
Di pagi yang cerah dan matahari yang sudah membumbung tinggi. Seorang pemuda yang hanya memakai jeans panjang hitam tanpa atasan masih terlelap dalam tidurnya. Bahkan ia tidak peduli meskipun silau cahaya matahari mulai masuk dan menerangi ruangan itu. Sampai terdengar ketukan keras pada pintu kamarnya yang terdengar nyaring di telinganya.
"Hyung, cepat bangun , ada tamu untuk kita." seru keras suara cadel dari luar kamarnya.
"Ck, dasar anak ayam. Mengganggu saja." dengan enggan pemuda itu bangkit dari posisi berbaringnya, meraih singlet hitam yang ia letakkan asal di sandaran sofa yang menjadi tempat tidurnya.
Pemuda itu mengerjapkan matanya beberapa kali menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam retinanya, lalu pandangannya bergulir pada ranjang besar yang ada di tengah ruangan. Ranjang itu sudah kosong dan terlihat rapi, pandangannya beralih pada jam yang menggantung di dinding
"Ck, baru jam 7, memangnya orang gila mana yang bertamu sepagi ini." decaknya kesal. Pemuda itu berjalan kearah kamar mandi untuk mencuci muka sebelum keluar menemui tamunya.
"Ahhh.." Luhan meringis menahan sakit saat melepas kasa yang menutupi luka di keningnya.
Luka itu Luhan dapatkan ketika ia berkelahi melawan para bodyguard targetnya dan beberapa polisi yang mencoba menghentikan aksi sadisnya. Tapi luka itu tidaklah sebanding dengan kemenangan yang ia dan timnya dapatkan.
Meskipun sudah memasuki hari ke 3, namun luka itu masih belum kering sepenuhnya. Bercak darah masih terlihat membasahi kasanya "Sial, sepertinya lukanya cukup dalam," keluhnya mendumal.
Tokk...!!! Tokk...!!! Tokk..!!!
"Hyung, kenapa kau lama sekali? Cepatlah, tamunya ingin segera bertemu denganmu."
Luhan memutar matanya jengah mendengar teriakan itu lagi. Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, Luhan menempelkan kembali perban baru di atas lukanya kemudian membebatnya, terlihat perban melingkari dahi Luhan yang sedikit menonjol tepat di atas alis kanannya karna kasa yang di gunakan sebagai lapisan dalamnya.
Luhan menutupi wajahnya dengan cadar dan topi. Di tengah langkahnya Luhan menyambar jaket abu-abu bertudung yang tergantung di pintu kamarnya dan melenggang keluar.
"Ck, berisik sekali kau ini. Jika dia tidak sabar menungguku, minta saja dia untuk pulang. Dan lagi pula bukannya masih ada L yang bisa menangani hal ini."
"Nah itu masalahnya, Hyung. L, Hyung sedang pergi untuk menemui Dokter Nunna, katanya kepalanya pusing tapi aku yakin itu hanya alasannya saja biar bisa bertemu dokter cantik itu. Dan satu lagi hyung, memintanya pulang sama saja dengan membuang sumber uang kita." ujar Dio panjang lebar.
"Ck, dasar mata duitan."
"Hidup ini adalah uang, hyung tanpa uang kita tidak mungkin bisa hidup. Lagi pula kita bekerja juga demi uang," Dio buru-buru menghentikan ocehannya melihat tatapan mematikan Luhan. Bulu kuduk Dio berdiri seketika melihat sorot mata berbahaya itu.
Sebelum menemui tamunya, Luhan lebih dulu pergi keruang makan. Dari jarak 3 meter ia melihat Jessica yang sedang sibuk berkutat dengan spatula-nya, gadis itu tengah menyiapkan sarapan untuk semua orang. Luhan membuka lemari pendingin di dekat pintu dapur lalu mengeluarkan sebotol air mineral dari dalam-nya lalu meneguknya.
"Pagi,"
Sapaan lembut itu mengalihkan perhatian Luhan. Pemuda itu menoleh dan mendapati Jessica tengah tersenyum manis padanya
"Aku sudah menyiapkan kopi pahit untukmu, kau bisa meminumnya setelah menemui tamumu." ujar Jessica yang hanya di balas anggukan oleh Luhan. Meletakkan botol itu di atas kulkas, Luhan melenggang meninggalkan dapur.
.......
.......
