
Luhan tau tentang rencana Jessica yang ingin memburu jaringan penjahat yang akhir-akhir ini sangat meresahkan banyak orang terutama para gadis muda. Luhan sudah mentang keras keinginan Jessica untuk bertindak dan membinasakan jaringan itu, bukan hanya Luhan. L dan Dio pun tau dan mereka satu pendapat dengan Luhan.
"Sakitt... kenapa malah menjitak ku?" keluh Jessica sambil mencerutkan bibirnya.
Tangannya sibuk mengusap kepalanya yang baru saja menjadi pendaratan jitakan Luhan."Kenapa kau susah sekali di beri tau? Bagaimana jika teman-teman dari orang yang kau habisi itu tiba-tiba datang dan kau tidak menyadarinya? Bagaimana jika kau yang justru menjadi korban mereka? Berhentilah bertindak tanpa berfikir panjang dan membuat semua orang cemas." cercah Luhan memberi nasehat.
Jessica menundukkan wajahnya dan tidak berani menatap mata Luhan yang berkilat tajam.
Dio dan L hanya bisa diam mendengar nasehat Luhan untuk Jessica. Diam-diam L tersenyum tipis, sementara Dio yang masih tidak menyadarinya hanya bisa menatap keduanya bingung
"Nunna, Hyung, jangan main kucing-kucingan lagi. Katakan saja dengan terus terang, sebenarnya kalian itu berkencan atau tidak?" tanya Dio memastikan.
Alih-alih sebuah jawaban, justru sebuah jitakan yang Dio dapatkan. "Dasar otak udang, selain hal-hal berbau mesum apa sih yang ada di dalam otakmu. Sudah jelas mereka berkencan, masih saja bertanya." tutur L gemas.
Sontak saja Dio menoleh dan menatap keduanya tak percaya sebelum kembali fokus pada jalanan di depannya "Hueee...?? Benarkah itu? Lalu mana pajak untuk kami?" tagih Dio pada pasangan kekasih itu.
"Tenang, kau pasti akan mendapatkannya. Setibanya di rumah aku akan memberikan pajak untukmu." sahut Luhan menimpali.
Dio mengusap tengkuknya. "Kenapa aku mencium bau-bau tidak mengenakan? Hyung, aku tarik kembali ucapanku, piss." Dia mengangkat tangannya, jarinya membentuk huruf V. Luhan menyeringai penuh kemenangan, sementara Jessica malah terkikik geli.
Dio menghentikan mobilnya di sebuah bar yang cukup ternama di kota Seoul, Golden bar. Dio membuka pintu di samping kirinya di ikuti L dan pasangan baru itu. Dio berencana untuk merayakan resminya hubungan Luhan dan Jessica, Dio sangat bahagia mengetahui jika mereka berdua benar-benar resmi berkencan
"Hyung Nunna kita perlu merayakannya. Dan malam ini aku yang akan mentraktir kalian bertiga." ucap Dio lalu menarik pasangan itu ke dalam bar di susul L yang menyusul di belakang.
Irama musik yang menghentak keras menyabut kedatangan ke empat muda-mudi itu. Dio dan L langsung menuju dance floor untuk bergabung dengan pengunjung yang lain, sementara Luhan dan Jessica berjalan menuju ruangan yang sedikit tertutup yang jauh dari kebisingan.
Seorang pelayan menghampiri mereka untuk mencatat pesanan pasangan itu. Setelah menentukan minuman yang mereka inginkan. Pelayan itu pergi menuju konter bar untuk mengambil pesanan Luhan dan Jessica, tak sampai 5 menit. Pelayan itu datang dengan beberapa botol minuman beralkohol yang kemudian ia letakkan di atas meja.
"Kenapa kita tidak duduk di konter bar saja?" Jessica menatap Luhan bingung,
"Hm, jadi kau tidak ingin ada orang lain mengganggu kita?" bisik Luhan dan kembali menyatukan bibir mereka.
Luhan mellumat bibir Jessica , atas dan bawah bergantian dengan mata mereka saling mengunci. Kepala mereka bergerak seirama, saling mellumat dan berbagi rasa cinta yang menggebu-gebu di hati mereka.
Luhan menekan tengkuk Jessica agar ciuman itu tidak mudah terlepas, bibir mereka saling bergulat panas dengan lidah saling membelit dan berbagi saliva di dalam mulut hangat Jessica. Luhan menuntun lidah Jessica untuk bermain di luar mulutnya dan saling melilit.
Jessica mendesahh saat kedua tangan Luhan merayap di atas punggungnya yang hanya tertutup kain tipis bermotif bunga. Jessica mencengkram lengan Luhan yang terbuka saat bibir Luhan bergerak turun menuju lehernya. Luhan mengecup dan menjilati leher itu dengan penuh nafsu.
Jessica menggeram menahan sensasi luar biasa yang membakar tubuhnya. Dan mereka menghentikan aksi panasnya saat sama-sama menyadari jika mereka hampir saja melampaui batas.
"Sica Maaf, aku sungguh-sungguh tidak bermaksud untuk merendahkanmu." sesal Luhan.
Jessica menggeleng. "Tidak seharusnya kau meminta maaf. Bukankah aku adalah milikmu, dan kau adalah milikku. Kita saling memiliki." Jessica kembali mengalungkan kedua tangannya pada leher Luhan lalu mencium singkat bibirnya.
"Aku tau, tapi aku tidak ingin melakukannya sebelum aku mempersunting mu. Aku tidak ingin kau kehilangan mahkota berhargamu sebelum waktunya, aku memang seorang bajingan dan bukan pria baik-baik, tapi aku tidak akan menghancurkan masa depan seorang gadis apalagi gadis itu adalah kekasihku sendiri." ujar Luhan sesaat setelah Jessica melepaskan tautan bibirnya.
Gadis itu tersenyum tipis dan berhambur memeluk Luhan. "Terimakasih Luhan, aku tidak salah jatuh cinta padamu. Meskipun kedua tanganmu selalu berlumur darah, tapi aku tau memiliki hati yang tulus. Aku beruntung menjadi kekasihmu." Jessica menyandarkan kepalanya di atas dada bidang Luhan, pemuda itu tersenyum tipis. Mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Jessica.
.......
.......
.......
...Bersambung...