Kill & Love

Kill & Love
13: Dasar Gadis Merepotkan!!



Jam di dinding baru menunjukkan pukul 05.30 pagi, bahkan matahari masih terlihat malu-malu untuk menunjukkan eksistensinya. Di sebuah rumah sederhana namun terlihat nyaman, terlihat seorang gadis berparas cantik bersurai coklat gelap sedang berkutat di dapur. Dia hendak membuat sarapan untuk ketiga pemuda yang tinggal satu atap dengannya.


Memasak dan bersih-bersih sudah menjadi rutinitasnya setiap harinya, apa yang dia lakukan tidaklah seberapa di bandingkan dengan apa yang telah Luhan, L dan Dio lakukan untuknya. Karena berkat mereka bertiga ia tidak perlu menjadi gelandangan karena tidak memiliki tempat tinggal.


"Ahhh....!!! Kepalaku.."


Gadis itu 'Jessica' mencengkram ujung meja saat pusing yang sangat luar biasa kembali mendera kepalanya. Meskipun dalam keadaan kurang sehat, namun gadis itu tetap memaksakan diri untuk membuat sarapan karna tidak ingin membuat seluruh penghuni rumah itu kelaparan karena tidak ada makanan.


"Dasar gadis merepotkan." nyaris saja Jessica kehilangan keseimbangannya jika saja tidak ada seseorang yang lebih menahan tubuhnya.


Jessica mengangkat wajahnya dan matanya terkunci langsung pada sepasang mutiara abu-abu milik Luhan yang menatapnya datar. Salah satu tangan Jessica memeluk pada leher laki-laki itu, sedangkan tangan satu lagi menggenggam pergelangan tangan pemuda bertatto tersebut.


Buru-buru Jessica mengakhiri kontak matanya dengan Luhan dan melepaskan pelukan pemuda itu pada pinggangnya. Menatap mata Luhan terlalu lama membuatnya merasa gugup, Jessica sendiri tidak tau kenapa tiba-tiba ia merasa aneh saat melakukan kontak mata dengannya.


"Nunna, apa yang sedang kau lakukan di sini? Bukankah seharusnya kau istirahat di kamarmu." omel seseorang dari arah belakang.


Luhan beranjak dari dapur saat melihat kedatangan Dio, bukan karena ia merasa cemburu ataupun kesal melihat kedekatan mereka berdua, tapi karena Luhan merasa sudah tidak memiliki urusan apa pun lagi dengan gadis itu. Luhan membuka lemari pendingin dan mengeluarkan sebotol air mineral dari dalamnya.


Mata abu-abunya menatap Jessica yang tengah diomeli habis-habisan oleh kedua rekannya 'L dan Dio'. Luhan mendengus geli melihat mereka berdua yang sudah seperti nenek-nenek yang sedang mengomeli cucunya, mengabaikan mereka bertiga dan kembali ke kamarnya.


"Berhentilah bersikap keras kepala Jess, kembali ke kamarmu dan urusan dapur serahkan saja pada, Dil. Dia ahlinya dalam hal masak memasak dan bersih-bersih rumah."


"MWO...?! Yakkkk!!! Hyung, kenapa semua pekerjaan jadi kau limpahkan padaku semua? Kenapa tidak kau sendiri dan Luhan hyung saja?" protes Dio tak terima


L mendengus seraya memutar matanya malas, jika di teruskan perdebatannya dengan Dio pasti tidak akan ada ujungnya. Pemuda itu akan membalas semua ucapannya."Yak...!!! Kenapa aku malah di tinggalkan?" seru Dio sambil menghentakkan kakinya kesal.


Baru saja Dio hendak memotong sayuran yang akan ia masak namun ketukan pada pintu mengalihkan perhatiannya, pemuda itu meletakkan pisaunya dan berjalan menuju pintu.


"Permisi Tuan, saya datang mengantarkan pesanan Tuan Luhan!" kata kurir yang mengantarkan makanan yang di pesan oleh Luhan.


Dio menerima kotak makanan itu dan memberikan sejumlah uang pada kurir tersebut lalu membawa makanan-makanan itu masuk kedalam rumah. "Huaa...!! Hyung kau penyelamatku." seru Dio lalu menata makanan-makanan itu di atas meja.


Setelah siap, Dio memanggil semua penghuni rumah termasuk Jessica untuk sarapan bersama. Jessica duduk bersebelahan dengan Luhan, sesekali Jessica melirik pemuda itu melalui ekor matanya.


Setelah 1 tahun tinggal satu atap dengannya, Jessica baru menyadari jika Luhan sangat tampan. Sepasang bola mata yang menawan, hidung mancung, bibir merah yang menggoda, meskipun ada tatto di pipi kanannya namun hal itu tidak mengurangi ketampanannya, justru tatto itu menambah kesan tersendiri bagi dia.


Membuat gadis itu gelagapan dibuatnya."Ke..ke..na..pa kau menatapku seperti itu?" tanya Jessica terbata. Ia merasa kurang nyaman di tatap jahil seperti itu oleh si bontot.


Dio menggeleng. "Tidak, kekekekk." lalu ia terkekeh melihat pipi Jessica yang merona, terlihat imut dan menggemaskan.


Luhan tidak memberikan respon apa pun, sementara L menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya. Hal semacam itu bukanlah sesuatu yang baru, melihat mereka berdua berdebat sudah menjadi makanan mereka sehari-hari.


Jessica meletakkan sendok dan garpunya karna getaran pada ponselnya. Senyum manis menghiasi bibir tipisnya melihat nama yang tertera di layar ponselnya. "Ada apa, Bian?"


"Sica, bagaimana keadaanmu sekarang?"


"Tidak perlu cemas, aku sudah tidak apa-apa."


"Benarkah? Apa kau tau bagaimana cemasnya aku. Sampai-sampai aku tidak bisa tidur karena terlalu mencemaskanmu. Besok kita ketemu, ya."


"Dasar kau ini. Baiklah, besok kita bertemu di cafe biasa. Aku juga merindukanmu," Jessica memutuskan sambungan telfonnya dan meletakkan benda tipis itu di atas meja.


"Nunna, sepertinya kau sangat dekat dengan pemuda tiang itu. Bahkan aku sering sekali melihat kalian jalan berdua dan kalian terlihat cocok saat bersama, ngomong-ngomong apa kalian berdua berpacaran??" tanya Dio penuh rasa ingin tau.


Namun pandangannya terkunci pada wajah Luhan yang datar tanpa ekspresi, Dio menyeringai melihat ekspresi pemuda bertatto itu. Sebuah ide cemerlang muncul di otak cerdas Sehun. "Oya, aku mendukung sekali kau dengan pemuda tiang itu. Nunna, kau cantik dan dia tampan, nanti kalau menikah dan punya anak pasti anak kalian bakal lucu-lucu." ujar Dio.


"Dio, sebenarnya aku....??"


Dentingan sendok dan piring yang saling bersentuhan mengalihkan perhatian Jessica, L dan Dio. Ketiganya mengangkat wajahnya.


"Aku sudah selesai." kata Luhan dan berlalu begitu saja.


L dan Dio saling bertukar pandang. L merasa aneh dengan sikap Luhan yang tiba-tiba menjadi aneh, sementara Dio menyeringai misterius. Lalu sama-sama mengangkat bahunya acuh. Menghiraukan Luhan, keduanya melanjutkan sarapannya yang sempat tertunda, begitu pula dengan Jessica.


.......


.......


...Bersambung....