Dari kejauhan Luhan melihat seorang pria berpenampilan rapi dengan di temani dua bodyguardnya sedang menunggunya di ruang tamu. Pemuda bertatto itu mendengus kasar melihat pria itu meletakkan kedua kakinya di atas meja ruang tamunya.
"Apa kau tidak pernah di ajarkan sopan santun oleh orang tuamu ketika bertamu ke rumah orang lain?" ucap Luhan dengan nada terlewat datar.
"Tidak usah berlebihan anak muda, lagi pula ini hal sepele saja."
"Tapi aku memiliki aturan sendiri. Ini adalah rumahku, dan kau tidak memiliki hak untuk berbuat sesuka hatimu. Jika kau tidak suka sebaiknya kau pergi atau kau rela kehilangan kedua kakimu di sini." ujar Luhan menegaskan.
'Glukk..' pria itu menelan salivanya sedikit bersusah payah. Ia merasa aura tidak mengenakan terpancar dari sorot mata Luhan yang menatapnya tajam. Keringat dingin seketika mengucur membahasi hampir di sekujur tubuhnya.
Laki-laki itu mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya dan mengusap keringat di dahinya. Ia merasa ngeri sekaligus takut, pasalnya yang ia hadapi kali ini bukan anak muda biasa melainkan pimpinan kelompok pembunuh bayaran kelas kakap yang di kenal tidak memiliki hati dan nurani.
Namun siapa sangka bila kelompok pembunuh bayaran yang memiliki julukan 'Red Devil' adalah pria-pria muda yang memiliki usia di bawah 30 tahun. L adalah anggota tertua dalam kelompok itu, usianya baru menginjak 27 tahun, Dio anggota termuda usianya baru 23 tahun, sementara Jessica satu-satunya wanita dalam tim Luhan usianya baru 24 tahun, dan Luhan sendiri yang merupakan ketua kelompok itu baru berusia 25 tahun.
Mereka ber 4 adalah pembunuh bayaran yang terkenal licik, cerdik dan lincah. Mereka memiliki ketampanan dan kecantikan di atas rata-rata, dan Jessica memiliki kecantikan bak boneka barbie. Sangat mustahil bila orang akan mengira bila mereka berempat adalah kelompok pembunuh bayaran berdarah dingin.
Mengungkap kejahatan mereka bukanlah perkara yang mudah. Bahkan agen terlatih pun sangat sulit , tidak ada yang tau siapa Red Devil sebenarnya. Baik itu polisi, para korbannya atau orang-orang yang menyewa mereka.
Mereka sangat cerdik dalam hal menyembunyikan barang bukti, ketika sedang beraksi, mereka selalu menggunakan penyamaran untuk menyembunyikan identitas mereka yang sebenarnya. Hanya satu jejak yang mereka tinggalkan di tubuh para korbannya, sebuah ukiran inisial dan tak jarang mereka menulis kata 'Red Devil'
"Katakan, apa tujuanmu menemuiku?" tanya Luhan to the poin.
"Aku membutuhkan bantuan kalian," pria itu menyodorkan sebuah map pada Luhan yang berisi foto-foto calon targetnya "Aku ingin kalian melenyapkan wanita ini. Dia bernama Via Kim, dia adalah wanita simpananku. Dia menuntut agar aku segera menikahinya, dan jika kalian berhasil menghabisi nyawanya, aku akan memberikan bayaran tinggi pada kalian."
"Tidak masalah asalkan bayarannya sesuai, maka semua bisa di atur." ucap Luhan.
"Ini uang mukanya, sisanya akan ku berikan setelah pekerjaan kalian selesai." Luhan segera mengambil amplop itu dan melihat jumlahnya, bukannya merasa senang. Luhan malah melemparkan amplop tersebut pada laki-laki itu. "Kenapa?"
"Apa kau ingin mempermainkan ku? Ambil kembali uangmu dan pergilah."
"Tunggu."
Luhan menghentikan langkahnya karna seruan laki-laki itu. Lantas ia berbalik badan dan menatap pria itu penuh tanya "Apa lagi?" tanya Luhan sedingin es.
"Aku akan membayar kalian setengahnya tapi lakukan tugas ini secepatnya." pria itu menyerahkan koper yang penuh dengan uang pada Luhan. Luhan membuka koper itu dan menyeringai puas.
"Nah begini kan enak. Pulanglah, lusa kau sudah mendapati mayat wanita itu terapung di sungai Han."
.......
.......
...Bersambung....