keduanya begitu saja.
Tau Luhan yang akan mengemudikan mobilnya. Buru-buru Yunna membuka pintu depan dan duduk manis di samping kemudi. Namun dugaannya salah, bukan Luhan melainkan Dio. Karena Luhan duduk di jok belakang bersama Jessica
"Yakkk,,,,!!! Setan cadel, anak ayam, apa yang kau lakukan di sini? Itu tempat untuk Luhan oppa jadi turunlah." teriak Yunna sambil mendorong lengan Dio.
"Enak saja, Luhan hyung sendiri yang memintaku untuk mengemudikan mobilnya. Jadi kau tidak memiliki alasan untuk memintaku keluar." ujarnya menegaskan.
"Terlambat, karna mobil sudah berjalan."
"YAKKK....!!!"
Jessica dan Luhan sama-sama menghela nafas, menggelengkan kepalanya melihat tingkah mereka berdua. Malas mendengar perdebatan Dio dan Yunna yang membuat sakit telinga. Luhan mengeluarkan handset dari dalam saku rompinya.
Luhan memasang satu pada telinganya dan satu lagi pada telinga Jessica. Memaksa gadis itu untuk menoleh padanya, Jessica tersenyum tipis begitu pula sebaliknya. Jessica tidak mendengar music apa pun sampai Luhan mengangkat ujung handsetnya yang tidak tersambung pada apa pun.
30 menit kemudian mereka tiba di pusat perbelanjaan. Jessica langsung mengambil troli yang akan meringankan pekerjaannya selama berkeliling mencari barang-barang yang ia butuhkan.
Suasana di sana di sana menunjukkan tidak ada perbedaan antara hari-hari biasa dengan akhir pekan. Suasananya tetap saja ramai , terlihat aktifitas penduduk yang bertebaran di pusat kota. Tempat pertama yang Jessica singgahi adalah rak buah-buahan dan sayuran segar.
Gadis itu terlihat memasukkan beberapa jenis buah seperti, apel, jeruk, pisang, anggur dan stroberi. Tak lupa sayuran segar seperti selada, wortel, sawi putih, kentang dan masih banyak lagi. Sehun ikut mengambil peran dengan mengambilkan beberapa barang yang sudah ada di dalam catatan Jessica demi meringankan pekerjaan gadis itu.
Lalu Jessica mendorong trolinya yang menyediakan daging segar, kornet , telur dll. Jessica memasukkan sedikitnya 5 kotak berisi daging segar dan potongan salmon lalu memasukkan kedalam trolinya. Lalu berpindah pada kornet yang ada di rak paling atas, Jessica harus berusaha dengan susah payah karna tangannya tidak sampai.
"Jika sulit, seharusnya kau meminta bantuan!" Jessica menolehkan wajahnya dan sedikit mendongak, matanya langsung terkunci pada manik abu-abu milik Luhan yang berdiri tepat di belakangnya tanpa jarak.
Punggungnya menyatu sempurna dengan dada bidang Luhan, sekujur tubuh Jessica seperti kehilangan sel-selnya hingga kedua kakinya bertransformasi menjadi jelly. Buru-buru Luhan menahan perut Jessica yang hampir saja jatuh lemas. Tangan Jessica berpegangan pada pergelangan tangan Luhan, lagi-lagi terjadi kontak fisik antara mereka berdua secara tidak di sengaja.
"Apa-apaan ini? Oppa, kenapa kau malah memeluknya?" Yunna datang sambil marah-marah. Gadis itu mendorong Jessica dan menjauhkannya dari Luhan "Dan kau juga, dasar boneka rongsokan, di mana urat malumu? Luhan Oppa ini adalah calon suamiku jadi berhentilah menggodanya." amuk Yunna.
Jessica mendengus seraya memutar matanya jengah. Mengabaikan mereka berdua. Jessica melanjutkan acara belanjanya. Ia hampir mendapatkan semua yang di butuhkan, Dio juga sudah kembali dengan beberapa barang yang kemudian ia satukan di dalam troli Jessica.
Yunna terus mepet pada Luhan. Gadis itu memeluk lengan terbuka Luhan dengan erat, bahkan ia tidak peduli dengan peringatan Luhan. "Oppa, bagaimana jika kau menemaniku berbelanja baju, tas dan sepatu? Dan apa kau tidak keberatan jika aku meminta kau membelikannya untukku?" tanya Yunna namun tidak di hiraukan oleh Luhan.
Pemuda itu menyentak tangan Yunna dan mengabaikannya "Yakkk...!!! Oppa, jangan tinggalkan aku."
Tanpa sepatah kata pun, Luhan meraih pergelangan tangan Jessica dan membawanya meninggalkan pusat perbelanjaan. "Kau urus semua belanjaan Jessica dan gadis merepotkan itu, gunakan card ku untuk membayar semuanya." ucap Luhan dan pergi begitu saja.
Awalnya Jessica hendak protes karna sikap Luhan, tapi hal itu Jessica urungkan melihat tatapan tajam Luhan. Akhirnya ia memilih mengalah dan pasrah kemana Luhan akan membawanya.
.......
.......
...Bersambung...
.